Sejarah Perang Korea & Terpisahnya Wilayah Utara-Selatan

by Trianilus
0 comment 77 views
Sejarah Perang Korea & Terpisahnya Wilayah Utara-Selatan

Sejarah perang Korea berlangsung selama 3 tahun, yakni pada bulan 25 Juni 1950 hingga 27 Juli 1953. Perang ini menelan jutaan korban jiwa, seluruh wilayah Korea pun mengalami kehancuran luar biasa.

Korea adalah sebuah semenanjung yang berlokasi di Asia Timur. Korea Utara dan Korea Selatan adalah dua negara yang menempati semenanjung itu.

Secara geografis, Korea adalah sebuah wilayah yang tidak terlalu luas. Sebab, hanya menempati lahan 85.246 mil persegi. Korea dapat dikatakan sebagai wilayah kepulauan. Garis pantainya membentang sepanjang 5.400 mil dan sangat dipengaruhi oleh laut.

Korea Utara dan Korea Selatan memiliki kesamaan dari segi komposisi etnis atau bisa dikatakan serumpun. Lantas mengapa Korea Utara dan Korea Selatan tidak menjadi satu negara saja?

Sejatinya, sebelum tahun 1945, Korea adalah wilayah satu kesatuan. Adalah Dinasti Tang, pada 668 masehi, yang mempersatukan Kerajaan Korea Kuno. Korea yang bersatu ini bertahan hingga 1.300 tahun. Lalu, apa penyebabnya wilayah Korea terpecah menjadi dua? Jawabannya dapat Anda temukan dalam pembahasan berikut ini.

Simak dengan seksama sejarah perang Korea dan terpisahnya wilayah utara-selatan berikut ini!

Latar Belakang Sejarah Perang Korea

Perang Korea atau Korean War adalah perang yang berlangsung di Semenanjung Korea antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini terjadi pada 25 Juni 1950 hingga 27 Juli 1953. Namun, kita dapat mengatakan bahwa perang antara Korea Utara dan Korea Selatan ‘belum berakhir’ karena belum ada kesepakatan damai yang jelas antara kedua negara tersebut.

Saat berlangsungnya perang, Korea Utara mendapat sokongan dari negara-negara komunis, di antaranya Uni Soviet dan Republik Rakyat China. Sementara itu, Korea Selatan pun mendapat bantuan dari negara-negara yang menjadi pasukan koalisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di antaranya Amerika Serikat dan Sekutunya.

Bagaimana latar belakang pecahnya perang antara Korea Utara dan Korea Selatan?

Mulanya, Semenanjung Korea diduduki oleh Jepang sejak tahun 1910. Pada tahun 1945, Uni Soviet menguasai Semenanjung Korea bagian utara berikut Manchuria, China Utara. Tak lama kemudian, Amerika Serikat menduduki Semenanjung Korea bagian selatan. Kekuasaan Jepang terhadap Semenanjung Korea pun runtuh, dan digantikan oleh Uni Soviet di bagian utara dan Amerika Serikat di bagian selatan.

Pada Juli hingga Agustus 1945, Sekutu dan Uni Soviet mengadakan Konferensi Potsdam untuk menentukan nasib Semenanjung Korea ke depannya. Konferensi ini diadakan tanpa melibatkan dan melakukan konsultasi dengan pihak Korea selaku ‘tuan rumah’.

Konferensi Potsdam mencapai kesepakatan bahwa Semenanjung Korea dibagi menjadi dua wilayah, yakni wilayah selatan dikendalikan oleh Amerika Serikat dan wilayah utara dikemudikan oleh Uni Soviet. Kedua wilayah ini juga diberikan batas pemisah, yang dikenal dengan sebutan ‘garis pararel ke-38’.

Pada tahun 1948, terbentuklah dua negara baru di Semenanjung Korea, yakni Republik Korea yang berlokasi di Semenanjung Korea bagian selatan dan Republik Demokratik Rakyat Korea yang berlokasi di Semenanjung Korea bagian utara.

Perang di Semenanjung Korea Pecah

Situasi di Semenanjung Korea mulai menegang pada tahun 1949. Kemudian, pada tanggal 25 Juni 1950, Korea Utara melancarkan serangan ke Korea Selatan sekaligus melanggar garis batas wilayah yang telah disepakati sebelumnya. Korea Utara beralasan ingin menangkap pasukan Korea Selatan yang sebelumnya melancarkan serangan ke pasukannya dan kabur.

Baca :   Dualisme Kepemimpinan Nasional antara Soekarno-Soeharto

Namun, diketahui bahwa serangan Korea Utara telah disepakati oleh negara-negara penyokongnya, yakni Uni Soviet dan China dan telah direncanakan jauh-jauh hari. Pasukan Korea Selatan pun kocar-kacir karena memang tidak siap menghadapi serangan tersebut dan kurang persenjataan.

Korea Selatan kemudian mengadukan kejadian tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Dewan Keamanan PBB lalu meminta Korea Utara menarik pasukannya mundur dari garis perbatasan wilayah. PBB pun mengerahkan sejumlah pasukan dari 21 negara ke Korea Selatan, yakni pasukan dari Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Prancis, Kolombia, Australia, Kanada, Ethiopia, Yunani, Inggris, Selandia Baru, Afrika Selatan, Ethiopia, Turki, Filipina, Luxemburg, India, Italia, Norwegia dan Denmark, Swedia.

Dari 21 negara di atas, Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak mengerahkan pasukannya. Pemimpin pasukan PBB ini juga dikemudikan oleh orang Amerika Serikat, yakni Jenderal Douglas McArthur.

Pada Juli 1950, pasukan PBB akhirnya tiba di Semenanjung Korea. Pasukan PBB ini berhasil mengubah suasana peperangan yang sebelumnya mengakibatkan Korea Selatan kocar-kacir.

Sebelumnya, Korea Utara begitu bebas ‘menjelajahi’ Semenanjung Korea bagian selatan dan hampir tidak ada yang menghalanginya. Semenjak pasukan PBB dikerahkan, pasukan Korea Utara tidak berkutik, mereka pun tidak bisa bergerak lebih jauh menjelajahi wilayah Korea Selatan.

Bahkan, pada Oktober 1950, Korea Utara mulai tertekan akibat serangan dari pasukan PBB. Pasukan Korea Utara yang ada di Korea Selatan diusir, bahkan dikejar oleh pasukan PBB hingga memasuki wilayah Korea Utara.

Serangkaian Serangan Pasukan PBB Ke Korea Utara

Pertempuran Incheon

Pasukan PBB yang dipimpin oleh Jenderal Douglas McArthur melancarkan serangkaian serangan ke Korea Utara. Serangan tersebut dilakukan melalui sebuah operasi amfibi yang dinamakan Operasi Kromit. Ada 75 ribu tentara dan 261 kapal yang dikerahkan dalam operasi amfibi ini.

Adapun tujuan dari Operasi Kromit adalah mengusir pasukan Korea Utara dan melindungi Korea Selatan. Titik mulai Operasi Kromit berlokasi di kota Incheon. Sehingga, dalam sejarah perang Korea, operasi ini juga disebut sebagai ‘Pertempuran Incheon’ (Incheon War).

Dalam Pertempuran Incheon, pasukan PBB melakukan pengeboman di Incheon dan Wolmido menggunakan tujuh kapal penghancur dan empat kapal tempur penjelajah. Pengeboman Incheon juga dilakukan melalui pendaratan amfibi.

Setelah menyerang Incheon, pasukan PBB menyasar Seoul dan Sariwon. Situasi Korea Selatan pun menjadi lebih aman.

Pasukan PBB terus bergerak menuju ibu kota Korea Utara, Pyongyang. Pada 19 Oktober 1950, Pyongyang berhasil diduduki oleh pasukan PBB. Lebih lanjut, pasukan Douglas McArthur melancarkan penyerangan ke Yongju dan Kujin. Douglas McArthur Cs pun berhasil menaklukkannya.

Tertekannya Korea Utara atas serangan dari pasukan PBB membuat China bereaksi. China yang merupakan tetangga sekaligus penyokong Korea Utara mengerahkan 200.000 pasukan ke Semenanjung Korea pada akhir Oktober 1950.

Di sisi lain, Uni Soviet mendukung langkah China. China dan Korea Utara pun mendapatkan bantuan persenjataan dari Uni Soviet. Akan tetapi, Uni Soviet masih belum memutuskan untuk menerjunkan pasukannya langsung ke Semenanjung Korea.

China Ikut Campur Membantu Korea Utara

Pertempuran Unsan

Sejatinya, China sudah tidak setuju dengan keputusan PBB yang mengerahkan pasukan dari 21 negara untuk mengamankan situasi situasi di Korea Selatan. Menurut China, keputusan tersebut hanya akal-akalan yang dilakukan Amerika Serikat untuk menduduki Semenanjung Korea.

Perdana Menteri China, Zhou Enlai menyebut pengerahan pasukan PBB ke Semenanjung Korea mengancam keamanan nasional China yang letaknya berbatasan dengan Korea Utara. Hal ini wajar jika China ikut campur membantu Korea Utara melawan pasukan PBB.

Baca :   Sejarah Perang Khaibar Antara Umat Islam dan Kaum Yahudi

Kehadiran China dalam peperangan di Semenanjung Korea ini sangat menguntungkan pihak Korea Utara. China melakukan berbagai serangan ke pasukan PBB yang saat itu berhasil memukul mundur Korea Utara.

Pada Akhir Oktober 1950 hingga akhir tahun 1950, China berhasil memenangkan Pertempuran Unsan, Pertempuran Onjong dan Pertempuran Pakchon. Pertempuran di Sungai Ch’ongch’on pun berhasil dimenangkan oleh China.

China kemudian menyasar Seoul. Pada 7 Januari 1951, China berhasil menguasai Ibu Kota Korea Selatan itu. Di sisi lain, intervensi China juga mampu mengamankan ibu kota Korea Utara, Pyongyang yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan PBB.

Salah satu kesuksesan dari China dan Korea Utara ditunjukkan melalui pemukulan gong dan peniupan terompet yang keras. Pasukan PBB dan Korea Selatan dibuat panik karena hal itu.

Pada Maret 1951, pasukan PBB dan Korea Selatan berhasil mengamankan wilayahnya dari pendudukan China dan Korea Utara. China lalu meminta bantuan udara dari Uni Soviet. Uni Soviet akhirnya mengerahkan dua divisi pasukan udara dan 600 truk.

Pada April 1951, pemimpin pasukan PBB Jenderal Douglas McArthur dipecat dan digantikan oleh Jenderal Matthew Ridgway. Adapun alasan dipecatnya Douglas McArthur karena prediksinya yang menyebut China tidak akan melakukan intervensi perang salah. Prediksi itu membuat Douglas McArthur mengerahkan pasukan hingga masuk ke wilayah Korea Utara. Alasan kedua yang membuat Douglas McArthur dipecah adalah karena dia tidak pernah terlibat perang langsung di Semenanjung Korea dan hanya mengendalikan pasukan PBB dari Tokyo, Jepang. Lebih lanjut, Douglas McArthur bersikukuh melancarkan serangan ke China dan menjatuhkan bom ke Korea Utara (sesuatu yang tidak diharapkan Presiden Amerika Serikat saat itu, Harry S. Truman).

Sedikit mundur lagi ke bulan Maret 1951, China kembali melancarkan serangan ke pasukan PBB dan Korea Utara. China, saat itu, mengerahkan kurang lebih 700 ribu pasukan.

Negara komunis itu berhasil menerobos perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara, hingga mendekati Seoul. Akan tetapi, pada Mei 1951, China tak berkutik menjelajahi lebih jauh wilayah Korea Selatan. Pasukan Amerika Serikat pun mampu memukul mundur China dari wilayah Korea Selatan.

Pertempuran masih saja terjadi pada bulan-bulan berikutnya. Namun, kedua belah pihak, baik pihak Korea Utara dan Korea Selatan memilih untuk menerapkan strategi bertahan (defensif) agar wilayahnya tidak jatuh ke tangan musuh.

Buntunya pertempuran akibat penerapan starategi bertahan ini membuat kedua belah pihak melakukan perundingan untuk mencapai solusi menyudahi pertempuran. Perundingan pertama digelar pada Juli 1951, namun saat itu pertempuran masih saja berlangsung.

Kemudin, pada 27 Juli 1953, kedua belah pihak akhirnya mencapai persetujuan genjatan senjata sampai batas waktu yang tidak ditentukan melalui Perjanjian Panmunjom. Artinya, pertempuran di Semenanjung Korea antara Korea Utara dan Korea Selatan beserta negara-negara penyokongnya berakhir tanpa adanya pemenang yang jelas.

Melalui perjanjian inilah Semenanjung Korea dibagi menjadi dua negara yang terpisah hingga sekarang, yakni Korea Selatan yang terletak di Semenanjung Korea bagian selatan dan Korea Utara yang terletak di Semenanjung Korea bagian utara.

Pasca Perang di Semenanjung Korea

zona bebas militer

Zona Bebas Militer (DMZ)

Melalui perjanjian Panmunjom, ditetapkan 4 kilometer Demilitarized Zone (DMZ) atau zona bebas militer. DMZ ini terletak di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Siapapun tidak boleh melewati perbatasan tersebut.

Baca :   Sejarah Zaman Perundagian di Indonesia

Tak lama kemudian, pasukan tentara sejumlah negara di Eropa yang netral dikerahkan untuk mengamankan situasi di DMZ. Pada tahun 1954, pihak-pihak yang terlibat perang melakukan pertukaran mayat untuk dikebumikan dengan layak.

Perang selama tiga tahun ini pun merusak berbagai infrastuktur baik di Korea Utara dan Korea Selatan. Korea Utara menjadi negara yang mengalami kerusakan yang paling parah. Sebab, pengeboman berkali-kali terjadi di wilayah tersebut.

Merespons hal itu, Korea Utara bergerak cepat. Dengan bantuan China, Uni Soviet dan beberapa negara komunis di Eropa Timur, Korea Utara kembali membangun infrastruktur negaranya. Alhasil, pada dekade 60-an, pertumbuhan industri di negara tersebut mengalami pertumbuhan yang pesat.

Di sisi lain, Korea Utara juga memperkuat pertahanan militernya dan mendirikan jaringan terowongan militer bawah tanah yang kompleks untuk mengantisipasi terjadinya perang di hari-hari berikutnya.

Korea Selatan juga membenahi infrastrukturnya yang mengalami kerusakan dengan bantuan negara-negara PBB. Jika dibandingkan denga Korea Utara, pasca perang, Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi lebih lambat. Pergantian kekuasaan pun sering terjadi sehingga membuat kondisi politik dan sosial di sana menjadi tidak menentu.

Akan tetapi, memasuki dekade 80-an, Korea Selatan mulai menunjukkan taringnya. Pertumbuhan ekonomi dan ekonomi melesat jauh melampaui negara tetangganya. Capaian itu membuat Korea Selatan menjadi negara maju (hingga sekarang).

Di sisi lain, pada tahun 90-an, Korea Utara mengalami resesi atau kemunduran ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah sekutu-sekutu komunis mulai menjauhinya.

Di lain pihak, China menganggap keterlibatannya di perang Semenanjung Korea membawa dampak positif bagi negaranya. Secara internal, warga China menaruh perhatiannya kepada kegaharan militer yang dimiliki negaranya. Secara eksternal, negara-negara di luar mulai menaruh kewaspadaannya terhadap kegaharan militer China.

Kebetulan, sebelumnya China memang kerap mengalami kekalahan saat bertempur melawan negara-negara lainnya. Namun, pasca perang di Semenanjung Korea, pamor China dan pemimpinnya saat itu, Mao Zedong melejit tinggi. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri, ada banyak korban jiwa yang berjatuhan di pihak China dalam peperangan tersebut.

Bagi Amerika Serikat, perang di Semenanjung Korea bukanlah perang populer dibandingkan Perang Vietnam dan perang-perang lainnya yang mana Amerika Serikat terlibat di dalamnya. Hal ini disebabkan hanya sedikit masyarakat Amerika Serikat yang menaruh perhatian terhadap perang di Semenanjung Korea itu. Pada akhirnya, perang ini disebut sebagai The Forgotten War atau Perang yang Terlupakan.

Korban yang Berjatuhan dalam Sejarah Perang Korea

Korban perang korea

Hampir 3 juta jiwa menjadi korban tewas dalam perang di Semenanjung Korea itu. Sementara dari pihak-pihak yang terlibat perang, korban tewas Korea Selatan dan pasukan PBB dilaporkan mencapai 180 ribu jiwa. Korea Utara dan negara-negara penyokongnya menjadi pihak yang parah dalam hal korban tewas. Dilaporkan korban tewas Korea Utara Cs mencapai 700 ribu lebih jiwa.

Salah satu penyebab dari banyaknya korban tewas di pihak Korea Utara adalah minimnya persenjataan anti udara untuk perang. Sehingga, serangan udara yang dilakukan Korea Selatan dan pasukan PBB sulit ditepis oleh Korea Utara, China maupun Uni Soviet.

Itulah sejarah perang Korea antara Korea Selatan dan Korea Utara yang berlangsung di Semenanjung Korea selama tiga tahun (1950-1953). Dapat dikatakan perang di Semenanjung Korea itu menjadi sejarah yang paling menyedihkan bagi kedua negara tersebut. Tidak sedikit keluarga yang terpisah karena Semenanjung Korea terbelah menjadi dua.

Semoga pembahasan tentang sejarah perang Korea ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment