Sejarah Perang Salib 3: Latar Belakang-Akhir Perang

by Trianilus
0 comment 76 views
Sejarah Perang Salib 3: Latar Belakang-Akhir Perang

Sejarah Perang Salib 3 merupakan kelanjutan cerita dari Perang Salib 2 maupun Perang Salib 1. Dalam Perang Salib 1, pasukan Salib menjadi pemenang dan menguasai banyak wilayah Muslim di Timur Dekat (istilah tua dari Timur Tengah).

Sementara itu, dalam Perang Salib 2, pasukan Muslim mulai menunjukkan kegaharannya. Pada masa ini, pasukan Muslim menampakkan kebangkitannya setelah kalah dari pasukan Salib di Perang Salib 1.

Pasukan Muslim yang saat itu dipimpin oleh Nuruddin Mahmud berhasil mengambil alih wilayah-wilayah Muslim yang sebelumnya jatuh ke tangan pasukan Salib. Adalah Damaskus menjadi salah satu wilayah yang berhasil direbut olehnya, di mana puncak Perang Salib 2 meletus.

Setelah memenangkan Perang Salib 2, Nuruddin terus melakukan ekspansi wilayah. Salah satunya adalah melakukan intervensi di badan internal Mesir yang saat itu ditimpa berbagai persoalan. Seorang panglima yang juga keponakan dari Nuruddin, Salahuddin al Ayubi dikirim untuk mengatasi persoalan tersebut.

Salahuddin al Ayubi inilah yang menjadi tokoh penting dalam Perang Salib 3. Siapa dia dan apa kontribusinya dalam Perang Salib 3? Anda akan menemukan jawabannya pada pembahasan kali ini. Selain itu, dibahas pula latar belakang, puncak peperangan dan akhir dari Perang Salib 3.

Berikut pembahasan lengkap mengenai sejarah Perang Salib 3.

Baca juga : Biografi Salahudin Al Ayubi & Fakta Kehidupannya

Latar Belakang Sejarah Perang Salib 3

Salahuddin al Ayubi adalah sosok pemimpin Mesir yang terkenal piawai dalam bidang militer dan peperangan. Selain itu, Salahudin al Ayubi juga memiliki kemampuan mempersatukan umat Muslim yang sebelumnya sempat berseteru.

Hal ini dibuktikan olehnya pada masa awal pemerintahannya sebagai pemimpin Mesir. Salahuddin al Ayubi, saat itu, berhasil mempersatukan wilayah-wilayah Islam di Mesir dan Syria. Padahal, sebelumnya dua wilayah ini saling berseteru saat kepemimpinan Khalifah Fatimiyah untuk Mesir dan Dinasti Zengid untuk Syria.

Mempersatukan dua wilayah yang memiliki hubungan kurang harmonis pada awal masa kepemimpinan adalah capaian yang luar biasa. Lebih dari itu, Salahuddin al Ayubi mengajak umat Muslim baik di Mesir maupun Syria menghentikan dominasi negara-negara Salib di kawasan Asia Kecil.

Berhasil! Misi Salahuddin al Ayubi yang dibantu oleh pasukan Muslim dalam menghentikan dominasi negara-negara Salib di kawasan Asia Kecil sukses besar. Terlebih, pada 2 Oktober 1187, Yerussalem sudah berada di genggaman Salahuddin al Ayubi.

Jatuhnya Yerussalem ke tangan Muslim membuat petinggi-petinggi Salib di Eropa mengambil sikap. Mereka tentunya ingin merebut wilayah tersebut dari kekuasaan Salahuddin al Ayubi.

Baca :   Sejarah Konflik Kashmir, Perang Antara India-Pakistan

Salahuddin al Ayubi Merebut Yerussalem

Biografi Salahudin Al Ayubi & Fakta Kehidupannya

Bukanlah hal mudah bagi Salahuddin al Ayubi beserta pasukan Muslim untuk merebut kembali Yerussalem dari tangan pasukan Salib. Sebelum 2 Oktober 1187 saat Yerussalem sudah berada di genggaman Salahuddin al Ayubi, terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Muslim dengan pasukan Salib.

Dalam pertempuran ini, Salahuddin al Ayubi kerap mengobarkan semangat jihad kepada pasukan Muslim agar lebih bersemangat lagi dalam menghadapi pasukan Salib. Di samping itu, di Kubatu Shakhrakh, pasukan Salib memancangkan lambang Salib berukuran besar. Bukan tanpa alasan, pasukan Salib melakukan itu untuk memancing pasukan Salahuddin al Ayubi.

Tujuan tersebut pun tercapai. Salahuddin al Ayubi dan pasukan Muslim bergerak cepat mendekati Kubatu Shakhrakh. Pihak Muslim bermaksud untuk memindahkan Salib itu. Berhasil! Salahuddin al Ayubi dan pasukan Muslim berhasil menjatuhkan, bahkan memotong Salib itu.

Lebih dari itu, pasukan Muslim terus melakukan serangan terhadap pasukan Salib hingga terpojok. Pasukan Salib kemudian tercerai-berai.

Karena hancurnya pertahanan, sejumlah pimpinan pasukan Salib menemui Salahuddin al Ayubi. Mereka ingin menyerahkan Yerussalem ke tangan Muslim dengan cara damai.

Namun, Salahuddin al Ayubi menolak ajakan damai itu. Menurutnya, pasukan Salib yang sebelumnya menaklukkan Yerussalem dengan kekerasan harus dibalas juga dengan kekerasan. Salahudin al Ayubi mengaku tidak tega dengan pasukan Muslim yang terbunuh akibat serangan pasukan Salib.

Para pemimpin pasukan Salib terus membujuk dan merayu Salahuddin al Ayubi. Hingga akhirnya, pemimpin tertinggi pasukan Salib saat itu, Balian bin Bazran mengancam akan membunuh sekitar 4.000 orang Muslim yang ditahan oleh pasukan Salib jika tidak ingin berdamai. Lebih lanjut, Balian juga mengancam akan menghancurkan bangunan-bangunan penting di Yerussalem, termasuk Kubatu Shakhrakh. Balian pun menyatakan siap berperang mati-matian.

Merespons hal itu, Salahuddin al Ayubi akhirnya menuruti tuntutan mereka. Sehingga berlangsnglah penyerahan Yerussalem secara damai kepada pihak Muslim. Namun, Salahudin al Ayubi membebankan uang tebusan bagi pasukan Salib. Bagi mereka yang tidak mampu membayar uang tebusan maka harus siap menjadi tawanan dan hamba sahaya pasukan Muslim. Ternyata, ada sekitar 16 ribu pasukan Salib yang tidak mampu membayar uang tebusan.

Selain itu, pasukan Salib diharuskan menyerahkan semua rumah dan alat peperangan kepada pasukan Muslim. Mereka kemudian diperbolehkan meninggalkan Yerussalem dan pergi ke mana pun.

Pada 2 Oktober 1187 Masehi atau 27 Rajab 583 Hijriah, Salahuddin al Ayubi masuk ke dalam Baitul Maqdis. Ia disambut dengan gembira oleh kaum Muslim. Tidak sedikit pula para ulama yang berdatangan dan mengucapkan selamat kepada Salahuddin al Ayubi yang telah berhasil mengembalikan Yerussalem ke pangkuan umat Muslim.

Baca :   Sejarah Perang Salib 4: Latar Belakang-Akhir Perang

Kemudian, Salahudin al Ayubi Cs memulihkan kehormatan Baitul Maqdis dengan mengeluarkan sejumlah Salib yang ada di dalamnya.

Petinggi Salib Berencana Merebut Kembali Yerussalem

Kabar tentang jatuhnya Yerussalem ke genggaman pihak Muslim sampai ke telinga petinggi-petinggi Salib di Eropa. Menariknya, kabar tersebut membuat raja dari Prancis, Philippe Auguste dan raja dari Inggris, Henry II yang sebelumnya berseteru menghentikan perseteruan tersebut. Lebih dari itu, mereka juga bersatu untuk menjalankan misi perebutan kembali wilayah Yerussalem.

Akan tetapi, raja dari Inggris, Henry II meninggal dunia pada tahun 1189. Adalah Richard I menjadi pengganti Henry II untuk memimpin pasukan Salin dari Inggris.

Richard I ini juga dikenal sebagai ‘Richard the Lion Heart’ atau ‘Richard si Hati Singa’. Bukan tanpa alasan, julukan ‘the Lion Heart’ disematkan pada nama Richard karena ia terkenal sangat berani dalam mengambil keputusan dan tidak terlalu berpikir panjang, layaknya singa.

Di sisi lain, Kerajaan Romawi Suci di Jerman juga tertarik untuk bergabung di badan pasukan Salib dalam melancarkan misi perebutan wilayah Yerussalem. Pasukan Salib Jerman ini dikomandoi oleh Friedrich Barbarossa.

Namun, dalam perjalanan menuju Yerussalem, karena usianya yang sudah tua, Friedrich Barbarossa mengalami kecelakaan pada 10 Juni 1190. Pemimpin pasukan Salib Jerman itu tenggelam di sebuah sungai dan meninggal dunia.

Karena pimpinannya meninggal, sebagian besar pasukan Salib Jerman memutuskan untuk kembali ke Eropa. Namun, masih ada sebagian kecil pasukan Salib Jerman yang terus melakukan perjalanan menuju Yerussalem.

Puncak Sejarah Perang Salib 3

Richard the Lion Heart

Richard the Lion Heart

Raja dari Prancis, Philippe Auguste beserta pasukannya tiba di Yerussalem lebih dulu dari pasukan Inggris. Tak perlu menunggu waktu lama, Philippe langsung memerintahkan pasukan Salib-nya melancarkan serangan ke pasukan Muslim. Philippe Cs berhasil menguasai kota Akko dari tangan pasukan Muslim.

Akan tetapi, pertempuran dahsyat itu membuat pasukan Philippe kehabisan stok persenjataan. Serangan dari pasukan Muslim pun tidak bisa dibendung. Pada akhirnya, pada Agustus 1191, pasukan Salib Prancis memilih untuk menghentikan perlawanan dan meninggalkan Yerussalem.

Sementara itu, Richard the Lion Heart juga langsung melancarkan serangan setibanya di Yerussalem. Richard si Hati Singa ini berambisi merebut seluruh wilayah Yerussalem dari tangan pasukan Muslim.

Salahuddin al Ayubi selaku pimpinan pasukan Muslim tak ambil diam. Ia memerintahkan pasukan Muslim ‘mempertontonkan’ pertahanan yang kokoh. Sehingga, Richard the Lion Heart Cs tak mampu melakukan serangan kepada pasukan Muslim.

Baca :   Latar Belakang Sejarah Terjadinya Perang Dunia 2

Pasukan Salib Inggris terus berusaha menggempur pasukan Muslim. Namun, gempuran yang terus-menerus itu tak membuahkan hasil. Bahkan, logistik persenjataan pasukan Salib terus berkurang. Akibatnya, pasukan Salib kesulitan bertahan di wilayah Yerussalem.

Akhir Perang Salib 3: Munculnya Upaya Perdamaian

Pasukan Salib Inggris mulai menunjukkan kemundurannya. Terlebih, pimpinanannya yang dijuluki si Hati Singa itu jatuh sakit. Richard the Lion Heart kemudian mengajak Salahuddin al Ayubi untuk berdamai.

Salahudin al Ayubi yang mengetahui Richard the Lion Heart sakit langsung menjenguknya. Lebih dari itu, Salahudin al Ayubi disebut-sebut ikut serta merawat dan mengobati luka-luka Richard the Lion Heart hingga sembuh. Di sisi lain, ada juga sejarawan yang menyebut Salahudin al Ayubi tidak terlibat langsung dalam menyembuhkan Richard the Lion Heart, melainkan mengirim dokter untuk pemimpin pasukan Salib Inggris itu.

Merespons hal itu, Richard the Lion Heart mengucapkan terima kasih dan betul-betul mengakui kebaikan dan kebesaran hati Salahuddin al Ayubi. Kedua pimpinan perang itu, pada akhirnya, sepakat untuk berdamai.

Kesepakatan untuk berdamai ini dilakukan melalui perjanjian perdamaian di Ramleh pada 2 September 1192. Isi perjanjian itu adalah pihak Salib menyerahkan kendali Yerussalem ke Salahuddin al Ayubi. Namun, pihak Salib juga meminta petinggi Muslim di Yerussalem membolehkan warga Kristen, baik itu peziarah maupun pedagang, mengunjungi Tanah Suci tersebut.

Setelah mencapai kesepakatan antara kedua belah pihak, Richard the Lion Heart menginstruksikan pasukan Salib Inggris untuk meninggalkan Yerussalem. Hal ini dilakukan Richard the Lion Heart pada 2 Oktober 1192.

Dalam Perang Salib III ini, pasukan Salib dapat dikatakan menjadi pihak yang kalah. Dengan kata lain, pasukan Salib gagal mencapai misi utama, yakni merebut wilayah Yerussalem dari pasukan Muslim di bawah pimpinan Salahudin al Ayubi.

Salahuddin al Ayubi Wafat

Setahun kemudian, setelah tercapainya kesepakatan perjanjian damai dan Richard the Lion Heart beserta pasukannya meninggalkan Yerussalem, Salahuddin al Ayubi meninggal dunia di Damaskus. Salahuddin al Ayubi meninggal dunia tepatnya pada 21 Februari 1193, saat berusia 55 tahun.

Diketahui, sang pemimpin besar pasukan Muslim itu meninggal dunia setelah mengalami sakit demam selama 12 hari. Tidak sedikit orang yang datang untuk menyalatkan jenazah Salahuddin al Ayubi.

Menariknya, Salahuddin al Ayubi tidak memiliki cukup harta untuk membiayai pemakamannya. Sebab, semasa hidupnya, hartanya telah dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

Demikian pembahasan tentang sejarah Perang Salib 3, yang pada akhirnya muncul upaya perdamaian dari pasukan Salib di bawah kepemimpinan Richard the Lion Heart dan pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Salahuddin al Ayubi. Semoga pembahasan ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment