Historiografi: Pengertian, Jenis, Contoh, Fungsi dan Prinsip

by Trianilus
0 comment 92 views
Historiografi: Pengertian, Jenis, Contoh, Fungsi dan Prinsip

Mendengar kata historiografi, Anda mungkin langsung mengarah ke sesuatu yang berhubungan sejarah. Namun apakah Anda sudah mengetahui apa itu hitoriografi?

Jika belum mengetahui, Anda mungkin mengerti soal hikayat raja-raja, hikayat babad tanah Jawa atau kisah Rama dan Shinta. Nah, ketiganya merupakan contoh dari historiografi. Untuk mengetahui lebih dalam, berikut dijelaskan pengertian, jenis-jenis, ciri-ciri, contoh dan fungsi serta prinsip dari historiografi.

Pengertian Historiografi

Historiografi berasal dari dua kata, ‘historia’ dan ‘graphe’ yang merupakan bahasa Yunani. Artinya ‘sejarah’ dan ‘tulisan atau naskah’. Secara sempit, historiografi dapat disebut tulisan tentang sejarah.

Secara lebih lebar pengertian historiografi adalah bentuk publikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan mengenai peristiwa atau gabungan peristiwa-peristiwa masa lalu. Pengertian tersebut disampaikan oleh Louis Gottschalk.

Lebih lanjut, Gottschalk menjabarkan historiografi ke dalam tiga pengertian, di antaranya:

  1. Historiografi adalah hasil karya dalam bentuk lisan atau tulisan mengenai sejarah;
  2. Historiografi merupakan penulisan sejarah sebagai bentuk implementasi aspek serba interpretatif dalam metode sejarah untuk menyusun sintetis sejarah yang didasarkan pada penelitian dan seleksi terhadap fakta peristiwa sejarah;
  3. Historiografi ialah suatu kegiatan dalam keilmuan di bidang sejarah yang menghasilkan karya tulis sebagai pemikiran teoritis dan metodologis tentang kejadian masa lalu dalam brntuk penelitian.

Jenis-jenis Historiografi

Hisoriografi dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial dan historiografi modern. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

1. Historiografi tradisional

Historiografi tradisional adalah ekspresi kultural dari usaha untuk merekam sejarah. Dalam historiografi jenis ini unsur-unsur sastra terjalin kuat sebagai karya yang mengandung imajinasi dan mitologi, sebagai pandangan hidup yang dikisahkan sebagai uraian kejadian pada masa lampau.

Baca :   Peraturan Tentang Cuti PNS Terbaru

Dari pengertian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa historiografi berisi tentang kisah-kisah sejarah sebelum masa kolonial atau masa kerajaan. Dalam pembagian waktunya, historiografi ini terdiri dari historiografi tradisional Hindu-Buddha dan historiografi tradisional Islam.

Ciri-ciri historiografi tradisional:

  1. Religio sentris, yaitu segala sesuatu dipusatkan segala sesuatu yang berbau raja dan istana. Religio sentris juga sering disebut istana sentris dan dinasti sentris;
  2. Feodalistis-aristokratis, yaitu segala hal yang dibahas hanya kehidupan kaum bangsawan feudal dan tidak ada sifat kerakyatannya;
  3. Religio magis, yaitu segala sesuatu dikaitkan dengan hal-hal gaib;
  4. Regio sentris, yaitu kisah-kisah yang ditulis dipengaruhi oleh kebudayaan suatu daerah, misalnya kisah tentang dewa di daerah tersebut;
  5. Tidak ada pembedaan antara kisah khayalan dan kisah nyata;
  6. Raja dianggap memiliki kekuatan gaib dan sakti

Adapun tujuan dari historiografi tradisional adalah agar segala hal tentang raja, baik nama-nama raja, kedudukan raja hingga wibawa raja dihormati, dipatuhi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat. Atas dasar itu, pada zaman dulu, raja disebut-sebut sebagai titisan dewa yang memiliki kesaktian tiada tara.

Contoh dari historiografi tradisional dibagi menjadi dua, di antaranya:

  • Historiografi tradisional Hindu-Buddha: Kitab Mahabrata dan Ramayana, Kitab Negarakertagama, Kitab Pararaton dan lainnya.
  • Historiografi tradisional Islam: Hikayat Raja-Raja Aceh, Babad Tanah Jawa, Hikayat Aceh dan lainnya.

2. Historiografi Kolonial

Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang membahas tentang penjajahan Belanda (Eropa) di Indonesia. Historiografi jenis ini juga disebut sebagai eropa sentris.

Karena membahas penjajahan Belanda atas Indonesia, penulisan historiografi kolonial dilakukan oleh orang-orang Belanda. Namun, penulis-penulis Belanda itu tidak pernah melihat Indonesia secara langsung. Mereka menggunakan sumber-sumber yang besaral dari arsip negara yang disimpan di Belanda dan di Batavia (nama Jakarta di masa penjajahan).

Baca :   5 Hal yang Akan Terjadi di Era Revolusi Industri 4.0

Ciri-ciri historiografi kolonial:

  1. Eropa sentris atau Neerlando sentris;
  2. Bersifat subjektif;
  3. Bersifat mitologis;
  4. Bersifat diskriminatif;
  5. Tidak memedulikan sumber lokal;
  6. Berisi tentang sejarah orang-orang besar.

Adapun tujuan dari historiografi kolonial adalah agar kedudukan bangsa Belanda tetap kuat di mata bangsa Indonesia.

Contoh dari historiografi kolonial di antaranya:

  • History of Java ditulis oleh Thomas Raffles;
  • Geschiedenis van Indonesie ditulis oleh H.J. de Graaf;
  • Geschiedenis van den Indischen Archipel ditulis oleh B.H.M. Vlekke;
  • Schets eener Economische Geschiedenis van Nederlands-Indie ditulis oleh G. Gonggrijp;
  • Beknopt Leerboek Geschiedenis van Nederlandsch Oost-Indie ditulis oleh Eijkman dan F.W. Stapel.

3. Historiografi Modern

Historiografi modern merupakan penulisan sejarah yang muncul karena adanya tuntutan ketepatan teknik untuk mendapatkan fakta-fakta sejarah. Fakta-fakta sejarah didapatkan melalui metode  penelitian, memanfaatkan ilmu-ilmu bantu, adanya teknik pengarsipan dan rekonstruksi melalui sejarah lisan.

Historiografi modern juga disebut penulisan sejarah kritis. Sebab, kepenulisannya dilakukan dengan prinsip-prinsip metode penelitian sejarah.

Ciri-ciri historiografi modern:

  1. Bersifat kritis historis, yaitu penelitian sejarah menggunakan pendekatan multidimensional;
  2. Bersifat metodologis, yaitu kepenulisan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah;
  3. Mengkritik historiografi nasional yang dinilai mempunyai kecenderungan menghilangkan unsur asing dalam proses pembentukan ke-Indonesia-an;
  4. Timbulnya peran-peran rakyat kecil.

Adapun contoh yang paling populer dari historiografi modern adalah:

  • Revolusi Pemuda yang ditulis oleh Benedict Anderson;
  • Pemberontakan Petani Banten 1888 yang ditulis oleh Sartono Kartodirdjo.

Historiografi modern meskipun sudah kompleks dalam penyusunannya, di samping memiliki kelebihan, historiografi jenis ini juga memiliki kekurangan. Berikut kelebihan dan kekurangan dari historiogradi modern:

Kelebihan historiografi modern:

  • Memakai penulisan sejarah kritis;
  • Memakai pendekatan multidimensional;
  • Mengubah pandangan religio magis atau segala sesuatu yang dikaitkan dengan hal-hal gaib menjadi pandangan yang bersifat ilmiah;
  • Memakai dinamika masyarakat Indonesia dari berbagai aspek kehidupan.
Baca :   Macam-macam Metode Sistem Pendukung Keputusan (SPK)

Kekurangan historiografi modern:

  • Kurang fleksibel, sebab terlalu kaku terhadap metode ilmiah;
  • Belum bisa menjelaskan sejarah secara maksimal;
  • Belum tentu bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme, sebab terkadang juga hanya untuk tujuan akademis.

Fungsi Historiografi

Setelah memahami tiga jenis historiografi sebagaimana dijelaskan di atas, mari kita memahami fungsi dari historiografi. Fungsi historiografi dibagi menjadi tiga, di antaranya:

  1. Fungsi genetis, yaitu untuk mengungkapkan asal usul dari suatu peristiwa. Fungsi ini dapat kita temukan pada contoh-contoh historiografi tradisional, seperti Babad Tanah Jawa, Sejarah Melayu dan lainya;
  2. Fungsi didaktis, yaitu yaitu fungsi yang mendidik. Artinya karya-karya sejarah di dalam historiografi mengandung pelajaran penting, himah hingga suri tauladan yang dapat dijadikan acuan para pembaca;
  3. Fungsi pragmatis, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya untuk melegitimasi suatu kekuasaan agar terlihat kuat dan berwibawa. Fungsi ini dapat kita temukan pada historiografi tradisional, yang mana memiliki tujuan agar masyarakat di sekitar mengakui kewibaan dan kesaktian para raja. Di samping itu, fungsi ini juga dapat ditemukan pada historiografi kolonial, yang mana memiliki tujuan agar kedudukan Belanda di tanah Indonesia semakin kuat.

Prinsip-prinsip Historiografi

Prinsip-prinsip historiografi terdiri dari enam, di antaranya:

  • Bersifat deskriptif analitis;
  • Memerlukan episode-episode tertentu;
  • Memerlukan seleksi terhadpa peristiwa sejarah;
  • Memerlukan periodisasi berdasarkan kriteria tertentu;
  • Terdapat penentuan fakta kausal (sebab dan akibat);
  • Peristiwa diceritakan secara kronologis, dari awal hingga akhir.

Demikian pembahasan tentang historiografi secara mendalam. Semoga Anda mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru dari pembahasan tersebut.

You may also like

Leave a Comment