Mengupas Tuntas Revolusi Industri 4.0

by Trianilus
0 comment 104 views
Revolusi industri 4.0

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah revolusi industri 4.0 di berbagai kesempatan. Bukan hanya tokoh nasional, tokoh internasional juga tak jarang membicarakan tentang revolusi industri 4.0.

Revolusi industri sendiri sudah terjadi sejak tahun 1784 dan masih berlanjut hingga sekarang. Saat itu, industri didominasi dengan mesin bertenaga uap. Perubahan pun terjadi dari waktu ke waktu, hingga akhirnya pada tahun 2018 kita mengenal revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat.

Di Indonesia, perkembangan teknologi dan informasi juga terjadi sangat cepat. Revolusi industri tentu sangat berpengaruh besar terjadap dunia industri dan perilaku masyarakat.

Dalam dunia industri, tenaga manusia sudah tidak diandalkan secara besar-besaran dalam proses produksi barang. Sebab, saat ini barang diproduksi secara massal dengan menggunakan teknologi dan mesin yang canggih. Kondisi inilah yang disebut sebagai revolusi industri 4.0.

Tidak bisa dielakkan, perlahan tapi pasti, semua hal akan menuju kea rah digitalisasi. Sehingga semua kebutuhan kini telah tersedia secara digital, mulai dari jual-beli, jasa, hingga transaksi pembayaran. Kondisi seperti ini terjadi karena adanya perubahan besar di era revolusi industri 4.0.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang revolusi industri 4.0, simak ulasan di bawah ini.

Pengertian Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri adalah perubahan besar terhadap cara manusia dalam mengelola sumber daya dan memproduksi barang. Setiap perubahan besar ini selalu berpengaruh terhadap segala hal yang berkaitan dengan ekonomi, politik, budaya dan militer. Misalnya, di bidang ekonomi, revolusi industri mengakibatkan jutaan pekerjaan lama menghilang, dan jutaan pekerjaan baru mulai bermunculan.

Revolusi industri tercatat sudah mengalami perubahan hingga empat kali, yang mana dalam perubahan paling terakhir kita kenal dengan sebutan revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet dengan dunia usaha dan produksi di sebuah industri. Dengan kata lain, internet memiliki peran penting dalam proses produksi.

Dalam penerapannya, revolusi industri 4.0 sudah tidak lagi memberdayakan manusia sebagai tenaga kerja. Sebab, semuanya telah diganti dengan penerapan konsep otomatisasi. Otomatisasi adalah pengalihan tenaga yang dihasilkan oleh manusia dengan tenaga yang bersumber pada mesin yang secara otomatis melakukan dan mengatur pekerjaan. Jadi, industri sudah tidak lagi memanfaarkan manusia dalam peran pengawasan.

Oleh karena itu, tingkat efektivitas dan efisiensi waktu semakin meningkat. Waktu sendiri merupakan satu hal yang sangat penting dalam dunia industri.

Revolusi industri 4.0 pertama kali dicetuskan oleh Jerman pada 2011, yang kemundian menjadi tema utama pada pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss pada 2016. Beberapa negara yang telah memiliki program-program untuk mendukung industrinya menuju revolusi industri 4.0 di antaranya Jerman, Amerika Serikat, Inggris, China, Jepang, Korea, Vietnam dan India.

Mengenal Revolusi Industri 1.0 Hingga 4.0

Sebelum lahir revolusi industri 4.0, dunia industri mengalami perubahan besar sebanyak tiga kali, yang kita kenal dengan sebutan revolusi industri 1.0, revolusi industri 2.0 dan revolusi industri 3.0. Apa saja perubahan-perubahan besar yang terjadi pada revolusi industri 1.0 hingga revolusi industri 4.0?

Baca :   Macam-macam Metode Sistem Pendukung Keputusan (SPK)

Revolusi Industri 1.0

Revolusi Industri 1.0

Revolusi industri 1.0 terjadi pada tahun 1784 atau akhir abad ke-18. Perubahan besar yang terjadi adalah digunakannya mesin uap dalam proses produksi barang. Sebelumnya, pabrik-pabrik memanfaatkan tiga tenaga untuk memproduksi barang, yakni tenaga otot, tenaga air dan tenaga angin.

Tenaga otot biasanya didapatkan melalui manusia, kuda, kerbau, sapi dan lain sebagainya. Tenaga ini memiliki keterbatasan seperti tidak bisa mengangkat barang yang berbobot sangat berat. Selain itu, manusia dan hewan membutuhkan istirahat dan makan untuk memulihkan tenaganya, yang mana dapat memperlambat proses produksi.

Tenaga air dan angin juga memiliki keterbatasan dalam memproduksi barang. Sebab, kedua tenaga ini mengharuskan adanya air dan angin. Dengan kata lain, tenaga ini tidak bisa digunakan di mana saja.

Dengan digunakannya tenaga uap pada revolusi industri 1.0, produksi barang mengalami efisiensi dan efektivitas. Barang-barang yang diproduksi jauh lebih banyak, hemat biaya, lebih murah dan lebih mudah didapat. Intinya, industri-industri telah menggunakan mesin uap untuk mencapai hasil produksi yang lebih cepat dan tidak membutuhkan tenaga ekstra dari manusia atau hewan.

Revolusi Industri 2.0

Revolusi Industri 2.0

Revolusi industri 2.0 terjadi pada tahun 1870. Perubahan besar menyertainya adalah digunakannya tenaga listrik dalam proses produksi barang. Dengan begitu, tenaga uap yang diterapkan pada revolusi industri 1.0 mulai tergantikan oleh tenaga listrik.

Namun, ada satu persoalan yang dapat menghambat proses produksi pada saat itu, yakni terbatasnya alat transportasi. Proses produksi atau perakitan mobil saat itu sangat lama. Sehingga, proses perakitan harus dilakukan banyak orang untuk menghasilkan mobil dalam jumlah banyak.

Hingga akhirnya, proses perakitan mobil dapat dipersingkat dengan bantuan alat-alat bertenaga listrik. Selain itu, para perakit telah dilatih menjadi spesialis untuk mengurus satu bagian perakitan saja. Sehingga, satu mobil dapat dikerjakan oleh banyak orang dan dapat menghemat waktu produksi. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya memanfaatkan satu orang dalam merakit satu mobil.

Revolusi 3.0

Revolusi 3.0

Revolusi industri 3.0 terjadi pada tahun 1970. Revolusi ketiga ini dipicu oleh mesin yang dapat bergerak dan berpikir secara otomatis, yakni komputer. Dengan kata lain, komputer dijadikan sebagai alat utama dalam proses produksi barang.

Colossus merupakan komputer pertama yang ‘lahir’ di era perang dunia II. Komputer ini berukuran sangat besar dan tidak memiliki RAM sehingga tidak bisa menyerap perintah dari manusia. Bahkan, komputer ini membutuhkan daya listrik hingga 8.500 watt.

Seiring berjalannya waktu, terjadi proses modernisasi pada komputer. Komputer sudah tidak berukuran ‘jumbo’ lagi dan listrik yang dibutuhkan semakin sedikit. Kemampuannya pun semakin canggih.

Alhasil, proses-proses produksi pada revolusi industri 3.0 sudah mulai ‘menyingkirkan’ tenaga manusia. Operator dan pengendali lini produksi telah dikendalikan oleh komputer.

Revolusi industri 4.0

Revolusi industri 4.0

Revolusi industri 4.0 terjadi pada tahun 2018 hingga sekarang. Perubahan besar yang terjadi ditandai dengan sistem cyber-physical atau mesin-mesin fisik dapat dikendalikan melalui jaringan nirkabel yang luas, yakni internet.

Industri telah memanfaatkan dunia virtual dalam bentuk konektivitas antaran manusia, mesin dan data. Kita mengenalnya dengan sebutan internet of things (IoT). Intinya, revolusi industri keempat ini menanamkan teknologi super cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Revolusi industri 4.0 memunculkan inovasi-inovasi baru dan membuka lahan bisnis yang sangat besar. Contohnya, munculnya sistem transportasi online seperti ojek online dan taksi online. Lapangan kerja baru atau profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya muncul di era perubahan besar ini.

Baca :   Mengupas Konsep Ekonomi Kebutuhan dan Kelangkaan

Unsur Utama Revolusi Industri 4.0

Teknologi merupakan dasar dari perkembangan revolusi industri 4.0. Terdapat sejumlah teknologi yang menjadi unsur utama dalam perkembangan industri yang mengalami digitalisasi:

1. Internet of Things (IoT)

Internet of Things (IoT) merupakan konsep di mana suatu alat fisik atau mesin yang tersambung dengan jaringan internet sehingga dapat mentransfer data tanpa membutuhkan bantuan manusia. Kini siapa saja bisa berjelajah di dunia maya asalkan terdapat jaringan internet.

2. Cyber security

Cyber security adalah ‘alat’ untuk mengamankan informasi dan mencegah adanya cyberattack. Apa itu cyberattack? Ialah aktivitas disengaja yang menargetkan sistem informasi untuk mengubah, mencuri atau merusak informas, integritas dan kerahasiaan. Jadi, Anda tidak perlu khawatir untuk menyimpan informasi secara daring, sebab keamanan akan terjamin.

3. Big data

Big data merupakan istilah untuk menggambarkan informasi atau data yang besar. Informasi atau data itu bisa diolah, disusun, dianalisa dan disimpan. Biasanya, big data dimanfaatkan dalam berbagai bisnis karena mampu membantu dan menentukan arah bisnis sebuah perusahaan.

4. Artifical intelegence

Artifical intelegence merupakan teknologi komputer yang memiliki kecerdasan seperti manusia. Artificial intelegence dapat mempelajari, memahami, menganalisis dan memprediksi data secara berkelanjutan. Bahkan kemampuan memprediksinya menjadi semakin baik jika data yang diterima sangat banyak. Dengan begitu, peran manusia dalam pengambilan keputusan tegantikan dengan teknologi canggih ini.

5. Integrated system

Integrated system merupakan serangkaian proses yang menghubungkan sistem komputer dengan software secara fisik dan fungsional, serta dapat menyatukan setiap komponen sub sistem agar bisa berfungsi dengan baik dan maksimal. Dengan sistem, semua rangkaian proses dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

6. Argumented reality

Argumented reality merupakan teknologi yang dapat bekerja sama antara dunia maya dua atau tiga dimensi ke dalam dunia nyata tiga dimensi. Proyeksi akan dilakukan dalam waktu yang nyata.

7. Addictive manufacturing

Addictive manufacturing merupakan teknologi percetakan 3D yang biasa digunakan oleh industri manufaktur. Di era revolusi industri 4.0, bentuk design yang masih berbentuk digital dapat diwujudkan dalam produk nyata dengan menggunakan komputer dan software khusus. Hasilnya pun akan sama dengan design berbentuk digital.

8. Cloud computing

Selain tujuh poin yang telah disebutkan di atas, yang menjadi unsur utama dalam revolusi industri 4.0 adalah internet itu sendiri. Cloud Computing atau biasa kita sebut komputasi awan merupakan teknologi yang menggunakan internet mengelola dan menyimpan data.

Dampak Revolusi Industri 4.0 pada Ekonomi

Dampak Revolusi Industri 4.0

Teknologi yang menopang Revolusi Industri 4.0 terbukti memiliki dampak yang sangat besar pada ekonomi. Pergeseran besar terjadi pada sisi permintaan, seiring dengan meningkatnya transparansi, keterlibatan konsumen dan pola perilaku konsumen yang semakin dibangun di atas akses internet dan data seluler. Hal ini memaksa perusahaan atau pabrik menyesuaikan cara mereka mendesain, memasarkan hingga memberikan produk atau layanan.

Pergeseran besar juga terjadi pada sisi penawaran. Banyak perusahaan atau pabrik saat ini yang melakukan penawaran dengan pendekatan teknologi. Mereka mengandalkan inovasi-inovasi baru dalam pemasaran, penjualan dan distribusi serta dapat menggulingkan pesaing-pesaingnya.

Di samping itu, revolusi industri 4.0 pun berdampak negatif pada beberapa hal, di antaranya berkurangnya ketersediaan lapangan kerja. Sebab, tenaga manusia dalam proses produksi tergantikan oleh teknologi. Angka pengangguran akan meningkat dan berdampak pada perekonomian negara.

Revolusi industri 4.0 juga mengharuskan industri atau perusahaan mengeluarkan biaya yang tinggi dan mengubah model bisnis yang telah diterapkan. Selain itu, penggunaan teknologi baru akan menyebabkan kerugian pada investasi tekbologi yang telah digunakan sebelumnya. Akan tetapi, dengan pembaharuan teknologi, proses produksi akan mencapai efisiensi dan efektivitas.

Baca :   Inflasi: Pengertian, Penyebab, Dampak & Cara Mengatasi

Cara Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Cara Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Untuk menekan dampak negatif yang terjadi akibat revolusi industri, kita harus ‘menyambutnya’ dengan bersikap tidak takut terhadap perubahan. Selain itu, soft skill juga dapat dijadikan modal utama dalam menentukan keberhasilannya di tengah perkembangan industri keempat ini. Bagaimana kita bersikap, menjaga etos kerja dan produktivitas, dan menjalin komunikasi dengan baik  kepada siapapun merupakan kemampuan nomor satu yang harus dimiliki semua orang.

Selain itu, berikut cara menghadapi revolusi industri 4.0 agar tidak termakan oleh perubahan-perubahan yang semakin canggih dan cepat:

1. Melek teknologi

Melek teknologi merupakan salah satu cara dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Kita diharuskan ‘mengepul’ berbagai informasi teknologi terbaru dari sisi produktifnya, bukan cuma unsur komersilnya.

Teknologi informasi juga meliputi pengetahuan terkait dampak positif dan negatifnya di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kita harus mengimbanginya dengan menguasai ilmu sosial.

2. Mempelajari hal baru

Mempelajari hal baru merupakan kewajiban bagi kita semua agar tidak terkikis oleh perubahan zaman. Kemampuan mempelajari baru berarti mampu menganalisis, memilah dan memahami sesuatu berdasarkan unsur pembentuknya, mampu mempelajari sifat dasarnya dan mampu mengerti cara kerja suatu proses teknologi.

3. Meningkatkan kreativitas

Era revolusi industri 4.0 selalu mengutamakan efektivitas dan efisiensi dalam proses produksi. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas untuk mencapai hal itu. Ketahuilah, era saat ini bisa jadi sesuatu yang baru sudah tidak ada lagi, namun sesuatu yang efektif dan efisiensi akan terus ada.

4. Meningkatkan kemampuan komunikasi

Dari tiga poin di atas, meningkatkan memampuan komunikasi merupakan satu cara yang sangat penting dalam menghadapi reovolusi industri 4.0. Bahkan, seseorang yang lihai terknologi dan dapat menciptakan karya atau aplikasi canggih dan berharga namun tidak mampu mengomunikasikannya kepada orang lain, maka aplikasi itu tidak akan menghasilkan apa-apa.

Prediksi Revolusi Industri 5.0

Jika ada revolusi industri 1.0, 2.0, 3.0 dan 4.0, maka ke depannya kita akan mengenal revolusi industri 5.0. Terkait kapan terjadinya, kita belum bisa memprediksinya. Namun, banyak ahli yang memprediksi revolusi industri 5.0 akan meletakkan sikap ‘memanusiakan manusia’ di tengah teknologi yang semakin canggih.

Dalam perkembangan teknologi, fenomena menurunnya sikap ‘memanusiakan manusia’ terjadi di beberapa negara. Misalnya Jepang yang mengalami kegagalan dalam mengembangkan aspek sosial kehidupan masyarakatnya.

Kita ketahui bersama, Jepang merupakan negara maju yang memiliki teknologi serba canggih. Namun kemajuan itu tidak diimbangi dengan indeks kebahagiaan masyarakat yang cukup. Bahkan karena kurangnya keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan berdampak pada meningkatnya angka bunuh diri.

Di sisi lain, masyarakat Jepang juga mengalami kekurangan populasi generasi muda. Salah satu penyebabnya adalah hubungan percintaan masyarakat di sana kurang berjalan dengan baik.

Kekurangan-kekurangan ini diprediksi akan diperbaiki dalam era revolusi industri 5.0. Perkembangan teknologi akan diimbangi dengan sikap memanusiakan manusia yang tidak dapat ditemukan di era revolusi industri 4.0. Selain itu, industri 5.0 akan mengacu pada kemampuan personalisasi konsumen (manusia) terhadap produk yang diproduksi secara otomatis oleh kecerdasan buatan.

Demikian ulasan tentang revolusi industri 4.0. Fenomena ini bukan terjadi satu kali saja, melainkan sudah empat kali dan diprediksi akan terjadi kelima kalinya di masa yang akan datang. Oleh karena itu, adaptasi terhadap hal baru merupakan hal wajib yang harus dilakukan agar tidak tergilas oleh perkembangan-perkembangan teknologi yang semakin canggih.

You may also like

Leave a Comment