Biografi Albert Einstein & Fakta Kehidupannya

by Trianilus
0 comment 86 views
Biografi Albert Einstein & Fakta Kehidupannya

Biografi Albert Einstein memang layak untuk diperbincangkan. Ya, Albert Einstein akan terus dikenang sebagai ilmuwan fisika teoretis terhebat yang pernah ada.

Tahukah Anda, ilmuwan jenius itu, saat masa kecilnya, dikenal sebagai bocah autisme karena terlambat berbicara.

Einstein mulai dikenal dunia karena mencetuskan teori relativitas. Di samping, Einstein juga mencetuskan teori-teori fisika lainnya. Semakin penasaran dengan biografi Albert Einstein dan fakta kehidupannya?

Berikut pembahasan lengkap mengenai biografi Albert Einstein, mulai dari masa kecilnya hingga meninggal dunia.

Masa Kecil Hingga Remaja Albert Einstein

Albert Einstein lahir pada 14 Maret 1879 di Ulm, Wurttermberg, Jerman. Einstein lahir dari orang tua penganut Yahudi. Ayahnya bernama Hermann Einstein, seorang pedagang ranjang bulu sekaligus insinyur listrik dan ibunya bernama Pauline Koch, seorang pianis.

Einstein cilik dicap sebagai bocah autisme karena terlambat berbicara. Ia lebih suka bermain sendiri dan pendiam. Selain itu, Einstein cilik juga suka marah dan melempar barang, termasuk ke adik perempuannya, Maja Einstein.

Kendati dicap sebagai bocah autisme hingga suka marah, prestasi sekolah Einstein tak tertandingi oleh teman-temannya. Ia selalu mendapatkan hasil belajar yang bagus dan menjadi juara kelas.

Einstein mulanya sekolah di SD Katolik di Munchen. Namun, setelah tiga tahun kemudian, ia dipindahkan ke Luitpold Gimnasium. Tidak hanya SD, Einstein sekolah di sana hingga SMA.

Eistein tidak menyelesaikan studi SMA-nya hingga tuntas di Luitpold Gimnasium. Di akhir-akhir masa studinya, ia mengaku sakit dan menyerahkan surat dokter pada pihak sekolah. Padahal, hal itu dilakukan Einstein untuk menyusul orang tuanya yang saat itu sudah pindah ke Italia.

Perlu diketahui, ketertarikan Einstein terhadap ilmu fisika bermula ketika sang ayah memberikan hadiah kompas saku saat dirinya terbaring sakit. Waktu itu, Einstein masih berumur 5 tahun. Einstein menatap kompas saku tersebut, lalu bermimpi untuk menguak keajaiban alam.

Albert Einstein Menuntaskan Masa SMA-nya dan Masuk Perguruan Tinggi

Albert Einstein Muda

Albert Einstein Muda

Albert Einstein tertarik untuk melanjutkan studi di Eidgenossische Technische Hochschule (Politeknik Swiss) di Zurich. Einstein sempat mengikuti tes masuk politeknik itu dan mendapatkan nilai bagus untuk fisika dan matematika. Namun, Einstein gagal mencapai nilai minimal untuk ujian pengetahuan umum. Di sisi lain, ia juga belum menuntaskan masa SMA-nya.

Baca :   Biografi Salahudin Al Ayubi & Fakta Kehidupannya

Oleh karena itu, pimpinan politeknik meminta Einstein menyelesaikan masa SMA-nya terlebih dahulu, lalu mengikuti tes mauk politeknik tahun berikutnya. Pimpinan politeknik menyarankan Einstein bersekolah di Gimnasium Argovian di Swiss.

Einstein pun mengikuti saran dari pimpinan politeknik. Ia dengan tekun menimba ilmu di Gimnasium Argovian. Bahkan, waktu belajarnya tidak boleh diganggu oleh kegiatan apapun.

Lebih lanjut, Einstein kemudian melepas kewarganegaraan Jerman-nya dan menjadi warga negara Swiss. Satu alasan yang membuat Einstein melakukan itu, yaitu ia menghindari kegiatan wajib militer di Jerman.

Di usianya yang ke-17, Einstein menyelesaikan studi SMA-nya dengan nilai ujian akhir yang sangat memuaskan. Ia pada akhirnya juga diterima di politeknik Zurich dengan mengambil program studi D4 Pendidikan Matematika dan Fisika.

Einstein Menyukai Musik

Albert Einstein cilik hingga dewasa adalah sosok yang menyukai musik. Saat kecil, Einstein diminta ibunya untuk mengikuti les biola. Namun ternyata, menginjak usia ke-13, Einstein lebih menyukai komposisi musik Mozart. Ia pun belajar sendiri atau otodidak untuk melatih dirinya sendiri dalam bermusik.

Kendati demikian, permainan biola Einstein juga masih bisa diandalkan. Hal ini terbukti ketika sekolah di Gimnasium Argovian, Einstein diminta untuk memaninkan biola oleh pengawas sekolah. Setelah melihat performa Einstein, pengawas sekolah itu memujinya dengan menyebut Einstein telah mempertontonkan bakat yang luar biasa di bidang musik.

Selain bermain musik, Einstein juga suka mendengarkan musik. Einstein sering mengisi waktunya untuk mendengarkan musik di sela-sela kesibukannya.

Musik telah mendarah daging ke dalam jiw Einstein. Ia pernah mengatakan jika keinginannya untuk menjadi ilmuwan fisika tidak tercapai, ia akan memilih menjadi musikus profesional.

Kisah Cinta Einstein

Kisah Cinta Einstein

Albert Einstein diketahui menikah dua kali. Istri pertama yang dinikahinya adalah teman sekelas di Politeknik Zurich. Ia bernama Mileva Maric.

Maric, saat itu, menjadi satu-satunya perempuan di kelas. Sehingga, ia lebih banyak berdiskusi dengan mahasiswa laki-laki saat kuliah. Sementara Einstein adalah teman sekelas yang paling intens belajar bersama Maric.

Hubungan pertemanan antara Einstein dan Maric lama-kelamaan berubah menjadi cinta. Hingga akhirnya, pada tahun 1902, Maric melahirkan putri pertamanya, namun melalui hubungan di luar menikah dengan Einstein. Putri pertama Maric diberi nama Lieserl.

Pada tahun berikutnya, Einstein dan Maric menikah. Setelah menikah, mereka dikaruniai dua anak laki-laki yang diberi nama Hans Albert Einstein dan Eduard Einstein.

Pada 1914, hubungan Einstein dan Maric mulai menunjukkan keretakan. Maric mengetahui sang suami berselingkuh dengan sepupunya sendiri, Elsa Lowenthal. Maric berusaha mempertahankan pernikahannya dengan sang suami. Namun, pada Februari 1919, Einstein dan Maric memutuskan untuk bercerai.

Baca :   Biografi Hayam Wuruk & Fakta Kehidupannya

Elsa sendirinya memiliki suami bernama Max Lowenthal dan sudah dikaruniai anak bernama Ilse. Namun, setelah empat bulan usia Perceraian Einstein dan Maric, Elsa juga bercerai dengan suaminya. Pada akhirnya, Einstein menjalin hubungan serius dengan Elsa.

Petualangan cinta Einstein belum mandek sampai di sini. Ia diketahui berselingkuh dengan sekretarisnya. Namun, sebagaimana Maric, Elsa berusaha untuk menahan diri.

Pernikahan Eisten dan Elsa pun bertahan hingga Elsa meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit jantung dan ginjal, pada tahun 1936.

Einstein Menemukan Teori Relativitas

Teori Relativitas

Tentunya, Albert Einstein tidak sekonyong-konyong dikenal dunia. Penemuan-penemuannya-lah yang membuat ia dikenal hingga saat ini. Salah satunya teori relativitas.

Dapat dikatakan bahwa teori relativitas merupakan temuan yang paling berkontribusi melambungkan nama Einstein di dunia. Teori ini dibagi menjadi dua, yakni teori relativitas khusus dan teori relativitas umum.

Teori relativitas khusus dirilis Einstein pada tahun 1905. Melalui teori ini, Einstein menggeser pendapat Isaac Newton mengenai ruang dan waktu. Einstein juga memasukkan elektromagnetisme sebagaimana yang tertulis dalam persamaan Maxwell.

Pada tahun 1916, giliran teori relativitas umum dirilis oleh Einstein. Teori ini lahir dari gabungan teori relativitas khusus dengan hukum gravitasi newton. Kata Einstein, gravitasi itu bukan gaya. Gravitasi, lanjut dia, adalah wujud dari kelengkungan ruang dan waktu yang berkaitan langsung dengan energi massa dan momentum linear.

Menariknya, teori relativitas temuan Einstein ini menjadi dasaran penemuan-penemuan teori lainnya, di antaranya relativitas simultanitas, masa relativistik, ekuivalensi massa-energi, dilatasi waktu dan kontraksi panjang.

Einstein Menemukan Teori  Efek Fotolistrik

Albert Einstein juga menemukan teori efek fotolistrik. Einstein menjelaskan efek fotolistrik adalah peristiwa timbulnya arus listrik atau peristiwa elektron bermuatan negatif yang lepas dari permukaan sebuah logam yang diakibatkan adanya penyinaran dengan berkas cahaya yang memiliki panjang frekuensi tertentu.

Teori efek fotolistrik kalah terkenal dengan teori relativitas. Namun, teori ini mampu mengantarkan Einstein menjadi peraih Nobel Fisika 1921.

Sayangnya, Einstein tengah berkunjung ke Asia Timur sehingga tidak bisa menghadiri acara penerimaan penghargaan tersebut. Einstein kemudian diwakilkan oleh seorang diplomat Jerman.

Einstein Mengembangkan Teori Statistik Bose-Einstein

Teori ini pertama kali ditemukan oleh Satyaendra Nath Bose pada tahun 1924-1925. Albert Einstein kemudian mengembangkan dan memperluas teori tersebut hingga tercetus teori statistik Bose-Einstein.

Melalui teori ini, Einstein mengemukakan bahwa salah satu dati dua cara yang memungkinkan sekumpulan partikel yang sepadan dan tak saling berinteraksi dapat menduduki sebuah set dari kondisi energi diskret yang tersedia pada ekuilibrium termodinamika.

Einstein Mengkaji Ulang Teori Gerak Brown

Teori gerak brown dicetuskan oleh Robert Brown pada tahun 1827. Sementara itu, pada tahun 1905, Albert Einstein memopulerkan teori tersebut dengan cara mengkaji ulang dan menerbitkannya ke dalam bentuk makalah.

Baca :   6 Sosok Kartini Masa Kini, Siapa Saja Mereka?

Dalam makalahnya, Einstein menyatakan partikel mikoskopis yang melayang di suatu medium akan menampilkan gerakan tak beraturan atau acak. Hal ini dikarenakan terjadi banyak tabrakan sebagai akibat dari molekul-molekul pada sisi partikel tidak sama. Hal ini pun berakibat partikel kolodi bergerak searah dengan arah resultan vektor terhadap gaya yang bekerja pada artikel koloid.

Einstein Menyesal Karena Bom Atom

Bom Atom

Albert Einstein pernah meluapkan kekecewaannya atas pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang oleh Amerika Serikat. Apa hubungannya dengan Einstein?

Pada masa perang dunia 2, Einstein memberitahu Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt bahwa teori relativitas temuannya dapat dijadikan ‘pondasi’ dalam mengembangkan bom atom. Roosevelt pun tertarik sehingga membentuk suatu komite untuk mengembangkan bom berkekuatan dahsyat.

Perlu diketahui, Einstein saat itu merasa takut terhadap pelopor perang dunia 2 sekaligus pemimpin Jerman, Adolf Hitler jika sewaktu-waktu mengembangkan bom atom untuk membumiratakan dunia. Oleh karena itu, ia mengabarkan kepada Presiden Amerika Serikat kaitannya teori relativitas dengan pengembangan bom atom.

Amerika Serikat, pada akhirnya, berhasil mengembangan bom atom. Ternyata bom atom itu diledakkan di kota Hiroshima dan Nagasaki hingga membuat Jepang menyerah pada Amerika Serikat.

Einstein pun menyesal, kecewa dan merasa bersalah karena bom atom hasil pengembangan teori temuannya itu menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki. Terlebih, ada banyak korban jiwa yang berjatuhan.

Akhir Hayat Albert Einstein

Albert Einstein menderita penyakit aneurisma aorta perut pada tahun 1948. Ia kemudian menjalani operasi pembedahan dengan bantuan dokter Rudolph Nissen.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 17 April 1955, penyakit aneurisma aorta perut Einstein kambuh lagi. Kali ini lebih parah dari sebelumnya, hingga menimbulkan pendarahan hebat.

Dalam kondisi seperti ini, Einstein justru menolak untuk dioperasi sebagaimana sebelumnya. Alasannya, tugasnya di dunia sudah rampung dan ingin pergi dengan tenang. Einstein juga menyebut dirinya enggan memperpanjang hidupnya dengan cara tidak alami.

Sang pemilik otak jenius itu pada akhirnya meninggal keesokan harinya, 18 April 1955 di rumah sakit Princeton, New Jersey, Amerika Serikat.

Menariknya, ahli patologi rumah sakit Princeton, Thomas Stoltz Harvey mnengambil otak Einstein untuk diteliti mengenai kecerdasan yang dimiliki Einstein. Sementara itu, jenazah Einstein dikremasi, kemudian abunya ditaburkan ke suatu tempat yang dirahasiakan.

Itulah pembahasan tentang biografi Albert Einstein dan fakta kehidupannya. Einstein akan terus dikenang oleh dunia hingga masa depan.

Semoga pembahasan tentang biografi Albert Einstein ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment