Sejarah Perang Salib 4: Latar Belakang-Akhir Perang

by Trianilus
0 comment 76 views
Sejarah Perang Salib 4: Latar Belakang-Akhir Perang

Sejarah perang Salib 4 berbeda dengan sejarah Perang Salib 3 dan sebelumnya. Memang tujuannya sama, yakni merebut kembali Yerussalem dari kekuasaan pasukan Muslim. Namun, dalam perang Salib 4, pasukan Salib tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Yerussalem.

Lebih dari itu, pasukan Salib pun tidak pernah berperang dengan pasukan Muslim. Oleh karena itu, sejarah Perang Salib 4 menjadi kurang populer dibandingkan dengan sejarah Perang Salib sebelumnya, terutama sejarah Perang Salib 3.

Perang Salib 4 dapat dikatakan sebagai ekspedisi bersenjata dari pasukan Salib di Eropa Barat yang bertujuan untuk menaklukkan Yerussalem, namun berujung pada penyerangan dan penjarahan di ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Padahal, Konstantinopel adalah pusat dari kaum Kristen Ortodoks Timur.

Adalah Paus Innosentius III pelopor dari meletusnya Perang Salib 4. Ia betul-betul ingin menaklukkan Yerussalem dari Dinasti Ayyubiyah. Sementara itu, Dinasti Ayyubiyah sudah tidak dipimpin lagi oleh Salahuddin al Ayubi, seorang pemimpin pasukan Muslim yang berhasil meraih kemenangan atas pasukan Salib di Perang Salib 3.

Bagi pihak Salib, wafatnya Salahuddin al Ayubi adalah sesuatu yang menguntungkan. Mereka memprediksi kekuatan pasukan Muslim sudah tidak seperti sedia kala. Dengan kata lain, pasukan Dinasti Ayubiyyah mengalami penurunan seiring bergantinya pimpinan. Sehingga, pasukan Salib menyimpulkan bahwa menaklukkan Yerussalem yang dikendalikan oleh Dinasti Ayyubiyah adalah hal yang tidak sulit.

Berikut pembahasan lengkap tentang sejarah Perang Salib 4, mulai dari latar belakang hingga puncak peperangan serta kejadian pasca Perang Salib 4. Namun, sebelum menuju ke latar belakang kejadian, kita akan membahas tentang ‘akhir dari perang Salib 3’.

Akhir dari Perang Salib 3

Perang Salib 3 dimenangkan oleh pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Salahuddin al Ayubi. Adapun, saat itu, pasukan Salib dipimpin oleh Philippe Auguste untuk pasukan Salib Perancis dan Richard the Lion Heart untuk pasukan Salib Inggris.

Pasukan Salib Philippe Auguste datang lebih awal di Yerussalem. Namun, mereka menghentikan perlawanan saat Pasukan Muslim melancarkan serangan secara terus-menerus. Kemudian, pasukan Salib Richard the Lion Heart tiba di Yerussalem. Lagi! Pasukan Muslim ternyata lebih kuat dari pasukan Salib.

Pada akhirnya, Richard the Lion Heart meminta berdamai dengan Salahuddin al Ayubi. Salahuddin al Ayubi kemudian mengiyakan tawaran perdamaian tersebut. Yerussalem pun jatuh ke tangan pasukan Muslim. Sementara kubu Salib meminta kepada petinggi Yerussalem agar membolehkan warga Kristen, baik itu peziarah maupun pedagang, mengunjungi Tanah Suci tersebut.

Baca :   Konsep Berpikir Diakronik dan Sinkronik Beserta Contohnya

Setelah mencapai kesepakatan perdamaian, Richard the Lion Heart beserta pasukannya, tepatnya pada 2 Oktober 1192, memutuskan untuk meninggalkan Yerussalem dan kembali ke Eropa. Pada tahun berikutnya, tepatnya pada 21 Februari 1193, pimpinan pasukan Muslim Salahuddin al Ayubi meninggal dunia. Salahuddin al Ayubi meninggal setelah berjuang melawan sakit demam selama 12 hari, di usianya yang ke-55 tahun.

Latar Belakang Sejarah Perang Salib 4

Paus Innosentius III

Setelah Yerussalem berhasil dikuasai oleh pasukan Muslim, wilayah tersebut kemudikan dikendalikan oleh Dinasti Ayyubiyah. Adalah Paus Innosentius III yang diangkat menjadi Paus pada 1198 menyerukan Perang Salib 4. Perang Salib 4 ini dijadikan sebuah tujuan dari kepausannya.

Di sisi lain, Paus Innosentius III menganggap kekuatan Dinasti Ayyubiyah tidak seperti sebelumnya ketika masih dipimpin oleh Salahuddin al Ayubi. Menurutnya, dinasti pengendali Yerussalem itu mengalami penurunan kekuatan karena Salahuddin al Ayubi sudah meninggal dunia. Atas dasar itu, Paus Innosentius III semakin percaya diri pasukan Muslim akan mudah dikalahkan.

Seruan Perang Salib 4 oleh Paus Innosentius III ini dilakukan pada tahun 1.200 Masehi. Seperti Perang Salib sebelumnya, Perang Salib 4 memiliki misi utama merebut kembali wilayah Yerussalem dari Dinasti Ayyubiyah. Namun, pada akhirnya, pasukan Salib tidak pernah masuk ke wilayah Yerussalem.

Pasukan Salib Menyerang Kota Zara

Untuk menuju ke Yerussalem (namun gagal), pasukan Salib memilih untuk berlayar ke Mesir terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan bergerak ke Yerussalem. Perjalanan ke Mesir tidaklah mudah bagi pasukan Salib. Sebab, pasukan Salib tidak memiliki cukup kendaraan kapal untuk mengangkut mereka.

Oleh sebab itu, pada tahun 1022 Masehi, pasukan Salib mendatangi Venesia untuk menyewa kapal. Akan tetapi, pasukan Salib tidak memiliki cukup uang untuk menyewa kapal Venesia.

Venesia kemudian membuat sebuah kesepakatan. Mereka membolehkan pasukan Salib menggunakan kapal-kapalnya menuju ke Mesir dan Yerussalem dengan syarat terlebih dahulu ikut serta membantu Venesia menaklukkan kota Zara.

Kota Zara adalah kota yang terletak di Hongaria modern. Venesia memerangi kota ini saat dikuasai oleh Hongaria.

Pasukan Salib, pada akhirnya, menyetujui kesepakatan tersebut. Mereka membantu Venesia melancarkan serangan ke kota Zara walaupun Zara adalah kota Kristen. Mengetahui kejadian tersebut, Paus Innosentius III sejatinya tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh pasukan Salib.

Kendati begitu, pasukan Salib tetap membantu Venesia dalam menaklukkan kota Zara. Mereka pun mendapatkan sejumlah kapal dari Venesia untuk menuju ke Mesir.

Pasukan Salib Bergerak ke Mesir

Setelah berhasil menaklukkan kota Zara, pasukan Salib bergerak menuju ke Mesir. Ya, pasukan Salib memutuskan untuk menginjakkan kaki ke Mesir terlebih dahulu sebelum menuju ke Yerussalem karena suatu pertimbangan. Pasukan Salib menilai pasukan Muslim Dinasti Ayubiyyah yang berpusat di Mesir harus dikalahkan terlebih dahulu sebelum melanjutkan peperangan dengan pasukan Muslim Dinasti Ayubiyyah yang berada di Yerussalem.

Baca :   Latar Belakang Sejarah Terjadinya Perang Dunia 2

Terbukti! Strategi tersebut berhasil melemahkan pasukan Muslim Dinasti Ayubiyyah di Mesir. Pasukan Muslim kalah karena pertahanannya terbagi menjadi dua, yakni untuk Mesir itu sendiri dan Yerussalem. Sehingga, gempuran serangan pasukan Salib yang cukup besar tak mampu dibendung.

Setelah berhasil mengalahkan pasukan Muslim Dinasti Ayubiyyah di Mesir, pasukan Salib ternyata tidak langsung menuju Yerussalem. Tepatnya pada Januari 1203, pasukan Salib terlebih dahulu menemui Alexios Angelos, seorang petinggi di Bizantium yang baru saja dilengserkan dari posisinya sebagai kaisar Bizantium.

Puncak Sejarah Perang Salib 4

Pasukan Salib melakukan kerja sama yang sama-sama menguntungkan antara pihaknya dengan Alexios Angelos. Alexios Angelos menyatakan ingin naik tahta lagi menjadi kaisar Bizantium. Oleh karenanya, ia meminta pasukan Salib merealisasikan keinginannya tersebut.  Di sisi lain, Alexios Angelos berjanji akan membantu pasukan Salib dalam menjalankan misi menaklukkan Yerussalem dengan mengerahkan pasukannya dalam jumlah besar.

Sejarawan lain menyebutkan Alexios Angelos berjanji memberikan uang (atau membayar) pasukan Salib jika dirinya berhasil naik tahta lagi. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, Alexios Angelos meminta pasukan Salib memerangi dan menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Bizantium. Karena saling menguntungkan, pasukan Salib tidak keberatan bekerja sama dengan Alexios Angelos. Kerja sama ini juga semakin membuat pasukan Salib optimis dalam menjalankan misi perebutan Yerussalem karena dijanjikan bantuan pasukan dari Bizantium.

Pada 23 Juni 1203 Masehi, sebagian pasukan Salib telah tiba di Konstantinopel. Diketahui, Konstantinopel adalah pusat dari Kristen Ortodoks Timur. Hal inilah yang (ke depannya) mengakibatkan perpisahan besar antara Gereja Katolik Roma dengan Gereja Ortodoks Timur.

Pasukan Salib pantang menyerah menyerang pasukan Konstantinopel. Di lain pihak, pasukan Konstantinopel kewalahan menahan serangan dari pasukan Salib. Alhasil, pasukan Salib berhasil menumbangkan pasukan Konstantinopel.

Pada akhirnya, Alexios Angelos berhasil naik tahta lagi, yakni menjadi kaisar Bizantium. Namun, Alexios Angelos tidak mampu menunaikan janjinya, yakni memberi imbalan uang kepada pasukan Salib setelah dirinya naik tahta lagi. Sebab, Alexios Angelos tidak memiliki cukup harta.

Kaisar Bizantium itu berusaha menunaikan janjinya. Ia melakukan penarikan pajak tambahan dari rakyat Bizantium. Rakyat Bizantium pun merespons hal itu dengan menaruh kebencian kepada sang kaisar. Lebih dari itu, Alexios Angelos dan ayahnya dibunuh. Kursi kaisar kemudian diduduki oleh Alexios V.

Baca :   Sejarah Perang Korea & Terpisahnya Wilayah Utara-Selatan

Akhir Perang Salib 4: Pasukan Salib Tak Jadi Menyerang Yerussalem

Pupus harapan pasukan Salib setelah mengetahui Alexios Angelos terbunuh. Dengan kata lain, janji yang digembor-gemborkan sebelumnya tidak terealisasi. Pasukan Salib, pada akhirnya, tidak pernah menginjakkan kaki di Yerussalem. Dengan kata lain, misi menaklukkan Yerussalem yang diserukan oleh Paus Innosentius III gagal sebagaimana yang terjadi pada Perang Salib 3.

Kendati demikian, pada tahun 1204 Masehi, pasukan Salib kembali melancarkan serangan ke Konstantinopel. Lebih dari itu, mereka juga melakukan penjarahan uang dan harta benda di ibu kota Bizantium itu.

Setelah itu, pasukan Salib memutuskan untuk pulang. Mereka tidak pernah tiba di Yerussalem, dan mereka tidak pernah berperang dengan Dinasti Ayyubiyah.

Pasca Perang Salib 4

Pasca Perang Salib 4, tepatnya pada tahun 1216 Masehi, Paus Honorius III (lagi-lagi) nmenyerukan akan merebut Yerussalem. Paus Honorius menyatakan siap turun langsung memimpin pasukan Salib untuk menaklukkan Dinasti Ayyubiyah.

Ya, pasukan Salib dipimpin langsung oleh Paus Honorius III, bukan lagi para raja Eropa. Bahkan, seorang raja dari Kekaisaran Romawi Suci, Friedrich II yang ingin ikut berperang, ditolak mentah-mentah oleh Paus Honorius III. Paus menyatakan bahwa penaklukkan Yerussalem kali ini adalah untuk Paus, bukan raja.

Pasukan Salib melakukan mulai melakukan perjalanan dengan melewati jalur selatan. Pada tahun 1218 Masehi, mereka melancarkan serangan ke pelabuhan Damietta di Mesir. Pasukan Salib saat itu dibantu oleh pasukan Sultan Seljuk, Kay Kaus I.

Pada tahun 1219 Masehi, Damietta berhasil digenggam oleh pasukan Salib. Kendati demikian, ada banyak pasukan Salib yang meninggal dalam peperangan maupun akibat penyakit. Lebih lanjut, di badan internal pasukan Salib pun mengalami konflik. Mereka saling bertikai untuk memperebutkan kekuasaan di Damietta.

Pada 1221 Masehi, pasukan Salib semakin berambisi memperluas wilayah kekuasaannya di Mesir. Pasukan Ayyubiyah tidak mau ambil diam. Mereka membanjiri jalan-jalan dengan memanfaatkan sungai nil.

Pasukan Salib, pada akhirnya, terperangkap. Pasukan Ayyubiyah kemudian mengadakan perjanjian dengan pasukan Salib. Mereka siap melepas pasukan Salib dengan syarat harus menyerahkan kembali Damietta ke Dinasti Ayubiyyah.

Pasukan Salib menyetujui perjanjian tersebut. Damietta pun kembali ke pangkuan Dinasti Ayubiyyah dan pasukan pimpinan Paus Honorius III itu pulang ke Eropa.

Itulah pembahasan tentang sejarah Perang Salib 4, mulai dari latar belakang hingga puncak peperangan serta kejadian pasca Perang Salib 4. Inti dari sejarah Perang Salib 4 adalah pasukan Salib gagal menaklukkan Yerussalem.

Semoga pembahasan ini bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment