Puisi Balada: Pengertian, Ciri-ciri, Cara Membuat dan Contoh

by Trianilus
0 comment 141 views
Puisi Balada: Pengertian, Ciri-ciri, Cara Membuat dan Contoh

Anda suka menulis puisi? Jenis puisi apa yang Anda sukai? Apakah puisi balada?

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang sering kita jumpai. Kita dapat mengekspresikan diri, mendeskripsikan imajinasi, mengkritik, meluapkan kesenangan, menceritakan pengalaman hingga memberikan nasihat melalui puisi. Salah satu jenis puisi adalah balada (ballad). Apa itu balada?

Berikut penjelasan lengkap tentang puisi balada, mulai dari pengertian, ciri-ciri, cara membuat dan contohnya.

Pengertian Puisi Balada

Puisi balada merupakan salah satu jenis puisi baru yang memuat tentang sebuah kisah atau cerita tertentu. Kisah yang dimaksud bisa diambil di masa lalu, maupun kisah yang baru saja terjadi. Puisi balada juga bisa diartikan sebagai puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia, melalui pikiran dan perasaan yang memiliki inti budaya universal dan tidak terikat dengan ruang dan waktu.

Biasanya, para penyanyi atau penyusun lagu menggunakan balada untuk menciptakan sebuah lagu.

Puisi balada sering kali berkisah tentang cinta, baik jatuh cinta maupun kehilangan cinta, baik romantis maupun kisah cinta yang tragis. Tidak heran jika kita sering mendengarkan lagu yang bertema cinta. Namun, selain cinta, puisi balada juga bisa dijadikan ‘media’ untuk menceritakan kisah-kisah kehidupan lainnya.

Ciri-ciri Puisi Balada

Puisi memiliki empat ciri-ciri atau karakteristik yang berbeda dengan jenis-jenis puisi lainnya. Berikut empat ciri-ciri puisi balada:

  • Puisi balada berisi tentang kisah atau cerita;
  • Puisi balada terdiri atas tiga bait, yang masing-masing dengan delapan larik;
  • Puisi balada bersajak AABC, atau berubah menjadi ABCB
  • Larik terakhir pada bait pertama puisi balada dijadikan referensi dalam bait-bait selanjutnya.

Cara Membuat Puisi Balada

Kami akan menjelaskan bagaimana cara membuat puisi balada dengan baik dan benar serta menarik. Kami juga akan menyertakan contoh cuplikan puisi balada karya WS Rendra yang berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’. Penyertaan contoh dimaksudkan agar Anda lebih mudah memahami langkah demi langkah membuat puisi balada.

Baca :   Tips Menulis Puisi Seperti Penyair Besar Indonesia

Berikut langkah-langkah membuat puisi balada dengan baik dan benar serta menarik:

1. Tentukan topik

Sebelum menulis puisi balada, Anda tentunya dituntut untuk memiliki ide, pengalaman atau kisah yang menarik. Ide, pengalaman atau kisah menarik ini bisa diambil dari masa lalu, seperti sejarah, legenda atau mitos. Di samping itu, Anda juga bisa mengambil kejadian saat ini atau baru saja terjadi sebagai referensi puisi balada. Anda dapat menemukan atau melakukan riset terkait kejadian-kejadian terbaru di media-media berita maupun media sosial.

Setelah mendapatkan ide, tentukan topik yang ingin Anda tulis. Puisi balada dapat mengangkat topik seperti cinta, bencana, musibah, skandal, kematian dan kisah-kisah hidup lainnya. Anda juga bisa mengadaptasikan dongeng terkenal ke dalam topik puisi balada.

Di samping itu, peristiwa sejarah penting yang memengaruhi ribuan orang juga bisa diadaptasikan ke dalam topik puisi balada. Pengalaman masa lalu Anda pun bisa dijadikan topik puisi jenis ini.

2. Mulai menulis

Setelah menentukan topik, Anda dapat memulai menulis puisi balada. Ingat, baris pembuka merupakan bagian yang terpenting karena dapat menarik perhatian pembaca atau pendengar. Oleh karena itu, buat baris pembuka yang menarik sehingga pendengar atau penikmat puisi Anda merasakan seolah-olah menjadi bagian dari cerita tersebut.

Di samping baris pembuka, Anda juga harus memerhatikan empat hal penting lainnya, yakni sajak, karakter, chorus dan klimaks dalam puisi balada. Berikut penjelasan lengkap tentang sajak, karakter, chorus dan klimaks puisi balada yang baik dan benar serta menarik:

Sajak dalam puisi balada

Puisi balada pada umumnya memiliki banyak baris. Para penyair biasanya menyusunnya ke dalam empat baris per bait. Baris pertama dan kedua dibuat dengan memerhatikan rima, sedangkan bari ketiga dan keempat tanpa menggunakan rima.

Perlu Anda ketahui, rima ialah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak atau pada akhir larik sajak yang berdekatan. Jadi, pola dari puisi balada adalah AABC. Pola ini berarti baris pertama dan kedua menggunakan rima, sementara baris kedua dan keempat tidak menggunakan rima.

Selain pola di atas, Anda juga bisa membuat pola dengan rima Anda sendiri. Misalnya, pola ABCB, yang berarti baris kedua dan keempat menggunakan rima, sementara baris kesatu dan ketiga tidak menggunakan rima.

Baca :   Pengertian Metode Pembelajaran Tutor Sebaya

Adapun cara membuat rima dengan mudah adalah menyelesaikan baris pertama dalam satu bait semau Anda. Kemudian, gunakan baris pertama tersebut sebagai dasar untuk menulis baris-baris berikutnya.

Berikut contoh pola AABC dalam cuplikan puisi WS Rendra yang berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’

Yang tersisa hanyalah puing-puing belaka

Di mana kamu, De’Na?

Sia-sia teleponku mencarimu

Bagaimana kamu, Aceh

Karakter dalam puisi balada

Para penyair biasanya menjadikan baris atau bait pertama untuk memperkenalkan karakter utama. Sebaiknya, Anda membatasi jumlah karakter agar bisa fokus ke seluruh inti puisi.

Dalam puisi berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’, WS Rendra memperkenalkan De’Na sebagai karakter utama yang hilang usai gelombang tsunami menerjang Aceh. WS Rendra hanya menggunakan dua karakter saja dalam puisi baladanya, yaitu De’na dan ‘aku’. (Selengkapnya lihat puisi WS Rendra berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’ pada bagian contoh puisi balada).

Chorus dalam puisi balada

Dalam puisi balada, chorus sangatlah fleksibel. Chorus bisa berbentuk satu baris yang diulang di tiap bait, dua baris yang diulang tiap beberapa bait, seluruh bait atau bahkan dua bait berturut-turut.

Dalam puisi berjudul ‘Di Mana Kamu, De’na?’, WS Rendra mengulang beberapa kali baris yang berbunyi ‘Di Mana Kamu, De’na?’ pada beberapa bait. (Selengkapnya lihat puisi WS Rendra berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’ pada bagian contoh puisi balada).

Klimaks dalam puisi balada

Sebagaimana sebuah cerita, puisi balada juga harus memiliki awal dan akhir cerita. Pada paruh akhir puisi, letakkan klimaks yang dapat menjadi hal paling dramatis yang terjadi pada karakter utama.

Dalam puisi berjudul ‘Di Mana Kamu, De’na?’, WS Rendra membuat klimaks di mana tokoh ‘aku’ merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan De’na. (Selengkapnya lihat puisi WS Rendra berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’ pada bagian contoh puisi balada).

3. Cek ulang puisi balada Anda

Setelah menulis puisi balada, Anda harus mengecek ulangnya agar mendapatkan hasil yang optimal. Mengecek ulang puisi balada dapat dilakukan dengan cara membacanya keras-keras. Cara ini membantu Anda untuk menemukan bagian-bagian puisi yang kurang enak didengar atau terdengar janggal. Jika lidah Anda terpeleset pada suatu baris atau bait, Anda harus memperbaiki baris atau bait tersebut, dengan cara merivisi kata-katanya, mengurangi jumlah suku kata atau memperbaiki rima.

Baca :   20 Universitas Terbaik di Indonesia

Bila perlu, mintalah teman atau orang lain untuk memeriksa puisi balada Anda. Namun, Anda jangan memberi tahu jalan cerita puisi tersebut. Silakan lihat reaksi dan respons teman Anda, apakah dia dengan mudah menangkap alur dan tema dengan sendiri serta memahami pesan di balik puisi tersebut. Ingat, puisi balada bukanlah sekadar puisi yang dinikmati keindahannya saja, melainkan cerita di dalamnya juga harus memberikan pelajaran hidup bagi pendengarnya.

Contoh Puisi Balada

Kami memberikan satu contoh puisi balada karya WS Rendra yang berjudul ‘Di Mana Kamu, De’Na?’. Puisi ini cukup populer dari masa ke masa. Bahkan tidak sedikit guru bahasa Indonesia yang menjadikan puisi karya WS Rendra ini sebagai contoh puisi balada.

Di Mana Kamu, De’Na?
Karya: WS Rendra

 Akhirnya berita itu sampai kepada saya:
gelombang tsunami setinggi 23 meter
melanda rumahmu
Yang tersisa hanyalah puing-puing belaka
Di mana kamu, De’Na?
Sia-sia teleponku mencarimu
Bagaimana kamu, Aceh?
Di TV kulihat mayat-mayat
yang bergelimpangan di jalan.
Kota dan 
desa-desa berantakan
Alam yang murka
manusia-manusia terdera
dan sengsara

Di mana kamu, De’Na?
Ketika tsunami melanda rumahmu
apakah kamu lagi bersenam pagi
dan ibumu yang janda
lagi membersihkan kamar mandi?

De’Na, kita tak punya pilihan
untuk hidup dan mati
Namun untuk yang hidup
kehilangan dan kematian
selalu menimbulkan kesedihan
Kecuali kesedihan, selalu ada pertanyaan:
kenapa hal itu mesti terjadi
dengan akibat yang menimpa kita?

Memang ada kedaulatan manusia, De’Na.
Tetapi lebih dulu
sudah ada daulat alam.
Dan kini kesedihanku yang dalam
membentur daulat alam.
Pertanyaanku tentang nasib ini
merayap mengitari alam gaib yang sepi.

De’Na! De’Na!
Kini kamu jadi bagian misteri
yang gelap dan sunyi
Hidupku terasa rapuh
oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh.
Tanpa kejernihan dalam kehidupan
bagaimana manusia bisa berdamai
dengan kematian?

Itulah penjelasan lengkap tentang puisi balada, mulai dari pengertian, ciri-ciri, cara membuat dan contohnya. Semoga penjelasan ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan baru untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment