Biografi Jenderal Ahmad Yani & Fakta Kehidupannya

by Trianilus
0 comment 70 views
Biografi Jenderal Ahmad Yani & Fakta Kehidupannya

Biografi Jenderal Ahmad Yani memang layak untuk dibahas. Ahmad Yani adalah salah satu pahlawan revolusi yang menjadi korban tragedi G30S PKI.

Ahmad Yani lahir pada tanggal 19 Juni 1922 dan meninggal pada 1 Oktober 1965, tepatnya di usianya yang ke-43. Seperti apa biografi jenderal Ahmad Yani dari masa kelahiran hingga akhir hayatnya?

Simak pembahasan lengkap biografi jenderal Ahmad Yani berikut ini!

Masa Kecil Hingga Remaja Ahmad Yani

Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada tanggal 19 Juni 1922. Ayah Ahmad Yani bernama Sarjo dan ibunya bernama Murtini.

Ahmad Yani cilik senang bermain perang-perangan bersama teman-temannya. Menariknya, ia dijadikan pemimpin dalam ‘geng bermain’ oleh teman-temannya. Ya, bocah satu ini memang dikenal pemberani dan piawai dalam memberikan ‘komando’.

Watak Ahmad Yani dibentuk dari lingkungan sekitar yang tumbuh subur cerita kepahlawanan Pangeran Diponegoro. Para orang tua di kampung Ahmad Yani sering menceritakan keberhasilan Pangeran Diponegoro dalam melancarkan serangan terhadap Belanda melalui perang gerilya. Demikian pula Ahmad Yani yang juga sering mendengarkan cerita itu dari orang tuanya.

Ahmad Yani sekolah di Hollandsch Inlandsche School/HIS (setara SD) di Purworejo, pada tahun 1948. Saat kelas tiga, ia pindah ke HIS Magelang, kemudian kelas empat pindah ke HIS Bogor hingga tamat.

Ahmad Yani melanjutkan studinya di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs/MULO (setara SMP) di Bogor. Berbeda saat sekolah di HIS, Ahmad Yani menamatkan studinya di MULO yang sama. Ia masuk ke dalam tiga siswa terbaik di sekolahnya. Ahmad Yani kemudian meneruskan studinya di Algemeene Middelbare School /AMS (setara SMA) di Jakarta.

Ahmad Yani Mengenyam Pendidikan Militer

Jendral ahmad yani memimpin rapat

Pendidikan di AMS Jakarta tidak dirampungkan oleh Ahmad Yani. Ya, pada tahun 1940, perang dunia 2 pecah di Eropa dan Jerman berhasil mencaplok Belanda. Sementara itu, Indonesia yang merupakan wilayah jajahan Belanda mengumumkan milisi untuk mengantisipasi kemungkinan Jerman juga mencaplok Indonesia.

Ahmad Yani yang tidak menamatkan AMS-nya itu mendaftarkan diri sebagai aspiran di Dinas Topografi Militer di Malang. Setelah menyelesaikan pendidikannya di tempat itu dalam waktu enam bulam, Ahmad Yani diangkat sebagai Sersan Cadangan Bagian Topografi dan dikirim ke Bandung.

Atasan Ahmad Yani menilai dirinya memiliki bakat di bidang militer yang luar biasa. Oleh karenanya, ia dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan militer yang lebih intensif. Setelah merampungkan pendidikannya, ia dikembalikan lagi ke Bandung.

Baca :   Biografi Adolf Hitler & Fakta Kehidupannya

Pada tahun 1942, Jepang datang ke Indonesia dan langsung menginvasi sejumlah daerah, termasuk Bandung. Ahmad Yani, saat itu, sempat ditawan oleh tentara Jepang dan ditempatkan di kamp tawanan Cimahi. Ahmad Yani dibebaskan usai menjalani beberapa kali pemeriksanaan. Ia pun memutuskan untuk pulang ke kampungnya.

Di Purworejo, Ahmad Yani menjadi pengangguran. Ia lantas melamar pekerjaan menjadi cuyaku (juru bahasa) untuk Jepang. Namun, perwira Jepang, Obata yang menyeleksi Ahmad Yani justru menyarankan dia untuk mengikuti pendidikan militer heiho di Magelang. Alasannya, menurut Obata, Ahmad Yani memiliki bakat yang luar biasa di bidang militer.

Ahmad Yani menuruti saran tersebut. Ia pun lulus pendidikan heho dengan prestasi yang menggembirakan. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan militer Syodanco Boei Giyugun Kanbu Renseitai (korps Latihan Pemimpin Sukarela Pembela Tanah Air) di Bogor.

Ahmad Yani menjalani pendidikan itu selama empat bulan. Lagi! Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik sehingga mendapatkan penghargaan sebilah pedang samurai.

Pada Januari 1944, Ahmad Yani kembali ke Magelang. Ia bertugas di Magelang sebagai Komandan Seksi 1 Kompi 2 Batalyon 3.

Perjuangan Ahmad Yani Pasca Kemerdekaan Indonesia

agresi militer Belanda

Pada tanggal 19 Agustus 1945, Jepang membubarkan PETA dan organisasi militer bentukan Jepang lainnya. Jepang melakukan itu karena khawatir semua organisasi militer bentukannya justru menyerang Jepang sendiri.

Ahmad Yani yang menjabat sebagai komandan seksi dan memiliki kesatuan pasukan juga dibubarkan sebagai akibat dari kebijakan Jepang. Ahmad Yani kemudian berusaha mengumpulkan lagi pasukannya sembari mencari pasukan baru. Ia pun berhasil mengumpulkan pasukan sebesar satu batalion.

Ahmad Yani dan kesatuan pasukannya mulai beraksi pada peristiwa penurunan bendera di Bukit Tidar, pada 24 September 1945. Waktu itu, Jepang menurunkan bendera merah putih yang dikibarkan oleh para pemuda Indonesia. Selain itu, pasukan Yani juga melakukan pelucutan senjata di tempat tinggal utama pasukan Jepang di Magelang, yakni di hotel Nikita.

Setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pasukan Yani diresmikan menjadi Batalion 4. Ahmad Yani sendiri berpangkat Mayor dan menjadi komandan batalion tersebut.

Perlu diketahui, Batalion 4 merupakan bagian dari Resimen 14 Magelang. Resimen 14 sendiri adalah bagian dari Divisi 5 Purwokero. Adapun pemimpinnya di antaranya Kolonel Sarbini untuk Resimen 14 dan Kolonel Soedirman untuk Divisi 5.

Pada Oktober-November 1945, Batalion 4 pimpinan Ahmad Yani memukul mundur pasukan Sekutu. Waktu itu, Sekutu membebaskan pasukannya yang ditawan di Magelang. Lebih dari itu, Sekutu ternyata juga mempersenjatai bekas tawanan Belanda.

Tindakan ini membuat Indonesia naik pitam. Terjadilah bentrokan bersenjata antara Batalion 4 dengan pasukan Sekutu. Batalion 4 berhasil memukul mundur Sekutu hingga ke Ambarawa. Lebih lanjut, pasukan pimpinan Kolonel Soedirman juga melancarkan serangan dan memukul mundur Sekutu hingga ke Semarang.

Baca :   Biografi Hayam Wuruk & Fakta Kehidupannya

Batalion di bawah kepemimpinan Ahmad Yani kemudian menjadi bagian dari Resimen 15 Magelang, Brigade Nusantara, Divisi 3 setelah TKR berubah nama hingga menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pasukan Ahmad Yani ini bertugas di front sekitar Semarang.

Pada September 1948, Ahmad Yani diangkat menjadi Letnan Kolonel dan memegang Brigade Diponegoro yang membawahi tiga batalion, yaitu Batalion Daryatmo, Batalion Suryosumpeno dan Batalion Panuju.

Belum lama menjabat Letnan Kolonel, Ahmad Yani sudah dihadapkan oleh pemberontakan PKI di Purwodadi. Ia mengerahkan Batalion Suryosumpeno untuk menumpas pemberontakan itu dan berhasil.

Setelah itu, Ahmad Yani juga dihadapkan dengan agresi militer Belanda yang menyerang Yogyakarta, Ambarawa dan Purworejo. Ahmad Yani menerapkan teknik perang gerilya sebagaimana yang diarahkan oleh Panglima Besar. Belanda pada akhirnya dipaksa mundur.

Jenderal Ahmad Yani Menumpas Berbagai Pemberontakan Dalam Negeri

pemberontakan DI TII

Setelah urusan agresi militer Belanda selesai, Ahmad Yani dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan di dalam negeri. Sejumlah pemberontakan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk gerombolan DI/TII di Brebes dan Pekalongan.

Ahmad Yani mendapatkan tugas untuk menyelaisakan persoalan DI/TII tersebut. Sementara itu, DI/TII di Brebes dan Pekalongan semakin hari semakin menunjukkan perkembangannya.

Di sisi lain, brigade di bawah kepemimpinan Ahmad Yani berubah nama menjadi Brigade Q Praloga 1 yang bertugas di Kendal-Semarang dan berbasis di Salatiga. Ahmad Yani melatih Kompi Yasir dan Kompi Pujadi untuk menghadapi pemberontakan DI/TII. Berhasil! Berkat latihan itu, mereka berhasil memperkecil daerah DI/TII. Operasi terhadap pemberontakan DI/TII lalu ditingkatkan hingga gerombolan itu berhasil ditumpas tuntas.

Capaian Ahmad Yani membuat Pimpinan Angkatan Perang di Jakarta menyekolahkannya di Command and General Staff College di Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan studinya, Ahmad Yani diangkat sebagai Asisten 2 (Operasi) di Markas Besar Angkatan Darat. Jabatannya kemudian dinaikkan menjadi Deputi 1 (Operasi), lalu naik lagi menjadi Kolonel.

Jabatan Ahmad Yani terus meroket tinggi. Ia dipercaya menduduki Deputi 2 (Pembinaan) di Markas Besar Angkatan Darat. Kemudian dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Lebih lanjut, pangkatnya pun dinaikkan menjadi Mayor Jenderal. Sekitar setahun kemudian, Ahmad Yani menjadi Letnan Jenderal.

Pemberontakan PKI dan Akhir Hayat Jenderal Ahmad Yani

Pemberontakan PKI

PKI si perongrong negara menjalankan aksinya saat Ahmad Yani menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ahmad Yani sendiri sangat benci dan ingin menumpas pemberontakan PKI.

Di sisi lain, PKI ingin memporakporandakan angkatan darat agar lebih mudah merebut kekuasaan negara. Pada akhirnya, puncak pemberontakan PKI dilakukan pada 30 September 1965 (G30S PKI).

Baca :   Biografi Albert Einstein & Fakta Kehidupannya

Karena target utama PKI adalah melemahkan angkatan darat, maka mereka melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap pejabat-pejabat penting angkatan darat, termasuk Ahmad Yani.

Pada 1 Oktober 1965, rumah dinas Ahmad Yani yang berada di Jalan Lembang, Jakarta kedatangan tamu dari sekelompok orang yang menggunakan seragam Cakrabirawa (pengawal Istana Keprsidenan), salah satunya Sersan Tumiran. Sersan Tumiran kemudian masuk ke dalam rumah Ahmad Yani dan memerintahkan pembantunya, Mbok Milah untuk membangunkan majikannya. Kebetulan, saat itu, Ahmad Yani tengah tidur.

Mbok Milah mengaku tidak berani membangunkan majikannya. Kemudian, ia meminta anak bungsu Ahmad Yani, Eddy untuk membangunkan ayahnya. Sementara itu, beberapa orang PKI masuk ke dalam rumah Ahmad Yani melalui pintu samping.

Eddy kemudian membangunkan ayahnya dan memberitahu bahwa ada utusan yang ingin bertemu dengannya. Setelah bangun, Ahmad Yani langsung menemui utusan tersebut. Kemudian, salah seorang utusan mengatakan bahwa Ahmad Yani diminta segera menghadap ke Presiden di Istana.

Ahmad Yani meminta izin untuk mandi terlebih dahulu. Namun, utusan itu melarangnya. Ahmad Yani kemudian meminta izin cuci muka dan berpakaian rapi. Namun, utusan itu kembali melarangnya karena dikatakan urusannya sangat penting dan mendesak. Ahmad Yani pun emosi dan menempeleng utusan tersebut.

Ahmad Yani kemudian membalikkan baan menuju ke ruang tengah untuk bersiap-siap. Pada saat itu, Ahmad Yani ditembak hingga rubuh ke lantai. Tubuh Ahmad Yani yang sudah tak berdaya diseret lalu dilempar ke sebuah bak truk. Jasad Ahmad Yani kemudian dibuang ke suur tua di Lubang Buaya bersama jasad-jasad lainnya.

Gelar Pahlawan Revolusi Untuk Jenderal Ahmad Yani

Pada 3 Oktober 1965, sumur pembuangan jasad-jasad korban pengkhianatan PKI telah ditemukan. Saat itu, daerah Lubang Buaya dan sekitarnya sudah dibersihkan dari anggota-anggota PKI.

Pada 5 Oktober 1965, saat HUT ABRI ke-20, jasad-jasad di sumur Lubang Buaya itu dimakamkan di tempat yang layak, yakni di Taman Makam Kali Bata, Jakarta. Upacara pemakaman itu pun berjalan khidmat dan mengharukan.

Perlu diketahui, pada 30 September 1965, Ahmad Yani sempat meminta anak-anaknya untuk menyaksikan perayaan HUT ABRI ke-20 pada 5 Oktober 1965. Namun, apa yang diminta ayahnya justru berbalik menjadi momen yang menyedihkan. Pada 5 Oktober 1965, anak-anak Ahmad Yani mengiringi kepergian sang ayah selama-lamanya.

Berkat jasa-jasanya, Letnan Jenderal Ahmad Yani, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 111/Koti/1965, ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.

Itulah pembahasan lengkap mengenai biografi Jenderal Ahmad Yani dan fakta kehidupannya. Melalui biografi Jenderal Ahmad Yani di atas, kita dapat memetik pelajaran bahwa jangan pernah takut untuk melakukan kebenaran.

Semoga pembahasan mengenai biografi Jenderal Ahmad Yani ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment