Sejarah Perang Salib 2: Latar Belakang-Puncak Perang

by Trianilus
0 comment 68 views
Sejarah Perang Salib 2: Latar Belakang-Puncak Perang

Sejarah Perang Salib 2 merupakan kelanjutan dari Perang Salib 1. Jika pada saat Perang Salib 1, pasukan Salib yang memenangkan peperangan, Perang Salib 2 justru menjadi momentum kebangkitan pasukan Muslim.

Para petinggi yang terlibat dalam Perang Salib 2 di antaranya dalam badan pasukan Salib terdapat Raja Prancis Louis VII, Kaisar Jerman Conrad III dan Raja Yerussalem Baldwin III. Sementara itu, di badan pasukan Muslim terdapat pemimpin Aleppo, Nuruddin Mahmud dan pemimpin Mosul, Saifuddin Ghazi. Kedua pemmpin pasukan Muslim itu merupakan keturunan Imamuddin Zengi ibn Aq-Sunqur yang piawai dalam bidang militer dan pemerintah.

Bagaimana latar belakang sejarah Perang Salib 2? Seperti apa jalannya Perang Salib 2? Dan bagaikana akhir dari perang ini? Temukan jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut pada pembahasan kali ini.

Berikut pembahasan lengkap mengenai sejarah Perang Salib 2, mulai dari kondisi pasca Perang Salib 1, latar belakang Perang Salib 2 hingga puncak Perang Salib 2.

Kondisi Pasca Perang Salib 1

Menerima kekalahan telak di Perang Salib 1 sekaligus banyak wilayah Islam dikuasai oleh pasukan Salib, tidak lantas membuat pasukan Muslim melancarkan perlawanan kedua kalinya. Di dalam internal Muslim saat itu justru mengalami perpecahan hebat, terutama para pemimpin Muslim Suriah. Bahkan, sebagian di antara mereka mendukung dan bekerja sama dengan pasukan Salib.

Kondisi ini membuat pasukan Salib semakin menguasai wilayah Timur Dekat (istilah tua dari Timur Tengah). Perluasan wilayah terus dilakukan. Pada dekade pertama abad ke-12, pasukan Salin menguasai sebagian besar pelabuhan di kawasan Mediterania timur.

Di sisi lain, pasukan Muslim sebenarnya berusaha melancarkan serangan ke pasukan Salib, walau sesekali, terutama pada awal abad ke-12. Akan tetapi, perlawanan pasukan Muslim tak berarti bagi pasukan Salib yang lebih kuat.

Latar Belakang Sejarah Perang Salib 2

Perang Salib 2 disebut-sebut sebagai masa kebangkitan pasukan Muslim. Adapun pelopor kebangkitan pasukan Muslim sebelum pecahnya Perang Salib 2 adalah Imamuddin Zengi ibn Aq-Sunqur.

Sebagaimana disebutkan di atas, ayah Zengi bernama Aq-Sunqur. Aq-Sunqur adalah seorang panglima andalan Sultan Seljuk, Sultan Malik Shah. Karena kepiawaiannya dalam menjalankan tugasnya sebagai panglima Seljuk, ayah Zengi itu mendapatkan gelar Qasimuddaulah (sekutu) dari Sultan Malik Shah.

Zengi adalah Gubernur Mosul pada tahun 1127 Masehi. Ia dikenal sebagai pemimpin brilian dan memiliki kecakapan dalam bidang militer maupun pemerintahan. Lebih lanjut, Zengi juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang disiplin dan tidak pandang bulu.

Baca :   Mengulik Kembali Asal Usul Politik Apartheid di Afrika Selatan

Memanfaatkan kedudukannya sebagai Gubernur Mosul, Zengi melakukan ekspansi ke daerah-daerah kekuasaan pasukan Salib, yakni Benteng al Atsarib, Dara, Sarja dan Aleppo. Pada tahun 1137, Gubernur Mosul itu juga ingin menguasai Damaskus. Akan tetapi, upayanya digagalkan oleh pasukan dari Gubernur Damaskus, Mu’inuddin Unur.

Kegagalan itu membuat Zengi memutar haluan. Ia memutuskan untuk menginjakkan kaki di wilayah pasukan Salib lainnya, yaitu Eddesa. Eddesa adalah negara pertama yang didirikan oleh pasukan Salib. Bagi Zengi, Edessa sangat mungkin untuk dikuasai karena penguasa Mosul terus menggempur wilayah tersebut selama empat dekade. Akibatnya, pertahanan Eddesa menjadi keropos.

Di sisi lain, pemimpin Eddesa, Joscelin II sedang berseteru dengan pemimpin Byzantium, Raymond de Poitiers terkait pembagian wilayah pasca Perang Salib 1. Pasukan Eddesa yang tidak mungkin meminta bantuan Byzantium itu tidak mampu membendung kekuatan pasukan Muslim pimpinan Zengi.

Empat minggu secara terus-menerus, Zengi mengobarkan semangat jihad pasukannya untuk menggempur pasukan Eddesa. Hasilnya, pada 28 November 1144, kota tersebut berhasil dikuasai oleh pasukan Muslim.

Setelah berhasil menaklukkan Eddesa, Zengi melanjutkan perjalanan ke benteng Ja’bar yang terletak di Sungai Eufrat. Benteng yang dikuasai oleh pasukan Salib itu dikepung oleh pasukan Zengi.

Di samping menahan serangan pasukan Muslim, pihak Salib saat itu juga melakukan kerja sama dengan kelompok Assassi. Mereka meminta kelompok Assassi melakukan penyusupan untuk membunuh Zengi. Rencana tersebut berhasil dijalankan kelompok Assassi, Zengi terbunuh saat sedang tidur di tendanya.

Terbunuhnya Zengi tentu membuat pasukan Muslim merasa terpukul. Upaya untuk memerangi pasukan Salib kemudian digantikan oleh putra Zengi, Nuruddin Mahmud ibn Zengi.

Masa Kepemimpinan Nuruddin Mahmud

Nuruddin Mahmud

Nuruddin Mahmud adalah putra kedua dari Zengi, setelah Saifuddin Ghazi. Sepeninggalan ayahnya, Nuruddin menjadi pemimpin Aleppo, wilayah yang sebelumnya telah ditaklukkan ayahnya. Sementara Ghazi menjadi penerus ayahnya, yakni pemimpin Mosul.

Nuruddin adalah sosok pemimpin yang piawai menggalang kekuatan dari kaum Muslim. Ia sangat pintar menyatukan kekuatan Muslim dari berbagai wilayah.

Nuruddin bersama pasukannya pun melancarkan serangan ke Antiokhia di mana pasukan Salib masih menjadi penguasa di sana. Pasukan Nuruddin berhasil menduduki sejumlah benteng di kawasan Pesisir Suriah dan Syam bagian utara.

Di sisi lain, wilayah Eddesa yang sebelumnya ditaklukkan oleh ayahnya kembali jatuh ke tangan Joscelin II. Joscelin II pun mendapatkan kekuatan tambahan dari Yerussalem, Tripoli dan Antiokhia.

Akan tetapi, pasukan Muslim pimpinan Nuruddin berhasil memukul mundur pasukan Joscelin II. Bahkan, sekitar setengah dari seluruh pasukan pemimpin Eddesa itu tumbang.

Baca :   Sejarah Perang Salib 1: Latar Belakang-Puncak Perang

Kepiawaiannya dalam membangun kekuatan Islam dimanfaatkan Nuruddin untuk menjalin hubungan diplomatik dengan sejumlah wilayah Muslim. Pada tahun 1147, Nuruddin berhasil menggandeng pemimpin Damaskus, Mu’inuddin Unur yang pada zaman ayahnya bersekutu dengan pasukan Salib. Pada zaman kepemimpinan Nuruddin, Mu’inuddin menyadari bahwa keputusan bersekutu dengan pasukan Salib akan menimbulkan kekacauan di kemudian hari. Pada akhirnya, pemimpin Damaskus itu berpihak pada Nuruddin.

Tokoh-tokoh Salib Bersekutu Melawan Mu’inuddin Unur

Menurut umat Kristen, Eddesa adalah kota yang sangat penting. Sebab, di sana terdapat banyak gereja yang menjadi tempat ibadah umat Kristen. Di sisi lain, umat Kristen juga meyakini di dalam gereja utama Eddesa terdapat sapu tangan Yesus.

Atas dasar ini, umat Kristen di Eropa merasa khawatir kota yang sangat penting itu berada di bawah kekuasaan Muslim. Terlebih, jika wilayah-wilayah Kristen lainnya juga dikuasai oleh Muslim.

Adalah Saint Bernard Calixtus II, seorang pendeta di Prancis menjadi pelopor utama pecahnya Perang Salib 2. Pada 31 Maret 1146. Calixtus mengadakan pertemuan dengan sejumlah petinggi gereja untuk membahas rencana Perang Salib 2. Rencana perang ini kemudian disambut baik oleh dua tokoh penting di Eropa, yakni Kaisar Jerman Conrad III dan Raja Prancis Louis II.

Sekitar setahun kemudian, Kaisar Conrad III dan Raja Louis II mulai menjalankan misi Perang Salib 2. Mereka beserta para pasukan Salib melakukan perjalanan menuju ke Baitul Maqdis, Yerussalem.

Kaisar Conrad III beserta pasukannya melakukan perjalanan ke Yerussalem dengan melewati jalur yang sebelunya digunakan oleh pasukan Salib di Perang Salib 1. Kaisar Conrad III Cs dihadang oleh pasukan Seljuk saat sudah menginjakkan kaki di kota Konya. Pasukan Seljuk menggempur habis-habisan pasukan Salib hingga mengalami kekalahan. Oleh sebab itu, Kaisar Conrad III memutar haluan dan menuju ke Konstantinopel, yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis.

Di sisi lain, Raja Louis VII beserta pasukannya melakukan perjalanan dengan melewati pesisir Anatolia. Sesampainya di Baitul Maqdis, sejumlah petinggi berkumpul untuk merencanakan serangan ke pasukan Muslim. Sejumlah petinggi itu di antaranya Raja Louis VII, Kaisar Conrad III, Raja Yerussalem Baldwin III, sejumlah petinggi gereja dan petinggi di kawasan Baitul Maqdis.

Tercapailah satu kesepakatan dari pertemuan tersebut, yakni serangan pertama dalam Perang Salib 2 ditujukan kepada pemimpin Damaskus, Mu’inuddin Unur yang sebelumnya bersekutu dengan pasukan Salib.

Puncak Sejarah Perang Salib 2

Perang Salib 2

Pasukan Salib mulai melancarkan serangan ke Damaskus pada Juni 1148. Penduduk Damaskus tak ambil diam, dengan dibantu oleh ahli fiqih dan sufi, mereka juga menggempur pasukan Salib. Kendati demikian, pasukan Muslim kewalahan menghadapi pasukan Salib. Akibatnya, dua imam besar bernama ‘Abd al Rahman al Halhuli dan Abd al Rahmand Yusuf al Fundalawi yang ikut serta mengepung pasukan Salib meninggal dunia.

Baca :   Sejarah Perang Khaibar Antara Umat Islam dan Kaum Yahudi

Kondisi ini menuntut pasukan Muslim Damaskus menerapkan strategi defensif (bertahan). Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama seiring datangnya pasukan dari pemimpin Aleppo, Nuruddin Mahmud dan pemimpin Mosul, Saifuddin Ghazi. Kedua keturunan Zengi itu membantu pasukan Muslim Damaskus menggempur pasukan Salib.

Akibatnya, pasukan Salib yang sebelumnya melakukan penyerangan mengubah strategi menjadi defensif. Di sisi lain, konflik internal muncul di badan pasukan Salib terkait hak pembagian jika Damaskus sudah jatuh ke tangan kekuasaannya. Kondisi ini memperparah pasukan Salib yang tengah digempur oleh pasukan keturunan Zengi.

Konflik internal di badan pasukan Salib semakin menjadi-jadi. Kaisar Conrad III menuding Raja Yerussalem Baldwin III dan sejumlah pemimpin lainnya melakukan pengkhianatan. Raja Baldwin III Cs disebut memberikan instruksi buruk terkait strategi perang untuk pasukan Salib.

Pasukan Salib pun semakin panik dengan serangan pasukan Muslim. Pada akhirnya, pasukan Salib dipukul mundur oleh pasukan Muslim. Pasukan Salib yang masih hidup pun melarikan diri ke tepi laut. Adapun Kaisar Conrad III dan Raja Louis VII juga mengikuti jejak pasukan Salib lainnya, dan kembali ke Eropa.

Pasca Perang Salib 2

Perang Salib 2 dimenangkan oleh pihak Muslim. Kemenangan ini merupakan bagian dari kebangkitan Muslim di bawah kepemimpinan Nuruddin. Reputasi putra Zengi itu pun semakin meroket tinggi.

Ekspansi Nuruddin terus berlanjut. Setelah memenangkan pertempuran di Damaskus, ia menginjakkan kai di Benteng Inab. Wilayah tersebut pun berhasil ditaklukkan. Adapun pemimpin Byzantium, Raymond de Pontiers, pada tahun 1149, yang ikut serta membantu pasukan Salib tewas dalam peperangan.

Pada tahun 1154, putra Zengi itu berhasil mempersatukan Suriah. Di sisi lain, pada tahun 1163, pasukan Salib yang saat itu dikomandoi Almaric memfokuskan perhatiannya pada Daulah Fatimiyah. Daulah yang terletak di Mesir itu memang tengah mengalami kemunduran setelah terbunuhnya menteri Tala’i pada tahun 1611.

Merespons hal itu, Nuruddin mengintervensi persoalan yang ada di Mesir itu. Nuruddin mengerahkan dua panglima andalannya, yakni Salahuddin (Saladin) dan Shirkuh. Mesir menjadi salah satu wilayah penting dalam sejarah Perang Salib berikutnya, yakni Perang Salib 3.

Demikian pembahasan tentang sejarah Perang Salib 2 yang dimenangkan oleh pasukan Muslim. Sejarah Perang Salib tidak berhenti sampai di sini, masih ada kelanjutan ceritanya pada sejarah Perang Salib 3 dan Perang Salib 4.

Semoga pembahasan kali ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment