Sejarah Perang Salib 1: Latar Belakang-Puncak Perang

by Trianilus
0 comment 64 views
Sejarah Perang Salib 1: Latar Belakang-Puncak Perang

Bagaimana latar belakang sejarah Perang Salib 1? Seperti apa jalannya Perang Salib 1? Dan bagaimana akhir dari perang ini? Anda akan menemukan jawaban ketiga pertanyaan tersebut pada pembahasan kali ini.

Perang Salib 1 adalah suatu perang yang terjadi karena keinginan kaum Kristen Eropa menjadikan Yerussalem dan tempat-tempat suci Kristen lainnya sebagai wilayah perlindungan mereka. Pada tahun 1095, para petinggi Kristen Eropa bersatu dan melancarkan serangan ke negara-negara Muslim di Timur Dekat (istilah tua dari Timur Tengah).

Berikut pembahasan lengkap mengenai sejarah Perang Salib 1, mulai dari latar belakang peristiwa hingga puncak peperangan.

Latar Belakang Perang Salib 1

Kebijakan ekspansi negara Muslim yang dibentuk pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, pada tahun 632 Masehi menjadi salah satu penyebab bertemunya bangsa Timur dengan bangsa Barat. Satu abad kemudian, Muslim berhasil menaklukkan wilayah-wilayah yang terletak di antara India Utara hingga Prancis.

Kejayaan Muslim semakin melambung tinggi pada dua abad kemudian. Muslim saat ini menikmati peradaban dan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

Akan tetapi, pada awal abad ke-10 dan awal abad ke-11, dunia Muslim mulai menunjukkan kemunduran dengan ditandai adanya perpecahan politik di internal Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan pemerintahan sekaligus pusat peradaban Islam. Perpecahan ini menjadikan Kristen di Spanyol mengalami kebangkitan dan bangsa-bangsa Eropa di Mediterania Timur kembali bermunculan.

Pada paruh kedua abad ke-11, dua kekuatan besar Muslim, dinasti Seljuk dan Fatimiyah saling berseteru. Kedua dinasti itu ingin menjadikan wilayah yang membentang dari Suriah hingga Palestina sebagai wilayah kekuasaannya.

Pada dekade terakhir abad ke-11 menjadi masa perpecahan politik terbesar di dunia Muslim. Menteri utama Seljuk, Sultan Seljuk Shah dan Nizham al Mulk meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1092. Dua tahun kemudian, Khalifah Fatimiyah al Mustanshir dan Khalifah Abbasiyah al Muqtadhi juga meninggal dunia.

Meninggalnya tokoh-tokoh penting di dunia Muslim ini mengakibatkan kekosongan kekuasaan. Muncullah konflik internal di dunia Muslim untuk memperebutkan kursi kekuasaan. Persoalan yang terjadi bertubi-tubi di ‘badan’ Muslim ini dimanfaatkan Kristen Eropa melakukan serangan secara tak terduga.

Paus Urbanus II Bersuara

Paus Urbanus II

Paus Urbanus II

Sedikit mundur ke belakang, pada paruh kedua abad ke-11, Seljuk tidak hanya berseteru dengan Fatimiyah, melainkan juga menyerbu wilayah Bizantium bagian timur, Anatolia. Anatolia dulunya merupakan wilayah kekuasaan Armenia.

Seljuk dibantu oleh militer Turki untuk menginvansi Bizantium. Pada tahun 1071, pasukan Turki berhasil mengalahkan pasukan Bizantium. Alhasil, kekaisaran Bizantium saat itu pun mengalami kemerosotan.

Baca :   Sejarah Perang Korea & Terpisahnya Wilayah Utara-Selatan

Kaisar Byzantium, Alexius Comnenus pada akhirnya membalas perbuatan pasukan Turki itu saat dunia Muslim mengalami perpecahan politik dan tertimpa berbagai persoalan. Mulanya Alexius ingin meminta bantuan raja Jerman, Henry IV untuk mengusir Turki. Namun, hal itu tidak dilakukan Alexius karena kekuatan raja Jerman itu sudah merosot karena berseteru dengan Paus.

Alexius pada akhirnya meminta bantuan Paus Urbanus II. Paus Urbanus II diminta untuk mengerahkan prajurit Italia untuk mengepung Turki. Tepat sekali. Paus Urabnus II pun memanfaatkan hal ini untuk menunjukkan kekuasaan dirinya.

Pada 17 November 1095, Paus Urbanus II menyampaikan pidato di Clermont Francia Barat. Ia mengajak warga Kristen dari berbagai kalangan untuk membantu Byzantium melawan pasukan Turki. Di sisi lain, Paus Urbanus II meminta momentum ini juga dimanfaatkan untuk merebut kembali Yerussalem dari tangan Muslim.

Di sisi lain, dalam pidatoya, Paus Urbanus II mengungkap kekesalannya terhadap pasukan Turki yang menduduki sejumlah wilayah Kristen. Paus Urbanus II geram mengetahui mereka melancarkan serangan ke gereja-gereja dan kekaisaran hingga hancur. Terlebih, pasukan Turki juga melakukan pembunuhan dan penangkapan banyak orang.

Atas dasar itu, Paus Urbanus II mengajak warga Kristen dari berbagai kalangan, baik ksatria, prajurit, warga miskin maupun kaya berkontribusi dalam menjalankan misi balas dendam terhadap pasukan Turki sekaligus merebut Yerussalem dari tangan Turki.

Pasukan Salib Menuju ke Konstantinopel

Konstantinopel

Setelah mendengar pidato Paus Urbanus II, warga Kristen pun tertarik menuju ke Konstantinopel untuk membantu Byzantium melawan Turki. Seorang bangsawan yang pertama kali memulai perjalanan ke Timur adalah Godfrey. Godfrey juga mengajak pasukannya untuk terlibat dalam misi ini.

Rombongan kedua yang juga melakukan perjalanan ke Timur adalah Bohemund, putra penguasa Norman, Robert Guisscard. Ia pun mengajak pasukannya namun jumlahnya lebih sedikit dari pasukan Godfrey. Rombongan Raymond dan puluhan rombongan berikutnya menyusul Godfrey dan Bohemund.

Rombongan Peter dan Walter sampai lebih dulu di Konstantinopel. Mereka disambut oleh kaisar Byzantium, Alexius Comnenus. Alexus meminta dua rombongan salib ini menyeberang Selat Bosphorus dan mendirikan perkemahan di kawasan perbatasan Byzantium sembari menunggu kedatangan rombongan yang lain.

Karena bosan menunggu, rombongan Peter dan Walter melakukan penjarahan di desa dekat perkemahan mereka. Rombongan tersebut pun bergerak menuju sebuah kota yang dikuasai oleh Turki, yakni Kota Nicaea.

Petinggi Turki, Kilij Arslan merespons kedatangan rombongan salib itu. Ia mengirim pasukan untuk memukul mundur mereka. Berhasil. Pasukan Kilij berhasil mengalahkan rombongan salib.

Baca :   Sejarah Perang Salib 4: Latar Belakang-Akhir Perang

Kaisar Byzantium, Alexius Comnenus sempat pesimis mengetahui hal itu. Namun, setelah rombongan Godfrey, Bohemund dan Raymond datang, Alexius menjadi lebih percaya diri. Ketiga orang tersebut lalu menjadi pemimpin pasukan salib.

Pasukan Salib Mengepung Kota Antiokhia

Kota Antiokhia

Pada 27 Oktober 1097, pasukan salib mengepung kota Antiokhia yang terletak di Suriah Utara. Antiokhia dikenal sebagai kota terkuat di Suriah yang memiliki tembok kokoh yang bersentuhan dengan sungai Orontes.

Pasukan yang berada di dalam kota Antiokhia mendapatkan pasokan senjata maupun pangan yang memadai. Sementara pasukan salib tidak bisa masuk ke kota tersebut. Mereka pada akhirnya mendirikan tenda di dekat kota tersebut.

Selama berbulan-bulan melakukan pengepungan, pasukan salib mengalami kekurangan pasokan pangan. Bahkan, sekitar 70 ribu kuda yang dibawa mereka hanya tersisa 2.000-an ekor menjelang Januari 1098. Lebih buruknya, wabah penyakit sampar memperparah keadaan pasukan salib. Semangat pasukan salib pun memadam.

Namun, pada 4 Maret 1098, semangat pasukan salib mulai bersinar kembali. Saat itu, armada kapal Inggris mengirim pasokan pangan, senjata dan lainnya untuk perbekalan perang. Pasukan salib lalu memblokir kapal yang biasanya memasok pangan dan persenjataan ke kota Antiokhia dengan mendirikan sejumlah benteng. Alhasil, pasukan di dalam kota Antiokhia mulai melemah.

Pada 2 Juni 1098, pimpinan pasukan salib, Bohemund berhasil membujuk salah seorang penjaga Turki untuk membukakan gerbang Antiokhia bagian belakang. Bohemund dan pasukannya lalu masuk dan membuka seluruh gerbang kota tersebut.

Bohemund Cs kemudian melancarkan serangan terhadap penduduk Antiokhia. Lebih dari 10 ribu warga di sana dihabisi oleh mereka. Bahkan mayatnya dibiarkan begitu saja tanpa dikubur.

Merespons hal itu, seorang jendereal Turki, Kerbogha mengerahkan pasukan Muslim secara besar-besaran menuju ke Antiokhia. Akan tetapi, pasukan salib dengan cepat menutup gerbang Antiokhia. Pasukan Muslim pun tidak bisa memasuki kota tersebut.

Di sisi lain, kondisi ini juga merugikan pasukan salib yang ‘terperangkap’ di dalam kota. Mereka kekurangan pasokan makanan, ditambah bau yang menyengat dari mayat-mayat yang mulai membusuk.

Semangat baru berkobar di pihak pasukan salib. Uskup Petrus Bartolomeus mengaku menemukan sebuah tombak di gereja Santo Petrus yang ada di Antiokhia. Dikabarkan bahwa tombak itu dulu digunakan untuk menembus tubuh Yesus.

Pada 28 Juni 1098, atas dasar penemuan tombak suci itu, semangat pasukan salib membara dan mulai melakukan penyerangan terhadap pasukan Muslim. Pasukan Muslim pun dipukul mundur oleh Bohemund Cs.

Pasca memenangkan peperangan, Bohemund memilih untuk menetap di Antiokhia. Bohemund beralasan dirinya memiliki kontribusi besar dalam penguasaan Antiokhia. Ia kemudian mengibarkan benderanya sendiri, tanpa pernah menyerahkan kota itu ke Alexius Comnenus.

Baca :   Sejarah Perang Bubat: Latar Belakang-Dampak Perang

Pemimpin pasukan salib lainnya, Raymond dan Godfrey tak sependapat dengan Bohemund. Mereka lebih memilih untuk meninggalkan Antiokhia.

Puncak Sejarah Perang Salib 1

Perang Salib 1 ilustrasi

Meninggalkan kota Antiokhia, pasukan Raymond dan Godfrey melakukan perjalanan menuju Yerussalem. Pasukan salib yang berjumlah sekitar 40 ribu orang itu sampai di luar gerbang Yerussalem pada Juni 1099.

Pasukan salib mengalami hal yang sama dengan di Antiokhia selama berada di luar gerbang Yerussalem. Mereka kehausan, kelaparan, ditambah cuaca yang menyengat.

Pasukan salib mulai menyerang Yerussalem pada 13 Juni 1099. Pertahanan Yerussalem yang di dalamnya hanya terdapat 1.000-an pasukan Turki tak sekokoh pertahanan Antiokhia. Pasukan salib tak henti-hentinya mendobrak tembok-tembok pertahanan Yerussalem dengan alat pendongkrak yang terbuat dari batang pohon.

Cara ini ternyata tidak efektif untuk menghancurkan tembok Yerussalem. Pada saat bersamaan, pasukan salib lainnya yang mengendarai beberapa kapal sudah tiba di laut. Beberapa kapal itu kemudian dibawa ke daratan dan dihancurkan untuk diambil kayunya. Kayu-kayu ini dimanfaatkan pasukan salib untuk membuat menara pengepungan serta jembatan untuk membobol tembok Yerussalem.

Upaya pasukan salib pun membuahkan hasil. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam kota dan langsung melakukan penyerangan. Kejadian di Antiokhia lagi-lagi terulang. Pasukan salib dengan mudah memorak-porandakan kota tersebut. Penduduk di sana dibantai habis-habisan. Pasukan salib pun dengan mudah memenangkan pertempuran.

Beberapa hari kemudian, pasukan salib mendengar informasi bahwa pasukan Fatimiyah yang pernah berseteru dengan Turki Seljuk melakukan perjalanan menuju ke Yerussalem. Pasukan Fatimiyah juga ingin menguasai kota tersebut.

Pada 12 Agustus 1099, pasukan Fatimiyah telah menginjakkan kaki di Yerussalem. Yerussalem saat itu telah dikuasai oleh pasukan salib. Dengan mudah, pasukan Fatimiyah dipukul mundur oleh pasukan salib. Pasukan Fatimiyah kemudian memutuskan mundur dan tidak melancarkan serangan kedua kalinya.

Pasca memenangkan pertempuran, pemimpin pasukan salib, Raymond mendapatkan tawaran menjadi raja di kota Yerussalem. Namun, Raymond menolak tawaran tersebut. Menurutnya, gelar raja tidak pantas untuknya yang telah melakukan pembantaian di kota Yerussalem.

Tawaran menjadi raja kemudian dilimpahkan kepada pemimpin pasukan salib lainnya, Godfrey. Godfrey menerima tawaran tersebut sehingga ia mendapatkan gelar Barin dan Penjaga Makam Suci di Yerussalem.

Misi pasukan salib berhasil dicapai. Sebagian pasukan memutuskan untuk kembali ke Eropa.

Itulah sejarah Perang Salib 1 yang dimenangkan oleh pasukan salib. Sejarah ini tidaklah berhenti sampai di sini. Masih ada sejarah Perang Salib 2, 3 dan 4 yang menjadi lanjutan dari sejarah Perang Salib 1.

Semoga pembahasan kali ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment