Apa Itu Evaporasi & Perannya Dalam Siklus Hidrologi

by Shara Nurrahmi
0 comment 18 views
Apa Itu Evaporasi?

Secara harfiah, evaporasi merujuk pada penguapan. Penguapan yang dimaksudkan disini adalah penguapan air. Yang mana penguapan air tersebut bisa berasal dari permukaan air, tanah, serta bentuk permukaan bukan vegetasi lainnya melalui proses fisika.

Adapun dua unsur utama yang dibutuhkan dalam proses evaporasi, yakni energi radiasi atau matahari serta ketersediaan dari air itu sendiri. Umumnya, penguapan sedemikian rupa dapat terjadi di tubuh perairan, seperti laut, waduk, danau, maupun sungai. Selain itu, bisa pula terjadi pada permukaan tanah serta tumbuh-tumbuhan yang biasanya disebut sebagai transpirasi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya evaporasi, yakni temperatur dari air serta udara, kelembaban udara, kecepatan dari tiupan angin, tekanan udara, juga intensitas matahari. Yang juga menarik, terdapat kombinasi antara proses evaporasi dengan transpirasi. Yang mana sering disebut sebagai evapotranspirasi. Biasanya, proses evapotranspirasi ini bisa terjadi dalam dua keadaan berbeda.

Pertama, yaitu evapotranspirasi potensial. Ya, proses ini terjadi saat terdapat cukup air selama berlangsungnya. Sementara itu, terdapat pula evapotranspirasi aktual. Dalam hal ini, merujuk pada keadaan pemberian air seadanya. Hilangnya air melalui proses evaporasi serta transpirasi bisa mempercepat terjadinya kekeringan serta penyusutan debit sungai ketika musim kemarau tiba. Hal sedemikian ini terjadi pada wilayah yang beriklim tropis.

Menurut pakar hidrologi, kehilangan air akibat evaporasi dapat digolongkan menjadi dua arti. Yakni, evaporasi dari permukaan atau permukaan air secara langsung dari sungai, danau, maupun badan air lainnya. Lalu, ada pula kehilangan air yang terjadi melalui vegetasi dari berbagai proses intersepsi dan transpirasi.

Evaporasi & Perannya Dalam Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi disini dapat diartikan sebagai siklus air. Anda mungkin sudah tidak asing lagi mengenai siklus tersebut. Pada sekolah dasar, umumnya dikenal sebagai proses terjadinya hujan. Yang mulanya diawali dari evaporasi atau penguapan.

Setelah air menguap dari berbagai permukaan air, baik itu laut, sungai, danau, waduk, dan sejenisnya. Air juga bisa berasal dari vegetasi berbagai tanaman. Kemudian, air akan berubah menjadi uap air. Setelahnya, terjadi proses kondensasi. Pada proses ini, uap air tadi akan berkumpul menjadi satu membentuk awan. Nantinya, awan tersebut akan mengalami presipitasi atau turunnya air hujan ke bumi.

Baca :   Memahami Cara Kerja Kromatografi

Dalam siklus hidrologi, terdapat tiga pembagian. Yakni, siklus pendek, sedang, dan menengah. Secara singkatnya, pada siklus pendek, air hujan akan turun tepat di atas laut dimana awan terbentuk. Sementara untuk siklus menengah, awan akan tertiup angin hingga hujan jatuh di dataran tinggi, bukan di wilayah sekitar awan itu terbentuk. Yang terakhir, siklus panjang, artinya awan akan terbawa menjadi gletser hingga turun menjadi salju.

Evaporasi Ditinjau dari Siklus Hidrologi

Apabila diilustrasikan, air yang terpapar panas matahari secara terus menerus akan menguap menjadi uap air. Hingga akhirnya terjadi proses evaporasi.

Usai hujan jatuh ke bumi dalam bentuk air hujan, nantinya air itu akan terserap kembali ke tanah, atau bisa pula langsung terjatuh ke atas permukaan air. Terserapnya air ke tanah bisa menjadi sumber air bersih, sehingga tidak jarang yang membangun sumur pada daerah-daerah tersebut. Air pun ada yang kembali ke laut, sampai akhirnya terjadi evaporasi, kondensasi, dan presipitasi kembali.

Ya, bertajuk sebagai siklus hidrologi yang merujuk pada suatu siklus, tentunya masing-masing proses di dalamnya saling berkaitan. Serta, akan terjadi secara terus menerus tanpa terputus. Dalam siklus hidrologi, air hujan yang jatuh akan kembali mengalami siklus yang sama. Sehingga, air di bumi selalu tersedia melalui siklus sedemikian rupa. Akan tetapi, pengurangan debit air pada sungai, serta tempat-tempat permukaan air lainnya ketika musim kemarau berpotensi menghadirkan kekeringan di bumi. Pasalnya, matahari begitu terik, sementara air semakin berkuran, dan hujan jarang terjadi.

Peran Penting Evaporasi

Evaporasi berperan penting dalam siklus hidrologi. Begitu pula dengan proses-proses lainnya yang ada dalam siklus ini. Tanpa adanya evaporasi, maka awan tidak terbentuk. Akibatnya, hujan pun tidak akan jatuh ke bumi.

Maka dari itu, evaporasi serta seluruh proses dalam siklus hidrologi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ibaratnya, jika tidak ada penguapan air, otomatis air tidak bisa mengalami kondensasi. Pada akhirnya, hujan menjadi tidak kunjung turun. Sama halnya manakala terdapat komponen yang menghilang dari siklus air, dapat menyebabkan keseimbangannya akan terganggu.

Bukan hanya evaporasi, melainkan juga proses-proses lainnya. TIdak terkecuali kondensasi dan presipitasi. Tanpa adanya kondensasi, bagaimana awan bisa terbentuk? Sementara, jika tidak ada presipitasi, hujan juga tidak akan jatuh ke bumi. Jadi, boleh dikatakan selaras seperti komponen-komponen dalam suatu mesin yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dalam siklus ini pun sama.

Aspek Penting Evaporasi

Terdapat dua aspek yang sangat penting dalam proses ini. Apa saja komponen yang dimaksudkan? Jawaban atas pertanyaan tersebut terdapat dalam paparan di bawah ini. Maka dari itu, yuk simak selengkapnya sampai akhir.

Baca :   Pengertian Bunyi, Cara Merambat, Sifat dan Jenisnya

Radiasi Matahari

Pertama, yakni radiasi matahari. Sebagian dari radiasi gelombang pendek atau sering disebut shortwave radiation matahari akan diubah ke dalam bentuk energi panas pada tanaman, air, serta tanah. Nantinya, energi panas tersebut akan menjadi penghangat untuk daerah sekitar yang melingkupinya. Panas yang digunakan untuk menghangatkan berbagai partikel dari material di udara tanpa mengubah bentuk aslinya disebut panas yang tampak atau sensible heat.

Selain untuk hal tersebut, sebagian energi matahari pun diubah menjadi tenaga mekanik. Yang mana tenaga mekanik sedemikian rupa akan membuat perputaran udara serta uap di atas permukaan tanah terjadi. Hal ini akan mengakibatkan udara yang berada di atas permukaan tanah menjadi jenuh yang berimplikasi pada tetap mempertahankan tekanan uap air yang tinggi dalam permukaan bidang evaporasi.

Secara singkatnya, tanpa adanya panas matahari, penguapan tidak dapat terjadi. Sebab, yang disebut penguapan merujuk pada perubahan wujud dari cair menjadi gas. Sama halnya dengan evaporasi yang menjadikan air berubah menjadi titik-titik air di udara. Karenanya, eksistensi dari panas matahari sangat mempengaruhi kelangsungan proses evaporasi.

Ketersediaan Air

Berikutnya, yaitu ketersediaan dari air. Dalam evaporasi, dibutuhkan air serta persediaan air agar proses tersebut bisa terjadi. Permukaan dari bidang evaporasi yang kasar akan mendorong laju evaporasi lebih tinggi dibandingkan bidang permukaan yang rata. Pasalnya, dalam bidang permukaan yang kasar besar dari turbulent akan mengalami peningkatan.

Tidak berbeda dari matahari, tidak adanya air juga menyebabkan tidak bisa berlangsungnya proses evaporasi. Sebab, tidak terdapat aspek yang akan mengalami evaporasi itu sendiri. Karena itu, ketersediaan dari air menjadi aspek yang penting pula.

Faktor-Faktor yang Menentukan Evaporasi

Selain aspek penting yang mempengaruhi terjadinya evaporasi, terdapat juga beberapa faktor yang menentukan evaporasi. Adapun penjelasan lengkapnya terdapat dalam uraian di bawah ini:

1. Panas

Yang pertama adalah panas. Panas dibutuhkan untuk mengubah bentuk dari zat cair menjadi zat gas. Dalam proses penguapan atau evaporasi, secara alamiah panas matahari akan menjadi sumber energi panas. Tidak adanya panas yang cukup, dapat menghambat terjadinya proses ini.

2. Suhu Udara, Permukaan dari Bidang Evaporasi, serta Energi Panas Matahari

Lalu, faktor selanjutnya adalah suhu udara, permukaan dari bidang evaporasi, serta energy panas matahari. Dalam artian, semakin tinggi temperatur di atas bidang permukaan penguapan, maka akan semakin mudah untuk terjadi perubahan bentuk dari zat cair menjadi zat gas.

Maka dari itu, laju evapotranspirasi menjadi lebih besar di daerah tropis dibandingkan dengan daerah yang beriklim sedang. Perbedaan laju evapotranspirasi sedemikian ini pun dijumpai dalam daerah tropis ketika musim kering serta musim basah.

Baca :   Jenis Penyakit pada Sistem Peredaran Darah Manusia

3. Kapasitas Kadar Air yang Terdapat dalam Udara

Kapasitas kadar air dalam udara juga turut menjadi faktor penentu evaporasi. Yang mana kapasitas kadar air ini dipengaruhi oleh tinggi rendahnya temperatur pada wilayah yang bersangkutan.

4. Kecepatan Angin di Sekitar

Selanjutnya, yakni kecepatan angin. Saat terjadinya penguapan, udara yang ada di atas permukaan dari bidang penguapan akan menjadi lembab secara bertahap. Hingga akhirnya sampai pada tahap saat udara menjadi jenuh. Dalam tahap sedemikian, udara jenuh di atas permukaan bidang evaporasi akan mengalami perpindahan ke tempat lain sebagai implikasi dari beda tekanan serta kerapatan udara.

Dengan begitu, proses penguapan air pada bidang penguapan tersebut bisa terjadi secara terus meneru. Sebab, adanya pergantian dari udara yang lembab oleh udara yang cenderung lebih kering. Atau gerakan dari massa udara yang berasal dari tempat dengan tekanan udara yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Karenanya, kecepatan angin di sekitar bidang permukaan penguapan menjadi sangat menentukan.

Rumus untuk Menghitung Besarnya Evaporasi

Dalam keadaan nyata, besarnya penguapan itu bisa ditentukan menggunakan rumus tertentu. Adapun untuk menghitung besarnya evaporasi, bisa digunakan beberapa metode berikut:

Berdasarkan Panci Evaporasi

Anda bisa menggunakan panci evaporasi sebagai dasar untuk menentukan besarnya penguapan yang terjadi. Evaporasi permukaan air bebas memakai panci evaporasi harus dikonversi, sebab prediksi penguapan pada 1 unit area permukaan air bebas. Yang mana rumusnya, yakni:

E permukaan air bebas = Koefisien Panci (C) X Evaporasi Panci.

Dalam hal ini, perlu diperhatikan manakala koefisien dari masing-masing jenis panic berbeda sesuai dengan bahan penyusunnya.

Menggunakan Rumus Empiris

Kemudian, bisa pula dengan menggunakan rumus empiris. Beberapa rumus yang bisa dipakai, yaitu:

Eo = k x z x (ew – ea)

Keterangan:

  • Eo adalah evaporasi muka air bebas selama satu periode pengamatan. Satuannya mm/ hari.
  • K merupakan konstanta empiris, yakni (0,35).
  • V2, yaitu fungsi atau hubungan matematik antara evaporasi serta massa air.
  • Ew, yakni tekanan uap jenuh di udara dengan suhu sesuai seperti suhu airnya.
  • Ez adalah tekanan uap yang sesungguhnya di udara setinggi z.

Maka dari itu, rumus di atas bisa menjadi: Eo = 0,35 (0,5 + 0,54 V) x (ew – ez). Yang mana v merupakan kecepatan angin dalam ketinggian 2m (m/det).

Jadi, itulah penjelasan mengenai apa itu evaporasi, lengkap beserta aspek yang melingkupi, faktor penentu, hingga rumusnya. Melalui penjelasan di atas, diharapkan bisa bermanfaat untuk membuat Anda semakin paham mengenai seluk beluk dari evaporasi.

You may also like

Leave a Comment