Memahami Bagaimana Proses Terjadinya Hujan

by Shara Nurrahmi
0 comment 20 views
Memahami Bagaimana Proses Terjadinya Hujan

Di musim penghujan seperti ini, sangat penting bagi siapa saja untuk memahami bagaimana proses terjadinya hujan dan apa saja tahapannya. Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki dua musim. Dua musim tersebut adalah musim kemarau dan musim hujan.

Musim penghujan ini biasanya terjadi sejak bulan Oktober hingga Maret. Sedangkan musim kemarau akan terjadi pada bulan April hingga September. Hujan merupakan siklus perputaran air dari bumi ke atmosfer dan kembali lagi ke bumi yang juga disebut sebagai siklus hidrologi. Proses tersebut berlangsung secara terus menerus. Hujan sangat penting bagi makhluk hidup, termasuk pada siklus hidup tumbuhan.

Hujan dapat turun ke bumi setelah melewati beberapa tahap penting. Proses terjadinya hujan terdiri dari tiga tahapan utama. Berikut ini adalah ulasan yang dapat membantu Anda untuk memahami bagaimana proses terjadinya hujan:

Tahap Proses Terjadinya Hujan Diawali dari Evaporasi (Penguapan)

Evaporasi merupakan tahap awal dari rangkaian proses terjadinya hujan. Pada tahap ini akan terjadi penguapan pada sumber air di bumi yang disebabkan oleh panas matahari.

Energi panas dari matahari akan membuat sumber air di permukaan bumi seperti sungai, danau, laut ataupun sumber air lainnya akan mengalami penguapan.

Penguapan atau evaporasi adalah tahap terjadinya perubahan pada air yang berwujud cair, menjadi gas. Air yang telah berubah wujud menjadi gas ini akan menjadi uap-uap air yang nantinya akan naik ke atmosfer bumi.

Baca :   Peran Jantung pada Sistem Peredaran Darah Makhluk Hidup

Jika energi panas pada matahari semakin tinggi, maka akan semakin banyak juga uap air dari hasil penguapan yang akan naik ke atmosfer bumi.

Kondensasi (Pengembunan)

Tahap berikut yang dapat membantu Anda memahami bagaimana proses terjadinya hujan adalah kondensasi atau pengembunan. Pada tahap kondensasi atau pengembunan ini, uap air akan berubah menjadi partikel-partikel es yang memiliki ukuran sangat kecil.

Uap air dapat berubah wujud menjadi es karena dipengaruhi oleh suhu udara yang sangat rendah pada titik ketinggian tersebut. Uap air yang telah berubah menjadi partikel es ini kemudian akan saling bergabung sehingga dapat membentuk awan.

Saat hujan akan turun, biasanya awan akan terlihat tebal dan menghitam. Nah, awan yang tebal dan hitam tersebut dapat terbentuk karena banyaknya partikel yang bergabung. Terbentuknya awan dari penggabungan antara es atau butiran-butiran air ini disebut sebagai koalensi.

Dalam proses terjadinya hujan, es atau butiran air akan memiliki ukuran jari-jari yang berjumlah sekitar 5 hingga 20 mm. tetes air hujan akan turun ke permukaan bumi dengan kecepatan 0,01 hingga 5 cm/detik. Sedangkan untuk tetes air yang tidak jatuh ke permukaan bumi memiliki kecepatan udara ke atas yang lebih tinggi.

Presipitasi

Untuk dapat memahami bagaimana proses terjadinya hujan dengan baik, Anda perlu mengetahui tiga tahapan terjadinya hujan secara lengkap. Tahap terakhir yang menjadi bagian dari proses terjadinya hujan adalah presipitasi.

Baca :   Jenis Penyakit pada Sistem Peredaran Darah Manusia

Pada tahap presipitasi, awan yang terbentuk dari uap air pada proses kondensasi akan mencair akibat suhu udara yang tinggi. Tahapan ini juga disebut sebagai tahap terjadinya hujan.

Awan yang telah terbentuk kemudian akan menjadi butiran-butiran air setelah terkena pengaruh dari suhu udara yang tinggi. Butiran-butiran air tersebut nantinya akan jatuh dan membasahi permukaan bumi.

Awan-awan yang telah terbentuk kemudian akan tertiup oleh angin dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Proses perpindahan awan ini disebut sebagai adveksi.

Adveksi merupakan proses perpindahan dari titik satu ke titik yang lainnya dalam satu garis horizontal. Perpindahan ini terjadi karena arus angin atau perbedaan tekanan udara.

Proses adveksi ini dapat membuat awan berpindah dan menyebar dari atmosfer lautan ke atmosfer daratan. Awan-awan yang telah terbawa angin ini akan memiliki ukuran yang semakin besar. Ukuran awan yang semakin membesar ini terjadi karena awan yang tertiup akan akan terus menyatu dengan awan yang lainnya.

Butiran-butiran es yang ada di awan nantinya akan jatuh ke permukaan bumi karena ditarik oleh gaya gravitasi. Ketika jatuh ke permukaan bumi, butiran-butiran es tersebut akan melalui lapisan yang lebih hangat sehingga butiran es akan berubah menjadi butiran air.

Lapisan udara yang hangat akan membuat sebagian butiran air menguap kembali ke atas dan sebagian butiran air lainnya akan turun ke permukaan bumi dan disebut sebagai hujan.

Baca :   Pengertian Bunyi, Cara Merambat, Sifat dan Jenisnya

Fenomena Proses Terjadinya Hujan

Mungkin Anda pernah menyaksikan fenomena hujan salju yang terjadi di Negara Barat seperti Eropa, baik secara virtual maupun melihatnya langsung. Tidak sedikit juga orang yang belum memahami bagaimana proses terjadinya hujan salju di Negara Barat.

Bagaimana hujan salju bisa terbentuk? Hujan salju bisa terbentuk karena suhu udara yang berada di sekitar awan berkisar minus 0 derajat celcius atau terlalu rendah. Suhu udara yang terlalu rendah ini dapat membuat butiran air yang turun menjadi padat, yang kemudian disebut sebagai salju.

Hujan salju biasanya terjadi pada daerah yang memiliki iklim subtropis. Oleh karena itulah, di negara beriklim tropis seperti Indonesia tidak pernah mengalami hujan salju yang intens seperti di Negara Barat.

Itulah ulasan tentang proses terjadinya hujan. Semoga ulasan kali ini dapat membantu Anda untuk memahami bagaimana proses terjadinya hujan.

You may also like

Leave a Comment