Inflasi: Pengertian, Penyebab, Dampak & Cara Mengatasi

by Trianilus
0 comment 102 views
Inflasi: Pengertian, Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasi

Pernahkah Anda mendengar kata inflasi? Jika belum, pastinya Anda pernah mendengar kenaikan harga barang-barang di pasar.

Salah satu contohnya adalah cabai. Ya, pada waktu tertentu, harga cabai terus merangkak naik, terutama pada saat musim kemarau panjang yang disertai dengan permintaan pasar yang cukup tinggi. Bahkan, tidak jarang cabai per kilogram dibanderol Rp 100 ribu lebih.

Lonjakan harga secara terus menerus ini memang tidak dapat disebut inflasi, namun ia menjadi penyumbang inflasi.

Dampak inflasi akan berpengaruh terhadap perekonomian negara. Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan berbagai cara untuk menjaga laju inflasi supaya tetap terkontrol.

Sebenarnya apa itu inflasi?

Pengertian Inflasi

Secara singkat, inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga secara terus menerus. Secara luas, inflasi adalah suat kondisi perekonomian di suatu negara di mana terjadi kecenderungan kenaikan harga dan jasa secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi, kenaikan harga yang bersifat sementara tidak dapat disebut sebagai inflasi. Seperti kenaikan harga barang menjelang Idul Fitri. Selain itu, kenaikan satu atau dua barang saja juga tidak dapat disebut inflasi. Misalnya kenaikan harga cabai. Namun, jika kenaikan harga cabai itu berdampak terhadap kenaikan harga barang-barang lainnya secara meluas, hal ini dapat dikatakan sebagai inflasi.

Kenaikan harga barang dan jasa secara meluas akan mengakibatkan penurunan nilai uang. Sehingga, inflasi dapat diartikan juga sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa.

Inflasi mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Penghasilan atau gaji masyarakat akan sulit memenuhi kebutuhan hidup.

Faktor Penyebab

Inflasi tidak terjadi begitu saja alias tanpa sebab. Ada faktor yang memengaruhi kenaikan harga dan barang secara terus menerus, di antaranya:

Baca :   Kerja Part Time Ini Bisa Kamu Ambil Sambil Kuliah di Australia

1. Meningkatnya Permintaan (Demand Pull Inflation)

Inflasi dapat terjadi karena permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa mengalami peningkatan. Sementara, di sisi lain, barang atau jasa yang tersedia jumlahnya terbatas alias tidak mampu mencukupi permintaan masyarakat. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan barang di pasar.

Tidak hanya peningkatan permintaan barang dari masyarakat dalam negeri, permintaan barang -dari masyarakat luar negeri yang tinggi (yang mendorong kegiatan ekspor) juga menjadi penyebab terjadinya inflasi. Selain itu, belanja pemerintah yang tinggi dan permintaan barang atau jasa untuk swasta yang mengalami peningkatan juga menjadi faktor yang memengaruhi terjadinya inflasi.

2. Meningkatnya Biaya Produksi (Cost Pull Inflation)

Peningkatan biaya produksi juga menjadi faktor yang memengaruhi terjadinya inflasi. Adapun penyebab dari peningkatan biaya produksi di antaranya harga bahan baku dan upah pekerja naik. Karena hal inilah produsen mengambil keputusan mengerek harga jual barang yang diproduksinya.

3. Tingginya Peredaran Uang

Inflasi akan terjadi ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat tinggi. Karena jumlah uang yang beredar sangat tinggi, harga barang pun akan mengalami kenaikan. Sebab, daya beli masyarakat juga mengalami kenaikan karena mempunyai banyak uang. Di sisi lain, stok barang tetap statis.

Tingginya peredaran uang di tengah masyarakat bisa membuat harga barang naik 100 persen. Karena hal ini, uang bernominal kecil menjadi tidak berarti.

Barangkali Anda bertanya-tanya mengapa pemerintah tidak mencetak uang banyak kemudian dibagi-bagikan ke masyarakat. Nah, inilah salah satu alasannya.

Dampak yang Terjadi

Inflasi tidak melulu memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Ya, ada beberapa pihak yang mendapatkan dampak positif dari inflasi di waktu dan kondisi tertentu. Berikut dampak yang terjadi akibat inflasi.

1. Dampak Terhadap Pendapatan

Inflasi, pada kondisi tertentu, memberikan dampak positif bagi kalangan pengusaha. Pengusaha akan melakukan lebih memperbanyak produksi guna memenuhi target pasar dan mengejar keuntungan yang lebih karena kenaikan harga barang. Hal ini dapat meningkatkan perekonomian pengusaha.

Sementara itu, bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap, mereka akan merasakan dampak negatif dari inflasi. Pengeluaran atau belanja masyarakat berpenghasilan tetap akan membengkak karena harga barang dan jasa mengalami kenaikan drastis dan dalam jangka waktu panjang.

Baca :   Teori Perdagangan Internasional dan Faktor Pendorongnya

2. Dampak Terhadap Minat Menabung

Sebagian besar masyarakat akan malas menabung di bank saat terjadi inflasi. Sebab, bunga tabungan yang didapat jauh lebih kecil karena tergerus inflasi. Di sisi lain, penabung dituntut untuk membayar biaya administrasi tabungannya setiap bulan.

3. Dampak Terhadap Harga Pokok

Inflasi membuat penetapan harga pokok menjadi sulit. Hal ini disebabkan persentase inflasi yang terjadi di kemudian hari sulit diprediksi dengan tepat. Akibatnya, penetapan harga pokok atau harga jual menjadi tidak akurat. Adapun pihak yang paling dirugikan dalam kasus ini adalah produsen.

4. Dampak Terhadap Ekspor

Kemampuan ekspor suatu negara akan mengalami penurunan ketika dihantam inflasi. Hal ini disebabkan biaya ekspor yang meroket tinggi dan daya saing produk ekspor menurun. Ujungnya, pendapatan dari devisa menjadi berkurang.

5. Dampak Terhadap Daya Beli Masyarakat

Daya beli masyarakat akan mengalami penurunan karena tingginya harga barang dan jasa. Padahal, konsumsi masyarakat merupakan motor penggerak ekonomi Indonesia. Jika daya beli masyarakat rendah, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan stagnan, bergerak lambat atau bahkan (parahnya) bergerak ke bawah yang berujung pada resesi.

Cara Mengatasi Inflasi

Sebagaimana yang disebutkan di awal bahwa pemerintah akan melakukan berbagai cara untuk mengatasi inflasi. Adapun cara yang harus dilakukan pemerintah adalah mengeluarkan kebijakan tertentu.

Berikut cara mengatasi inflasi dengan mengeluarkan kebijakan tertentu:

1. Kebijakan Fiskal

Pemerintah dapat menerapkan kebijakan fiskal untuk menyelamatkan kondisi ekonomi dari inflasi. Kebijakan ini dapat memengaruhi nominal pengeluaran dan penerimaan pemerintah. Nominal pengeluaran (belanja) pemerintah dapat membuat suatu negara mengalami inflasi karena jumlah uang beredar mengalami peningkatan.

Oleh karena itu, melalui kebijakan fiskal ini, pemerintah harus menghemat rencana pengeluaran negara. Saat pengeluaran ditekan, jumlah permintaan barang akan mengalami penurunan. Ujungnya, harga menjadi turun, dan inflasi dapat dikendalikan.

Cara berikutnya, pemerintah melakukan peningkatan tarif pajak. Kebijakan ini akan membuat aktivitas konsumsi masyarakat menurun. Menurunnya konsumsi masyarakat berpengaruh terhadap permintaan barang dan jasa yang juga mengalami penurunan. Dengan begitu, harga menjadi turun.

Baca :   Download Aplikasi PKG Guru

2. Kebijakan moneter

Cara mengatasi inflasi selanjutnya adalah dengan menggunakan kebijakan moneter. Melalui kebijakan ini, diharapkan kondisi keuangan negara menjadi stabil. Berikut tiga jenis kebijakan moneter yang dapat diterapkan untuk mengatasi inflasi:

Pertama, penetapan persediaan kas oleh bank sentral suatu negara (jika di Indonesia berarti Bank Indonesia). Kebijakan ini dilakukan dengan meningkatkan batas minimum kas atau persentase saldo setiap lembaga perbankan di suatu negara. Dengan peningkatan saldo kas minimum, bank akan sulit mengeluarkan uang lebih banyak. Ya, kebijakan ini memang bertujuan untuk mengurangi peredaran uang, sehingga inflasi dapat diatasi.

Kedua, menerapkan kebijakan diskonto. Caranya dengan meningkatkan nilai suku bunga. Cara ini membuat masyarakat lebih bersemangat menyimpan uangnya di bank. Sehingga, peredaran uang dapat ditekan.

Ketiga, melakukan operasi pasar terbuka. Caranya pemerintah menjual Surat Utang Negara (SUN) kepada masyarakat secara terbuka. SUN merupakan investasi jangka panjang. Cara ini membuat masyarakat beralih melakukan investasi jangka panjang dengan membeli SUN dibandingkan mengeluarkan uang untuk belanja (konsumsi). Jika konsumsi mengalami penurunan, maka permintaan juga mengalami penurunan. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan harga.

Lebih lanjut, uang yang diterima pemerintah dari masyarakat yang membeli SUN akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Setelah rampung dan sudah bisa difungsikan, infrastruktur ini akan memperoleh pemasukan. Nah, pemasukan inilah yang akan dikembalikan kepada masyarakat pembeli SUN beserta bunganya.

3. Kebijakan Lainnya

Pemerintah masih bisa menggunakan kebijakan lain jika dua cara di atas masih belum mampu menekan inflasi. Pertama, meningkatkan produksi barang dengan cara memberi subsidi bagi sektor industri agar lebih banyak memproduksi barang. Pemerintah juga bisa membuka keran impor untuk memenuhi produksi barang yang ketersediaannya terbatas.

Cara ini membuat jumlah konsumsi dan permintaan menjadi seimbang. Sehingga, harga menjadi stabil daripada sebelumnya.

Kedua, menetapkan harga maksimum. Harga maksimum adalah harga paling tinggi yang menjadi batasan harga jual. Produsen tidak boleh menetapkan harga jual suatu barang di atas harga maksimum yang telah ditetapkan. Dengan cara ini, inflasi dapat diatasi.

Demikian pembahasan lengkap mengenai inflasi. Semoga bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment