Model Pembelajaran Inovatif

by Shara Nurrahmi
0 comment 101 views
Model Pembelajaran Inovatif

Model pembelajaran inovatif merupakan sistem pembelajaran baru, yang mana pusat dari kegiatan ini adalah siswa atau peserta didik. Biasanya, pengajar seringkali mendominasi kegiatan belajar mengajar. Namun, dengan berbasis pembelajaran inovatif, hal tersebut tidak berlaku. Model pembelajaran inovatif mendorong siswa untuk senantiasa aktif mencari informasi hingga mampu menyampaikannya. Disini juga mereka diajarkan untuk saling bertukar pikiran dengan baik bersama teman sebaya.

Mekanisme Model Pembelajaran Inovatif

Sejalan dengan tujuannya untuk membangun keaktifan siswa, model pembelajaran inovatif diimplementasikan sesuai dengan pola pikir yang membantu peserta didik untuk memahami, melakukan pembentukan konsep kembali, sampai menyalurkan informasi baru yang didapatkannya melalui cara penyampaian yang benar. Dengan demikian, mereka dinilai akan lebih mendalami materi dalam proses belajar mengajar.

Jika semula peserta didik hanya menjadi objek dalam pembelajaran, tidak berlaku pada model pembelajaran inovatif. Mereka dituntut untuk berperan sebagai subjek dalam pembelajaran. Nilai-nilai positif pun diharapkan dapat terserap sempurna, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Misal, sikap percaya diri untuk menyampaikan pendapat yang benar, kemandirian menuntaskan masalah, serta keberanian menjelaskan suatu hal kepada orang lain dengan tepat.

Dalam model pembelajaran inovatif, perubahan pada siswa terjadi melalui kemunculan struktur kognitif baru. Ditandai dengan hadirnya pemahaman mendalam dan utuh ketika mereka menerima informasi yang belum didapatkan sebelumnya. Hal yang demikian ini akan mendorong kenaikan komponen kognitif mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk memikirkan kembali berbagai ide yang didapatkan sebelumnya.

Para peserta didik menjadi memiliki tanggung jawab atas pembelajaran yang dijalaninya. Mereka pun akan menjadi seorang pemikir yang mandiri serta pengembang konsep dengan terintegrasi. Pertanyaan yang diberikan kepada mereka mampu dikembangkan hingga mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan menantang secara berdikari.

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Inovatif

Pengaturan model pembelajaran yang mendukung peningkatan level kognitif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Memberikan peluang pada siswa untuk belajar berdasarkan tujuan yang telah ditentukan dan mengembangkan berbagai ide menjadi lebih luas.
  • Mendorong siswa menjadi pribadi yang otonom ketika belajar serta berdiskusi, sehingga mereka mampu menyusun kembali ide-ide yang telah dikembangkan, lalu mengambil kesimpulan dari permasalahan yang ada.
  • Adanya pengembangan paradigma siswa terkait pentingnya pesan apabila dunia bukanlah ruang yang sempit. Di dalamnya banyak pandangan yang berbeda-beda.
  • Memposisikan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran. Kemudian penilaian yang dilakukan harus mampu mencitrakan konsep berpikir divergen siswa.
Baca :   Program Kerja Wakasek / Bidang Kesiswaan SMP dan SMA/SMK

Setiap tahapan dalam model pembelajaran inovatif mengikutsertakan periode yang mana pengetahuan mula para peserta didik didiskusikan secara eksplisit. Melalui diskusi kelas yang sekilas sama dengan negosiasi, guru memberikan sebuah gambaran untuk dikembangkan.

Saat pengetahuan awal para murid dihadapkan dengan gambaran yang dipaparkan oleh pendidik, strategi konflik kognitif berpeluang untuk berperan sebagai komponen utama. Mengenai hal tersebut, pemberdayaan pengetahuan siswa sejak awal merupakan cara yang paling tepat dalam pembelajaran inovatif.

Peran Guru Dalam Model Pembelajaran Inovatif

Secara lebih khusus, guru berperan sebagai seorang pengajar yang ahli di bidangnya, manajer, serta mediator dalam model pembelajaran ini. Mengenai penjelasan dari masing-masing peran guru tersebut akan dijelaskan di bawah ini.

Dalam perannya sebagai pengajar ahli, seorang guru diharapkan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Kemudian, guru pun seharusnya memberikan waktu yang cukup kepada peserta didik ketika mereka membutuhkan figur guru.

Dengan begitu, semua yang menjadi pertanyaan, sekaligus apa yang ingin diutarakan oleh murid bisa terlaksana. Saat siswa menemui sebuah masalah, guru harus mampu memberikan jawaban sebagai solusi yang membangun atas problem yang muncul. Bisa pula memancing siswa dengan memberikan kunci pemecahan masalah, sehingga mereka akan berpikir kritis untuk mengembangkannya.

Yang tidak kalah pentingnya, guru juga diwajibkan mengarahkan siswa ketika mereka menemui keadaan sulit untuk meraih tujuan. Seorang guru harus mampu membuat kesulitan itu menjadi mudah.

Kemudian, terkait peran guru sebagai manajer. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kewajiban bagi guru untuk melakukan monitoring terhadap masalah yang ditemui siswa. Selain itu, juga mengawasi sikap siswa terkait penggunaan waktu. Dengan begitu, siswa akan menjadi pribadi yang pintar juga berkarakter.

Selanjutnya, yaitu guru sebagai mediator. Layaknya mediator, seorang guru yang menjalankan program sekolah harus mampu menjadi perantara yang menghubungkan siswanya dalam proses transfer nilai-nilai positif. Guru pun akan menjadi penengah ketika muncul sebuah problem antar siswa. Selain itu, juga mengantarkan siswa untuk mampu memvisualisasikan yang ada di pikirannya. Dengan begitu, mereka akan berpikir kritis dan percaya diri menyampaikan argumen yang benar.

Jenis-Jenis Model Pembelajaran Inovatif

Model pembelajaran inovatif  terdiri dari beberapa macam, yang mana sangat bermanfaat ketika diterapkan. Sebagai referensi, berikut akan diuraikan mengenai jenis dari model pembelajaran inovatif lengkap dengan penjelasannya. Dari semua model yang akan disampaikan, seluruhnya tepat untuk diimplementasikan. Yang tentunya semakin membuat siswa antusias mengikuti pembelajaran.

1. Kooperatif Numberd Heads Together

Model jenis ini memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk saling bertukar ide serta mengolah jawaban yang paling benar. Tidak hanya itu, teknik pembelajaran yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) ini pun mengantarkan para murid untuk bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan tertentu. Perlu diketahui bahwa model ini tepat untuk digunakan dalam semua mata pelajaran pada semua tingkatan peserta didik.

Baca :   Download Aplikasi PKG Guru

Tahapan dari model pembelajaran berbasis Kooperatif Numberd Heads Together, yaitu:

  • Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok, yang mana setiap siswa yang tergabung dalam kelompok diberikan nomor urut. Pemberian nomor urut bisa secara acak maupun undian.
  • Pengajar memberikan tugas yang harus diselesaikan oleh masing-masing kelompok.
  • Dalam setiap kelompok, harus dipastikan bahwa semua anggota memahami jawaban yang telah disusun.
  • Guru memanggil salah satu siswa dari kelompok tertentu menggunakan nomor urut. Siswa yang dipanggil tersebut harus menjelaskan hasil diskusi kelompoknya.
  • Selanjutnya, kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi paparan yang telah disampaikan.

2. Kooperatif Group to Group Exchange

Gambaran umum dari metode pembelajaran ini yaitu antar kelompok saling bertukar informasi. Artinya, setiap kelompok akan menjelaskan topik yang dibahasnya kepada kelompok lain. dengan demikian, mereka akan saling bertukar pikiran dan menambah wawasan. Yang semula satu kelompok hanya membahas satu pokok bahasan menjadi memahami seluruh topik yang ada.

Berikut langkah-langkah untuk mengimplementasikan model pembelajaran jenis ini:

  • Guru harus memilih topic yang berbeda sesuai dengan jumlah kelompok yang akan dibentuk.
  • Kemudian, siswa diminta untuk membuat kelompok berdasarkan instruksi yang disampaikan oleh guru.
  • Lalu, berikan topic untuk setiap kelompok dan waktu agar mereka bisa saling berdiskusi untuk menyajikan topik yang telah diterima.
  • Guru memberikan petunjuk agar masing-masing kelompok memilih satu orang atau lebih untuk dijadikan sebagai juru bicara. Tugasnya adalah untuk memaparkan penjelasan terkait topic yang telah dibahas kelompoknya kepada kelompok lain.
  • Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk saling menanggapi dan bertukar pendapat.

3. Kooperatif Decision Making

Dalam metode jenis ini, siswa dituntun untuk berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Dengan kata lain, mereka didorong untuk menyelesaikan masalah secara logis hingga menemui solusi yang membangun, juga tepat untuk diterapkan. Yang mana sikap yang demikian ini sangat bermanfaat sebagai modal dalam kehidupan di masyarakat.

Cara untuk menerapkan Kooperatif Decision Making sebagai berikut:

  • Guru menayangkan sebuah permasalahan berupa wacana atau kasus yang sejalan dengan materi pembelajaran.
  • Selanjutnya, berikan pertanyaan supaya siswa dapat menyusun permasalahan sesuai dengan yang ditampilkan.
  • Instruksikan siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul lengkap dengan solusi yang tepat. Hal ini bisa dilakukan secara berkelompok maupun individu.
  • Kemudian, ajak siswa agar bisa menemukan penyebab munculnya masalah.
  • Terakhir, mintalah siswa untuk mengemukakan alternatif solusi yang tepat selaras dengan yang telah dikerjakan.
Baca :   Pengertian Minat Belajar & Faktor Yangg Mempengaruhi Minat Belajar

4. Kooperatif Jigsaw

Dalam metode ini, siswa akan tergabung dalam dua kelompok berbeda. Mulanya, mereka akan berada pada kelompok cooperative, lalu beralih ke kelompok ahli, dan selanjutnya kembali ke kelompok awal. Di bawah ini akan diuraikan mengenai tahapan yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Kooperatif Jigsaw:

1. Kelompok Cooperative

  • Pembentukan kelompok cooperative diserahkan kepada guru. Guru akan membentuk siswanya ke dalam kelompok-kelompok dengan anggota 3-5 orang atau menyesuaikan dengan jumlah siswa.
  • Kemudian, bagian materi yang berbeda kepada setiap anggota kelompok terkait pokok bahasan yang akan diajarkan. Dengan catatan, materi yang diberikan antar kelompok adalah sama. Misal, A, B, C tergabung menjadi satu kelompok. Materi untuk mereka itu berbeda. Namun, materi yang diperuntukkan kepada A, B,C harus sama dengan yang diberikan D, E, F dalam kelompok berbeda. Bisa jadi A memperoleh materi yang serupa dengan F, B dengan E, maupun C dengan D.
  • Setelah mendapatkan materi, mereka diajak untuk memahami bahasan yang diperoleh.
  • Selanjutnya, siswa yang mendapat materi sama diinstruksikan untuk beralih ke dalam kelompok baru, yang disebut kelompok ahli.

2. Kelompok Ahli

  • Sebagaimana yang telah disebutkan, kelompok ahli terdiri dari peserta didik yang memperoleh materi sama.
  • Mereka akan berdiskusi terkait materi tersebut, saling bertukar pikiran, hingga mendapatkan pemecahan masalah yang tepat.
  • Setiap anggota kelompok ahli diwajibkan untuk memahami topik yang didiskusikan.
  • Setelah itu, masing-masing anggota akan kembali pada kelompok awal (kelompok cooperative). Mereka akan menjelaskan hasil diskusi terkait materi yang didapatkan kepada kelompok semula.
  • Dengan demikian, semua siswa akan memahami seluruh materi yang diberikan oleh guru selaras pada pokok bahasan.

Keefektifan Model Pembelajaran Inovatif

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, setiap metode dalam model pembelajaran ini menekankan pada kerja sama kelompok dan tutor sebaya. Siswa bisa saling bertukar pendapat untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian, mereka bisa memperluas cakupan berpikir melalui hal baru.

Model pembelajaran inovatif dinilai efektif untuk diterapkan. Dari sisi waktu pun cenderung lebih efektif. Sebab, melalui kelompok-kelompok yang terbentuk, siswa dapat saling bertukar informasi. Yang akhirnya, pokok bahasan bisa tersampaikan tanpa waktu yang lama. Pemahaman siswa juga semakin meningkat, karena informasi yang diperoleh semakin luas. Selain itu, mereka juga menjadi lebih aktif dalam menggali suatu topik dan percaya diri untuk mengutarakan gagasan.

You may also like

Leave a Comment