Konsep Berpikir Diakronik dan Sinkronik Beserta Contohnya

by Trianilus
0 comment 101 views
Konsep Berpikir Diakronik dan Sinkronik Beserta Contohnya

Berpikir sejarah dapat dilakukan dengan cara diakronik dan sinkronik. Kedua cara berpikir sejarah ini memiliki ciri-ciri dan konsep yang berbeda. Apakah Anda sudah tahu ciri-ciri dan konsep dari diakronik dan sinkronik?

Jika belum tahu, simak ulasan tentang konsep berpikir diakronik dan sinkronik beserta contohnya di bawah ini.

Berpikir Diakronik

Kata ‘diakronik’ berasal dari bahasa Latin, yakni ‘dia’ yang berarti melalui atau melampaui dan ‘chronicus’ yang berarti waktu. Sehingga, berpikir diakronik dalam sejarah diartikan sebagai cara menganalisis atau menelusuri suatu peristiwa sejarah dari awal hingga akhir kejadian. Berpikir diakronik juga dapat diartikan memanjang dalam waktu namun terbatas dalam ruang.

Dari pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa berpikir diakronik ‘mengandalkan’ kronologis dalam menganalisis peristiwa sejarah. Kronologis ialah catatan peristiwa-peristiwa yang diurutkan berdasarkan waktu kejadian.

Dengan kronologis, kita dapat merekonstruksi kembali suatu peristiwa sejarah berdasarkan urutan waktu secara tepat. Selain itu, kita juga dapat membandingkan peristiwa sejarah yang terjadi pada waktu yang sama namun di tempat yang berbeda yang saling berhubungan.

Berikut adalah konsep dari berpikir diakronik:

  • Memahami peristiwa dalam masyarakat sebagai sesuatu yang terus bergerak dan saling berkaitan atau memiliki hubungan sebab dan akibat;
  • Mempelajari kehidupan di masyarakat secara memanjang dan mempunyai dimensi waktu;
  • Dapat menguraikan proses perubahan peristiwa yang terjadi dari waktu ke waktu.

Adapun ciri-ciri dari berpikir diakronik, di antaranya:

  • Memanjang dalam waktu namun terbatas dalam ruang;
  • Mempelajari peristiwa sejarah berdasarkan berlalunya waktu;
  • Memiliki cakupan kajian yang luas;
  • Kajiannya memanjang dan mempunyai dimensi waktu;
  • Bersifat dinamis;
  • Bersifat vertikal;
  • Terdapat konsep perbandingan berdasarkan perkembangan zaman.
Baca :   Sejarah Perang Salib 3: Latar Belakang-Akhir Perang

Tujuan dari berpikir diakronik adalah agar kita mempelajari peristiwa sejarah berdasarkan kronologis atau urutan waktu yang tepat dan teratur. Seperti halnya kita mempelajari kronologi pertempuran arek-arek Suroboyo yang menggunakan batasan waktu, yakni pada 25 Oktober 1945 hingga 27 November 1945. Dari rentang waktu tersebut, kita mencari dan merinci peristiwa apa saja yang terjadi pada pertempuran arek-arek Suroboyo.

Agar lebih mudah memahami konsep dari cara berpikir diakronik, simak contoh peristiwa sejarah di bawah ini.

Contoh Berpikir Diakronik

Berikut adalah contoh dari berpikir diakronik tentang ‘Pertempuran Arek-arek Suroboyo’ yang terjadi pada 25 Oktober hingga 27 November 1945:

Pada tanggal 25 Oktober 1945, tentara Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) bersama Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menginjakkan kaki di tanah Surabaya. Mereka ingin ‘mengembalikan’ Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.

Pada tanggal 27 Oktober 1945, tepatnya setelah peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda (sehingga menjadi berwarna merah putih, ‘bendera Indonesia’), pertempuran pertama meletus antara Indonesia dan Inggris. Pada tanggal 29 Oktober 1945, pertempuran itu ‘secara resmi’ ditandatangani antara Indonesia dan Inggris.

Pada 30 Oktober 1945, pertempuran mencapai puncaknya. Pimpinan tentara Inggris di Jawa Timur, Brigadir Jenderal Mallaby tewas pada pukul 20.30 WIB. Jenderal Mallaby kemudian diganti oleh Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansegh.

Pada 10 November 1945, Jenderal Mansegh mengeluarkan ultimatum untuk meminta pihak Indonesiau untuk menyerahkan seluruh persenjataan dan meyetop perlawanan terhadap Inggris. Namun, ultimatum itu tak dihiraukan oleh arek-arek Suroboyo, sehingga meletuslah serangan besar-besaran dari tentara Inggris atau AFNEI.

Arek-arek Suroboyo pun melakukan perlawanan. Pertempuran hebat akhirnya meletus antara Inggris dan arek-arek Suroboyo. Pertempuran 10 November 1945 ini kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Baca :   Sejarah Zaman Perundagian di Indonesia

Pertempuran berakhir pada 28 November 1945. Korban dari pihak Surabaya diperkirakan mencapai 20.000 orang. Sementara pihak Inggris diperkirakan 1.500 orang.

Berpikir Sinkronik

Kata ‘sinkronik’ berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘syn’ yang berarti dengan dan ‘chronoss’ yang berarti waktu. Berpikir sinkronik ialah mempelajari peristiwa sejarah dengan segala aspeknya pada waktu tertentu dan secara mendalam.

Jika berpikir diakronik diartikan memanjang dalam waktu namun terbatas dalam ruang, berpikir sinkronik diartikan sebaliknya, yakni meluas dalam ruang namun terbatas dalam waktu. Hal ini sebagaimana disampaikan Kuntowijoyo, bahwa konsep sinkronik mengedepankan penggambaran yang luas dalam ruang dan tidak begitu memikirkan dimensi waktu.

Berikut adalah konsep dari berpikir sinkronik:

  • Menjelaskan kehidupan masyarakat secara deskriptif dengan menjelaskan bagian per bagian;
  • Kerangka berpikir sinkronik melihat kehidupan sosial secara luas dengan berdimensi ruang;
  • Menjelaskan fungsi dan struktur dari setiap unit dalam kondisi yang tetap

Adapun ciri-ciri dari berpikir sinkronik, di antaranya:

  • Memahami peristiwa sejarah pada waktu tertentu;
  • Memahami peristiwa sejarah tertentu secara mendalam
  • Fokus terhadap pola-pola, gejala dan karakter pada suatu peristiwa sejarah;
  • Bersifat horizontal;
  • Tidak ada konsep perbandingan;
  • Cakupan kajian sangat sempit dan sistematis.

Agar lebih mudah memahami konsep dari cara berpikir sinkronik, simak contoh peristiwa sejarah di bawah ini.

Contoh Berpikir Sinkronik

Berikut adalah contoh dari berpikir diakronik tentang ‘Pembacaan Teks Proklamasi’:

Pembacaan teks proklamasi dilakukan pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Pembacaan teks proklamasi berlokasi di rumah Soekarno, tepatnya di Jl. Pegangsaan Timur no. 56 (saat ini jalan ini berubah nama menjadi Jalan Proklamasi). Hadir kurang lebih 500 orang pada momen penting itu. Mereka berasal dari berbagai kalangan dengan membawa benda apapun yang bisa dijadikan senjata.

Baca :   Sejarah Konflik Kashmir, Perang Antara India-Pakistan

Bukan tanpa alasan, mereka membawa benda apapun yang bisa dijadikan senjata karena Jepang masih berada di Jakarta sekalipun kalah dari sekutu dengan ditandai hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Dengan kata lain, kondisi Jakarta saat itu belum betul-betul kondusif.

Mulanya, pembacaan teks proklamasi diagendakan berlokasi di lapangan Ikeda. Namun lokasi dipindahkan ke tempat tinggal Soekarno karena untuk menghindari pertumpahan darah. Akibatnya, lebih dari 100 orang anggota barisan pelopor yang telah berada di lapangan Ikeda berjalan ke rumah Soekarno.

Mereka terlambat sehingga tidak sempat mendengarkan pembacaan teks proklamasi. Mereka kemudian menuntut untuk pembacaan ulang. Namun permintaan mereka ditolak serta diberikan amanat oleh Moh. Hatta.

Perpaduan Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik

Cara berpikir diakronik dan sinkronik memang memiliki perbedaan. Sebagaimana penjelasan di atas, berpikir diakronik menggunakan penelusuran masa lalu yang menekankan pada waktu kejadian dan proses terjadinya suatu peristiwa sejarah. Sementara berpikir sinkronik memperluas ruang yang terjadi dan mementingkan struktur yang terdapat pada suatu peristiwa.

Namun, kedua cara berpikir ini dapat dipadukan atau digabungkan. Perpaduan cara berpikir diakronik dan sinkronik akan menghasilkan pemahaman bukan hanya tentang apa yang terjadi, melainkan juga mengapa peristiwa sejarah itu terjadi. Selain itu, perpaduan ini juga dapat menjelaskan keterkaitan antar bagian, urutan kronologis dan dinamis dalam rentang waktu tertentu.

Demikian ulasan tentang konsep berpikir diakronik dan sinkronik dalam sejarah beserta contohnya. Semoga ulasan ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan baru untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment