Biografi Salahudin Al Ayubi & Fakta Kehidupannya

by Trianilus
0 comment 54 views
Biografi Salahudin Al Ayubi & Fakta Kehidupannya

Mari kita mengupas tuntas biografi Salahudin Al Ayubi dan fakta kehidupannya. Salahudin Al Ayubi adalah tokoh perang Muslim yang terkenal di dunia Islam maupun barat. Orang barat menyebut Salahudin Al Ayubi dengan nama Saladin.

Salahudin Al Ayubi menjadi terkenal karena piawai dalam mengkomandoi, menyusun strategi dan menghimpun pasukan selama perang melawan pasukan Salib. Ia berhasil merebut Yerussalem yang sebelumnya selama 88 tahun berada di pangkuan pihak Salib.

Saladin, begitu orang barat menyebutnya, merupakan pemimpin pasukan Muslim yang memiliki sifat pengampun dan cerdik. Ia tidak hanya disegani oleh pasukan Muslim, melainkan juga lawannya.

Perlu diketahui, Salahudin Al Ayubi lahir pada tahun 1138, dan meninggal dunia pada 4 Maret 1193. Penasaran seperti apa lanjutan dari biografi Salahudin Al Ayubi dan fakta kehidupannya?

Simak pembahasan tentang biografi Salahudin Al Ayubi dan fakta kehidupannya secara lengkap di bawah ini!

Masa Kecil Salahudin Al Ayubi

Salahudin Al Ayubi lahir pada tahun 1138 Masehi atau 532 Hijriah. Ia lahir dari keluarga Kurdish dari suku Kurdi di Kota Tirkit (saat ini di bawah kekuasaan negara Irak). Nama asli Salahudin Al Ayubi adalah Yusuf bin Najmuddin.

Ayah Salahudin Al Ayubi bernama Najmuddin Ayyub. Najmuddin Ayyub adalah Gubernur Balbek sekaligus penasihat dan pembantu raja Suriah, Nuruddin Mahmud.

Salahudin Al Ayubi cilik adalah bocah yang senang belajar. Ia mempelajari Alquran berikut menghafalkannya. Ia pun menghafalkan hadis-hadis Rasulullah SAW berikut menghafalkannya. Selain itu, Salahudin Al Ayubi juga mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya.

Salahudin Al Ayubi termasuk bocah yang beruntung. Sebab, ia tumbuh di lingkungan istana sehingga mendapatkan kesempatan belajar ilmu peperangan berikut ilmu politik. Saat masih bocah, ia disibukkan dengan berlatih berkuda, memanah hingga menggunakan senjata.

Saat remaja, Salahuddin Al Ayubi mempelajari ilmu teologi sunni selama 10 tahun. Ia mempelajari ilmu tersebut juga di lingkungan istana.

Salahudin Al Ayubi Menjadi Wazir Hingga Menteri

Dengan pertimbangan kemampuan Salahudin Al Ayubi muda yang mumpuni, pada tahun 1169, ia diangkat menjadi wazir (konselor) di Mesir. Pengangkatan sebagai wazir adalah tanggung jawab yang berat sebab saat itu terjadi sejumlah pergolakan. Terlebih, kemampuan Salahudin Al Ayubi yang masih berusia 32 tahun itu diragukan banyak orang.

Tidak hanya kaum Muslim saja yang meragukam kemampuan Salahudin Al Ayubi sebagai wazir, melainkan jga kam Salib. Selain tugas yang berat, Salahudin Al Ayubi yang berasal dari Sunni Suriah tidak memperoleh banyak dukungan dari pasukan Mesir yang didominasi oleh tentara Syiah.

Baca :   Biografi Albert Einstein & Fakta Kehidupannya

Terlebih, wasir-wasir terdahulu juga sering mengalami kegagalan dalam mengemban tugasnya. Kegagalan mereka kebanyakan terjadi karena pergolakan internal dan perebutan posisi wazir itu sendiri.

Namun, Salahudin Al Ayubi membuktikan kemampuannya sebagai wazir yang mumpuni dengan menuntaskan tugas yang diberikan kepadanya. Salahudin Al Ayubi mendapatkan tugas mempertahankan Mesir dari serangan kerajaan Latin Jerussalem. Putra dari Najmuddin Ayyub ini ternyata mampu bertahan dari gempuran Kerajaan Latin.

Reputasi Salahudin Al Ayubi pun melejit tinggi. Di tengah melambungnya nama baik Salahudin Al Ayubi, Mesir tengah berada di kekuasaan Kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah.

Waktu itu, Daulah Fathimiyah mengalami pergolakan internal. Warga dari Turki, Maroko dan Sudan menuntut revolusi.

Paman Salahudin Al Ayubi, Nuruddin Mahmud yang ahli dalam peperangan menilai pergolakan internal di badan Daulah Fathimiyah merupakan peluang apik untuk mencaplok Syiah. Nuruddin juga menilai penaklukkan Daulah Fathimiyah merupakan strategi yang apik untuk membebaskan Yerussalem dari kekuasaan pasukan Salib.

Saat itu, pasukan Salib juga mencoba untuk mencaplok Mesir. Salahudin Al Ayubi mendapatkan kiriman bantuan pasukan dalam jumlah besar dari Damaskus, tak lain atas inisasi dari pamannya sendiri. Pasukan Salib mulai panik dan pada akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari Mesir.

Sehingga, Salahudin Al Ayubi beserta pasukannya hanya memerangi Daulah Fathimiyah. Ternyata, Daulah Fathimiyah yang ditimpa pergolakan internal ‘malas’ untuk berperang. Salahudin Al Ayubi pun tergerak untuk menyerangnya.

Peperangan dengan mudah dimenangkan oleh Salahudin Al Ayubi. Ia lantas diangkat menjadi menteri untuk wilayah Mesir.

Salahudin Al Ayubi menjadi menteri Mesir hanya dalam kurun waktu dua bulan. Jabatan yang singkat ini dimanfaatkan Salahudin Al Ayubi untuk membuat perubahan. Pengaruh Syiah di Mesir diberantas dengan membangun sekolah-sekolah berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. Alhasil, sampai hari ini, kita bisa melihat Mesir sebagai salah satu pilar negara Sunni yang memegang teguh Ahlussunnah wal Jamaah.

Selain itu, Salahudin Al Ayubi juga ingin menghapus nama Daulah Fathimiyah. Alhasil, dibuatlah kebijakan di setiap khotbah Jumat, nama Khalifah Fathimiyah diubah menjadi Khalifah Abbasiyah.

Strategi Perang Salahudin Al Ayubi

Salahudin Al Ayubi menjadi pemimpin pasukan Muslim dalam memerangi pasukan Salib dan merebut Yerussalem. Sebelum menaklukkan Yerussalem, Salahudin Al Ayubi terlebih dahulu membentuk strategi perang.

Dalam membangun ‘pondasi’ pasukan perang yang baik, menurut Salahudin Al Ayubi, harus memenuhi hal-hal yang bersifat non-materi dan materi. Non-materi adalah keimanan yang harus melekat di dalam jiwa pasukan.

Baca :   Biografi Hayam Wuruk & Fakta Kehidupannya

Sebagaimana dijelaskan di atas, Salahudin Al Ayubi membentuk keimanan para pasukannya dengan cara membuang pengaruh Syiah di Mesir dan menggantinya menjadi akidah Sunni. Kampanye akidah Sunni ini ternyata memberikan hasil yang luar biasa bagi kekuatan pasukan Muslim. Salahudin Al Ayubi mampu menyatukan sejumlah wilayah seperti Yaman, Syam, Irak, Hijaz dan Maroko yang sebelumnya terpecah akibat konflik.

Sejumlah wilayah itu menyatakan siap setia dengan Salahudin Al Ayubi. Alhasil, pasukan Muslim menjadi bertambah lebih banyak.

Sementara itu, persiapan materi untuk perang meliputi jumlah pasukan perang, kekuatan perang, daya tempur, senjata dan stok makan dan minum selama menggempur lawan. Selain itu, untuk pertahanan perang, Salahudin Al Ayubi mendirikan markas-markas pasukan beserta benteng pertahanan di sejumlah perbatasan. Armada laut atau kapal-kapal perang juga diperbaiki. Pembangunan rumah sakit pun dilakukan untuk mengobati pasukan perang yang terkena penyakit.

Salahudin Al Ayubi Memimpin Perang Hattin

Perang Hattin

Sebelum menuju ke Yerussalem dan mencaplok daerah itu, Salahudin Al Ayubi mengawalinya dengan perang Hattin. Ya, perang ini berlangsung di Bukit Hattin antara pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Salahudin Al Ayubi dan pasukan Salib di bawah kepemimpinan Guy of Lusignan.

Dalam perang ini, Salahudin Al Ayubi mengerahkan pasukan Muslim sebanyak kurang lebih 63 ribu orang. Sementara Guy of Lusignan mengerahkan pasukan Salib sebanyak kurang lebih 60 orang.

Pasukan Salahudin Al Ayubi berhasil memenangkan pertempuran ini. Sebanyak kurang lebih 30 ribu pasukan Salib dibunuh, dan 30 ribu lainnya ditawan. Salahudin Al Ayubi juga berhasil menangkap Guy of Lusignan.

Kemenangan di perang Hattin ini menjadi modal penting bagi Salahudin Al Ayubi dan pasukan Muslim untuk mencaplok Yerussalem. Sebab, sebagian pasukan Salib di Yerussalem yang ikut berperang di Bukit Hattin tewas dan ditawan. Dengan kata lain, kekuatan pasukan Salib mengalami kemunduran.

Baca juga : Sejarah Perang Salib 1: Latar Belakang-Puncak Perang

Salahudin Al Ayubi Menaklukkan Yerussalem

Setelah memenangkan pertempuran di Bukit Hattin, Salahudin Al Ayubi dan pasukan Musli menuju ke Yerussalem. Tak lain, tujuannya adalah untuk merebut Yerussalem dari genggaman pihak Salib.

Pertempuran di Yerussalem antara pasukan Muslim dan pasukan Salib betul-betul tidak seimbang. Pasukan Salib dalam keadaan terpuruk karena sebagian dari mereka tewas di perang Hattin.

Pasukan Muslim berhasil memporakporandakan pertahanan pasukan Salib. Hingga akhirnya pasukan Salib yang saat itu dikomandoi oleh Balian bin Bazran mengajak Salahudin Al Ayubi untuk melakukan perundingan.

Balian bin Bazran meminta pasukan Muslim menjamin keamanan pasukan Salib. Jika hal itu tidak dilakukan, Balian bin Bazran mengancam akan membunuh tawanan pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 4 ribu orang. Lebih dari itu, pemimpin pasukan Salib juga mengancam akan membunuh kaum wanita dan anak-anak, membumiratakan bangunan-bangunan di Yerussalem, termasuk Kubatu Shakhrakh. Ia pun menyatakan siap memerangi pasukan Musli hingga titik darah penghabisan.

Baca :   Biografi Adolf Hitler & Fakta Kehidupannya

Merespons hal itu, Salahudin Al Ayubi mengabulkan permintaan Balian bin Barzan dengan syarat pasukan Salib harus pergi dari Yerussalem. Salahudin Al Ayubi juga berjanji tidak akan melanjutkan penyerangan terhadap pasukan Salib. Bahkan, ia meminta pasukan Muslim untuk mengawal dan menjaga keamanan pasukan Salib saat meninggalkan Yerussalem.

Di samping itu, Salahudin Al Ayubi membebankan biaya perang terhadap pasukan Salib sebagai pihak yang kalah. Setiap laki-laki diwajibkan untuk membayar 10 dinar, setiap perempuan 5 dinar dan setiap anak 2 dinar.

Balian bin Barzan, pada akhirnya, menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Salahudin Al Ayubi. Ia bersama pasukan Salib pergi meninggalkan Yerussalem.

Setelah berhasil menaklukkan pasukan Salib, Salahudin Al Ayubi masuk ke dalam Masjid Al Aqsha. Di sana, ia disambut dengan kegembiraan oleh umat Muslim. Salahuddin Al Ayubi membersihkan masjid itu dari salib-salib yang sebelumnya dibawa masuk oleh pasukan Balian bin Bazran.

Diketahui, Salahudin Al Ayubi dan pasukan Muslim berhasil membebaskan Yerussalem dari genggaman pasukan Salib pada 2 Oktober 1187 Masehi atau 27 Rajab 583 Hijriah. Yerussalem sebelumnya berada di pangkuan pihak Salib selama 88 tahun.

Akhir Hayat Salahudin Al Ayubi

Salahudin Al Ayubi meninggal dunia pada 4 Maret 1193 di Damaskus. Dikatakan, ia meninggal dunia setelah melawan sakit demam selama 12 hari.

Namun, belakangan ini, seorang dokter di Parelman School of Medicine, University of Pennsylvania, Amerika Serikat bernama dr Stephen Gluckman menyebut sakit yang diderita oleh Salahudin Al Ayubi jelang wafatnya adalah tifus. Gluckman mengandalkan petunjukan gejala-gejala medis yang diderita Salahudin Al Ayubi dalam berbagai literasi yang ditelitinya.

Salahudin Al Ayubi diketahui meninggal dalam keadaan tak memiliki cukup harta. Bahkan, hartanya tidak cukup untuk mengurus biaya pemakamannya. Sebab, semasa hidupnya, Salahudin Al Ayubi membagikan hartanya kepada orang-orang yang lebih membutuhkannya.

Itulah pembahasan tentang biografi Salahudin Al Ayubi dan fakta kehidupannya. Ia sangat layak menyandang gelar Pahlawan Muslim.

Salahudin Al Ayubi tidak hanya dikagumi dan diteladani oleh umat Muslim, melainkan juga mendapatkan reputasi yang bagus dari dni barat, bahkan Kristen Eropa. Biografi Salahudin Al Ayubi, perjuangan perangnya dan kepemimpinnya ditulis oleh para penulis terkenal. Salah satunya ialah karya Walter Scott yang berjudul The Talisman.

Semoga pembahasan tentang biografi Salahudin Al Ayubi di atas bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment