Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah

by Shara Nurrahmi
0 comment 86 views
Manajemen Berbasis Sekolah

Salah satu hal yang mendasari segala kegiatan di suatu lembaga pendidikan adalah manajemen berbasis sekolah (MBS). Adanya MBS diharapkan mampu membantu lembaga mencapai tujuan yang diinginkan, mampu menjaga keseimbangan tujuan-tujuan yang berseberangan. Di samping itu, diharapkan MBS mampu mencapai efektifitas dan efisiensi di lembaga terkait. Selengkapnya, simak penjelasan tentang manajemen berbasi sekolah berikut.

Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah

Menurut Nurkolis (2006: 11), MBS merupakan model pengelolaan lembaga pendidikan dengan memberikan kewenangan lebih besar untuk mengelola lembaganya sendiri secara langsung. Mulyasa (2002) mengemukakan MBS adalah konsep otonomi lembaga pendidikan untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan efisiensi, mutu, serta pemerataan pendidikan.

Melalui MBS diharapkan mampu mengakomodasi keinginan masyarakat dan menjalin kerja sama erat antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah. Adapun pengertian MBS menurut Sudarwan Danim (2005) yakni MBS adalah proses kerja komunitas lembaga pendidikan.

Caranya adalah dengan cara menerapkan otonomi, kaidah-kaidah, partisipasi, sustainabilitas, dan akuntabilitas untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan yang bermutu. Dalam hal ini, mutu dari pendidikan mengacu pada proses, masukan, luaran, serta dampaknya. Hal ini membuat kualitas atau mutu MBS ditinjau dari perspektif yang luas.

Tujuan dan Manfaat Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah

Subakir dan Sapari (2001) berpendapat tujuan utama dari penerapan MBS adalah guna meningkatkan efisiensi dalam meningkatkan dan mengelola relevansi pendidikan. Melalui wewenang yang lebih besar dan luas, lembaga pendidikan dapat lebih mudah mengelola urusannya sendiri. Menurut Mulyasa (2006), terdapat beberapa tujuan MBS, yakni sebagai berikut.

Baca :   Panduan Penulisan Nomor Surat Dinas

1. Peningkatan Efisiensi

Tujuan ini didapatkan melalui keleluasaan dalam mengelola SDM yang berpartisipasi serta penyederhanaan birokrasi.

2. Peningkatan Mutu

Mutu pendidikan dapat tercapai melalui partisipasi orang tua terhadap lembaga pendidikan. Selain itu fleksibilitas dalam mengelola lembaga pendidikan dan kelas, serta peningkatan profesionalisme kepala lembaga pendidikan dan guru juga berperan penting.

3. Peningkatan Pemerataan

Tujuan ini diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat. Hal ini membuat pemerintah dapat lebih berkonsentrasi terhadap kelompok-kelompok tertentu.

Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah

MBS dapat bermanfaat untuk memberdayakan dan memandirikan lembaga pendidikan melalui pemberian keluwesan, kewenangan, serta sumber daya. Depdiknas (2000) mengemukakan beberapa manfaat dari manajemen berbasis sekolah, di antaranya sebagai berikut.

1. Dapat Mengoptimalkan Sumber Daya

Manfaat ini dapat diperoleh karena lembaga pendidikan mengetahui kekuatan, kekurangan, peluang, serta ancaman bagi lembaga tersebut.

2. Dapat Mengetahui Kebutuhan Lembaga Pendidikan Terkait

Dalam hal ini khususnya input pendidikan yang kemudian dikembangkan dalam proses pendidikan. Proses ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan siswa.

3. Mencapai Sasaran Mutu Pendidikan Sesuai Rencana

Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab terhadap mutu pendidikan kepada orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. Hal ini membuat lembaga pendidikan harus mengusahakan semaksimal mungkin agar sasaran yang direncanakan tercapai.

4. Persaingan Antar Lembaga Pendidikan yang Sehat

Manfaat ini dapat tercapai melalui usaha-usaha yang inovatif serta dukungan orang tua siswa, masyarakat, dan Pemda.

Konsep dan Prinsip Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

Depdiknas (2005) mengemukakan beberapa konsep dasar dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, yaitu sebagai berikut.

1. Otonomi

Konsep ini merupakan kewenangan lembaga pendidikan dalam mengatur dan mengurus segala kepentingannya. Tujuannya agar dapat mencapai sasaran yang direncanakan dan menciptakan mutu pendidikan yang lebih baik.

Baca :   Mengenal Aplikasi Dapodik dan Fungsinya

2. Kemandirian

Dalam hal ini merupakan langkah lembaga pendidikan dalam mengambil keputusan. Diharapkan lembaga tidak tergantung pada birokrasi terpusat dalam mengelola ketersediaan sumber daya. Hal ini juga berlaku ketika mengambil strategi, kebijakan, dan metode pemecahan persoalan. Akhirnya lembaga dapat memanfaatkan peluang yang adan dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan lembaga.

3. Demokratis

Keikutsertaan seluruh elemen lembaga pendidikan yang terlibat dalam menyusun, menetapkan, melaksanakan hingga mengevaluasi pelaksanaan MBS. Hal ini guna mencapai tujuan lembaga pendidikan dan memperoleh dukungan dari seluruh elemen lembaga tersebut.

Komponen yang Terdapat dalam Manajemen Berbasis Sekolah

Mulyasa (2006) mengemukakan, ada 7 komponen yang harus dikelola oleh lembaga pendidikan dengan baik dalam mengimplementasikan MBS, yakni sebagai berikut:

1. Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum adalah kegiatan yang bertolak pada kelancaran pembinaan keadaan proses belajar mengajar. Kurikulum merupakan segala pengalaman pendidikan yang diberikan lembaga pendidikan kepada seluruh siswa di dalam maupun di luar lembaga.

2. Manajemen Kesiswaan

Manajemen kesiswaan merupakan pengaturan dan penataan terhadap aktivitas yang berhubungan dengan siswa. Hal ini dimulai dari masuk hingga keluarnya siswa tersebut dari lembaga terkait. Gunanya adalah untuk mengatur segala kegiatan bidang kesiswaan sehingga pembelajaran dapat berjalan tertib, lancar, teratur, dan tujuan pendidikan tercapai.

3. Manajemen Tenaga Guru

Salah satu kunci keberhasilan MBS adalah keberhasilan pimpinannya dalam mengelola tenaga pendidik yang ada. Manajemen guru memiliki tujuan mendayagunakan tenaga guru dengan efektif dan efisien agar hasilnya optimal.

4. Manajemen Pembiayaan dan Keuangan

Manajemen ini dalam suatu lembaga pendidikan adalah komponen produksi yang berperan penting terhadap terlaksananya proses belajar mengajar bersama komponen-komponen lainnya.

Lembaga pendidikan perlu melaksanakan manajemen komponen keuangan dengan baik dan teliti. Hal ini dimulai dari proses menyusun anggaran, membelanjakan anggaran, hingga pengawasan dan pertanggungjawaban berdasarkan ketentuan.

Baca :   Kerja Part Time Ini Bisa Kamu Ambil Sambil Kuliah di Australia

Tujuannya agar dana lembaga pendidikan benar-benar dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Selain itu juga untuk menghindari adanya kebocoran dana, korupsi, kolusi, serta nepotisme.

5. Manajemen Sarana Prasarana

Sarana mencakup peralatan dan perlengkapan yang dimanfaatkan guna menunjang proses belajar mengajar. Sementara prasarana merupakan fasilitas yang secara tidak langsung berperan menunjang proses pendidikan. Hal-hal yang perlu diatur adalah perencanaan kebutuhan, pengadaan, pemeliharaan, hingga pengawasan sarana dan prasarana.

6. Manajemen Hubungan Lembaga Pendidikan dan Masyarakat

Hubungan masyarakat merupakan kegiatan organisasi guna menciptakan relasi yang harmonis dengan masyarakat. Tujuannya agar masyarakat memberikan dukungan dengan sadar dan sukarela.

Kegiatan yang dilakukan dapat berupa memberikan informasi dan pencerahan sehingga masyarakat memahami tugas dan fungsi yang diemban oleh lembaga pendidikan. Hal ini juga termasuk tentang kegiatan yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan agar hubungan pihak lembaga pendidikan dan masyarakat lebih harmonis.

7. Manajemen Layanan Khusus

Manajemen layanan khusus meliputi manajemen kesehatan, perpustakaan, dan keamanan lembaga pendidikan. Perpustakaan berperan sebagai sarana pendidikan yang amat penting sehingga harus diselenggarakan dengan efektif dan efisien.

Begitu pula dengan manajemen kesehatan dan keamanan. Tanggung jawab lembaga pendidikan adalah melaksanakan proses pembelajaran, mengembangkan iptek, keterampilan sikap, menjaga serta meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani siswa. Lembaga pendidikan juga perlu memberikan pelayanan terkait keamanan pada siswa dan guru agar proses belajar dapat tenang dan nyaman.

Dalam praktiknya, manajemen berbasis sekolah akan berjalan dengan baik apabila seluruh komunitas lembaga pendidikan turut berpartisipasi. Komunitas ini  mencakup kepala lembaga pendidikan, komite, dan guru. Masing-masing komunitas lembaga pendidikan harus memiliki tanggung jawab terhadap tugas pokok dan fungsinya. Jika dalam menjalankan pekerjaan secara efektif, efisien, dan disertai niat ikhlas, MBS dapat berjalan lancar. Jadi, sangat dibutuhkan kerjasama yang holistik dari semua anggota sekolah untuk mewujudkan tujuan tersebut.

You may also like

Leave a Comment