Sejarah Perang Vietnam: Latar Belakang-Akhir Perang

by Trianilus
0 comment 65 views
Sejarah Perang Vietnam: Latar Belakang-Akhir Perang

Mari kita bahas tuntang tentang sejarah perang Vietnam. Perang ini terjadi pada 1955 hingga 1975 antara Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) dan Republik Vietnam (Vietnam Selatan).

Selama perang, kedua belah pihak mendapatkan bantuan dari negara-negara lain. Vietnam Utara mendapatkan bantuan dari negara-negara komunis, di antaranya China, Korea Utara, Uni Soviet, Kuba dan Mongolia. Sementara Vietnam Selatan mendapatkan bantuan dari negara-negara yang kontra terhadap ideologi komunisme, di antaranya Amerika Serikat, Selandia Baru, Australia, Filipina dan Thailand.

Perang Vietnam dapat dikatakan sebagai perang besar. Sebab, perang ini menelan banyak korban jiwa baik bagi Vietnam Utara maupun Vietnam Selatan. Adapun pemenang dari peperangan ini adalah Vietnam Utara.

Penasaran seperti apa lanjutan dari sejarah perang Vietnam? Simak pembahasan lengkap sejarah perang Vietnam, mulai dari latar belakang hingga akhir peperangan di bawah ini!

Latar Belakang Sejarah Perang Vietnam

Pada abad ke-19, Vietnam berada di pangkuan kolonial Prancis. Kemudian, saat perang dunia 2 meletus, tentara Jepang melancarkan serangan ke Vietnam.

Tokoh pemimpin politik di Vietnam, Ho Chi Minh tidak mau negaranya berada di genggaman negara lain. Ho Chi Minh membentuk liga untuk kemerdekaan Vietnam yang ia namai Viet Minh. Tentunya, tujuan dari Viet Minh adalah untuk melawan Prancis dan Jepang.

Jepang ternyata mengalami kekalahan dalam perang dunia 2 setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Amerika Serikat. Alhasil, Jepang menarik pasukannya dari Vietnam. Kemunduran Jepang ini membuat seseorang berpendidikan Prancis, Kaisar Bao menduduki kekuasaan tertinggi.

Kemunduran Jepang juga menjadikan peluang bagi pasukan Viet Minh untuk merebut kendali. Pada akhirnya, pasukan Ho Chi Minh ini berhasil mencaplok kota utara Hanoi. Mereka pun mendeklarasikan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara), dengan Ho Chi Minh menjabat sebagai presiden.

Di sisi lain, Prancis yang masih berada di Vietnam, pada Juli 1949, mendukung Kaisar Bao untuk mendirikan negara Republik Vietnam (Vietnam Selatan). Kota Saigon dipilih menjadi ibu kota dari negara baru tersebut.

Alhasil, muncullah dua negara di wilayah Vietnam. Kedua negara ini menganut konsep ideologi yang berbeda. Negara pimpinan Ho Chi Minh menganut ideologi komunisme seperti Uni Soviet dan China, sementara Kaisar Bao menginginkan negara pimpinannya seperti negara-negara kapitalisme di Barat.

Sebenarnya, kedua pemimpin tersebut menginginkan Vietnam bersatu. Ho Chi Minh menginginkan seluruh wilayah Vietnam berideologi komunisme, sementara Kaisar Bao menginginkan seluruh wilayah Vietnam menganut kapitalisme.

Vietnam Selatan Mendapat Bantuan dari Amerika

Vietnam Selatan Mendapat Bantuan dari Amerika

 

Pada Mei 1954, pasukan Vietnam Utara berseteru dengan pasukan Vietnam Selatan di Dien Bien Phu. Pasukan Vietnam Selatan, saat itu, dibantu oleh tentara Prancis. Namun, sekalipun dibantu oleh tentara Prancis, Vietnam Selatan mengalami kekalahan dalam pertempuran itu. Kekalahan ini juga mengakibatkan kekuasaan Prancis di wilayah Vietnam berakhir.

Pada bulan berikutnya, Konferensi Jenewa di Swiss membagi Vietnam menjadi dua wilayah, yakni wilayah utara dipegang oleh Ho Chi Minh dan wilayah selatan dikendalikan oleh Kaisar Bao.

Pada tahun 1955, kedudukan Kaisar Bao sebagai pemimpin tertinggi Vietnam Selatan disingkirkan oleh Ngo Dinh. Ngo Dinh Diem pada akhirnya menggantikan Kaisar Bao menjadi pemimpin di Vietnam Selatan.

Baca :   Konsep Berpikir Diakronik dan Sinkronik Beserta Contohnya

Di sisi lain, perang dingin semakin meluas di berbagai penjuru dunia. Amerika Serikat yang berseteru dengan Uni Soviet mengeluarkan kebijakan keras terhadap sekutu-sekutu negara komunis tersebut. Adapun salah satu sekutu dari Uni Soviet adalah Vietnam Utara.

Pada akhirnya, Presiden Amerika Serikat, Dwigh D Eisenhower menyatakan akan membantu Vietnam Selatan untuk melawan Vietnam Utara yang pro komunisme. Dengan bantuan Amerika Serikat, pasukan Ngo Dinh menumpas para pendukung Ho Chi Minh yang ada di Vietnam Selatan. Dikabarkan, pasukan Ngo Dinh melakukan penangkapan terhadap 10 ribu pendukung Ho Chi Minh, dengan sebagian besar di antara mereka dieksekusi secara brutal.

Pada tahun 1957, pendukung Ho Chi Minh beserta orang-orang yang memusuhi Ngo Dinh bersatu melancarkan serangan ke pejabat pemerintahan tokoh-tokoh penting di Vietnam Selatan. Tiga tahun kemudian, mereka membentuk National Liberation Front/NLF (Front Pembebasan Nasional) untuk melakukan perlawanan terhadap kepemimpinan Ngo Dinh.

Amerika Mengirim 9 Ribu Pasukan ke Vietnam Selatan

Setelah Presiden Dwigh D Eisenhower, kini giliran Presiden John F Jenndey (pengganti Dwigh) mengirim pasukan dari Amerika Serikat ke Vietnam Selatan. Saat itu, Vietnam Selatan memang tengah terancam oleh pendukung Ho Chi Minh dan anti pemerintah.

Selain itu, Amerika beranggapan jika negara di Asia Tenggara berada di genggaman komunisme, maka banyak negara lain akan berideologi komunisme. Oleh karenanya, Amerika mengirim 9 ribu pasukan untuk membantu Vietnam Selatan dalam menghadapi pasukan Ho Chi Minh dan anti pemerintah.

Vietnam Utara Vs Amerika

Vietnam Utara Vs Amerika

Pada Agustus 1964, kapal perusak Amerika Serikat berdiri di Teluk Tonkin. Pada saat itu juga kapal torpedo Vietnam Utara melancarkan serangan.

Presiden pengganti John F Kennedy, Lyndon B Johnson meminta pasukan Amerika untuk melakukan serangan balasan. Menuruti permintaan sang presiden, pasukan Amerika menjatuhkan bom reguler ke arah pasukan Vietnam Utara.

Lebih lanjut, Johnson mengerahkan pasukan tempur Ameria sebanyak 82 ribu orang untuk membantu Vietnam Selatan, pada Juni 1965. Ternyata para pimpinan pasukan menambahkan pasukan sebanyak 175 ribu untuk mendapatkan kekuatan yang maksimal dalam bertempur melawan Vietnam Utara.

Selain Amerika, negara-negara anti komunisme seperti Selandia Baru, Australia, Filipina dan Thailand juga turut membantu Vietnam Selatan. Sekalipun bantuan mereka tidak sebesar apa yang dilakukan Amerika.

Pertempuran Semakin Sengit

Pertempuran antara Vietnam Selatan-Amerika Serikat melawan Vietnam Utara-kelompok anti pemerintah semakin sengit. Tepatnya pada tahun 1966, sejumlah wilayah besar di Vietnam Selatan ditetapkan sebagai medan perang.

Pasukan Amerika melakukan strategi ofensif dengan target membunuh sebanyak-banyaknya pasukan Vietnam Utara. Dengan kata lain, pasukan Amerika cenderung mengabaikan keamanan wilayahnya.

Di pihak lain, Vietnam Utara tidak gentar terhadap serangan-serangan yang dilancarkan Vietnam Selatan-Amerika. Vietnam Utara saat itu juga mendapat bantuan dari Uni Soviet dan China. Alhasil, mereka dapat menduduki sejumlah wilayah yang terlepas dari kekuasaan Vietnam Selatan.

Pasukan Amerika Mengalami Kemunduran

Meski, di tahun 1967, Amerika Serikat kembali mengerahkan pasukan hingga bertambah menjadi 500 ribu orang, pada tahun-tahun berikutnya mereka mengalami kemunduran. Kemunduran ini terjadi karena beberapa faktor penyebab.

Saat itu, Washington mengumumkan perang telah dimenangkan oleh piha Amerika-Vietnam Selatan. Namun, di sisi lain, pemerintah Amerika masih menempatkan pasukannya di Vietnam Selatan. Hal ini kemudian memunculkan keraguan bagi para pasukan.

Lebih dari itu, pasukan Amerika juga mengalami penurunan fisik dan psikologis. Bahkan, tidak sedikit pasukan Amerika yang mengalami depresi. 500 ribu pasukan Amerika itu pada akhirnya hidup terlantar.

Baca :   Sejarah Zaman Perundagian di Indonesia

Keterpurukan ini lantas memunculkan gerakan anti perang di badan pasukan Amerika. Di sisi lain, warga Amerika yang menyaksikan kengerian peperangan di wilayah Vietnam melalui sejumlah media (TV, misalnya) juga tertarik untuk menggaungkan gerakan anti perang.

gerakan anti perang

Pada Oktober 1967, sekitar 35 ribu warga menggelar aksi turun ke jalan memprotes pemerintah Amerika untuk menghentikan peperangan. Mereka beralasan peperangan itu mengakibatkan warga sipil Vietnam yang tak bersalah menjadi korban jiwa. Selain itu, Vietnam Selatan dinilai mendukung kediktatoran yang korup.

Gejolak internal yang terjadi di badan Amerika ini memberikan peluang bagi Vietnam Utara untuk memenangkan perang.

Vietnam Utara Melancarkan Serangan

Kesempatan emas ini tidak dibuang sia-sia oleh Vietnam Utara. Pasukan komunis Hanoi ini melakukan serangan bertubi-tubi ke Vietnam Selatan dan Amerika Serikat, pada Desember 1967. Serangkaian serangan ini dilakukan hingga akhir Januari 1968.

Akan tetapi, Vietnam Utara tidak bisa menguasai sejumlah kota yang ditargetkan dalam serangkaian serangan tersebut. sebab, sekalipun terkejut terhadap serangan Vietnam Utara, Vietnam Selatan dan Amerika juga melancarkan serangan balik dengan cepat.

Namun, Presiden Amerika, Lyndon B Johnson memilih untuk menghentikan pengeboman di sebagian besar wilayah Vietnam Utara. Bukan tanpa alasan, Presiden Johnson melakukan itu karena gerakan anti perang di Amerika semakin besar.

Presiden Johnson kemudian mencari jalan perdamaian dengan Vietnam Utara. Pasukan komunis Hanoi pun menyambut baik jalan perdamaian itu. Hingga akhirnya, pada Mei 1968, musyarawah terkait perdamaian antara Amerika dan Vietnam Utara dilakukan di Paris, Prancis. Namun, musyawarah tentang perdamaian ini berujung pada ‘jalan buntu’.

Amerika Melakukan Vietnamisasi

Lyndon B Johnson sudah tidak menjadi Presiden Amerika lagi dan digantikan oleh Richard M Nixon. Presiden Nixon yang mengetahui gerakan anti perang yang semakin besar di Amerika itu berusaha untuk ‘membisukannya’. Ia menarik dukungan dari warga Amerika yang memilih untuk diam (tidak mendukung anti perang dan tidak mendukung perang). Menurutnya, mereka akan bergabung dengan warga Amerika lainnya yang mendukung perang.

Di samping itu, Presiden Nixon juga melakukan Vietnamisasi bagi warga Vietnam Selatan. Dalam pelaksanaannya, Presiden Nixon melakukan penarikan pasukan Amerika di Vietnam, meningkatkan serangan udara dan memberi pelatihan militer warga Vietnam agar dapat ikut serta dalam perang darat. Sementara itu, tujuan dari Vietnamisasi tak lain adalah untuk menekan jumlah korban jiwa pasukan Amerika dalam peperangan ini.

Presiden Nixon juga terus bermusyawarah terkait perdamaian dengan Vietnam Utara. Sementara itu, sebagai syarat perdamaian, Vietnam Utara meminta Presiden Nixon untuk menarik semua pasukannya yang ada Vietnam. Pada akhirnya, musyawarah tentang perdamaian ini kembali mengalami jalan buntu.

Amerika Melakukan Pembunuhan Massal di My Lai

Pada Maret 1968, Pasukan Amerika Serikat melakukan pembunuhan massal di sebuah desa di Vietnam, desa My Lai. Pembunuhan massal ini mengarah para warga sipil sebanyak 400 ribu orang.

Pembunuhan massal yang dilakukan pasukan Amerika ini memancing gerakan anti perang untuk terus menggaungkan misinya. Pada tahun 1968 hingga 1969, ratusan pawai protes digelar, sejumlah pertemuan juga diadakan.

Pada 15 November 1969, aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh waga Amerika yang tergabung dalam gerakan anti perang membanjiri Washington. Diketahui, lebih dari 250 ribu orang yang berpartisipasi pada aksi turun ke jalan itu. Tuntutan mereka sama sebagaimana sebelumnya, yakni meminta dilakukannya penarikan pasukan Amerika yang ada di Vietnam.

Gerakan Anti Perang Terus Mengecam

Pada tahun 1970, Vietnam Selatan dan Amerika Serikat melakukan penyerbuan ke Kamboja. Kamboja sendiri, saat itu, merupakan negara pemasok utama bagi Vietnam Utara. Namun, penyerbuan kedua negara tersebut berhasil ditumpas oleh Vietnam Utara.

Baca :   Sejarah Perang Bubat: Latar Belakang-Dampak Perang

Penyerbuan ke negara lain ini kembali memicu gerakan anti perang di Amerika semakin lantang menyuarakan misinya. Aksi protes meledak di berbagai kampus di Amerika.

Aksi protes ini juga menjatuhkan korban jiwa di pihak mahasiswa. Pada 4 Mei 1970, anggota National Guardsmen (Garda Nasional Amerika Serikat) menembak empat mahasiswa di Kent State University di Ohio. Keempat mahasiswa itu tewas. Di samping itu, polisi juga menembak dua mahasiswa di Jackson State University di Mississippi.

Pada Juni 1972, sempat terjadi penyusunan perundingan perjanjian damai antara pihak Vietnam Utara dengan perwakilan Menteri Luar Negeri Amerika Henry Kissinger. Namun, di pihak lain, yakni Vietnam Selatan menolak penyusunan perundingan perjanjian damai itu.

Lebih lanjut, Presiden Amerika Richard M Nixon justru menyetujui rencana serangan bom yang menyasar ke Ibu Kota Vietnam Utara, Hanoi dan Haiphong. Keputusan Presiden Nixon itu membuat dunia internasional mengecamnya.

Akhir Sejarah Perang Vietnam

Dampak kerusakan perang Vietnam

Akhirnya, pada Januari 1973, Vietnam Utara dan Amerika Serikat-Vietnam Selatan menuntaskan kesepakatan untuk berdamai. Seharusnya, kesepakatan berdamai ini sekaligus mengakhiri peperangan antara kedua belah pihak.

Akan tetapi, pada 30 April 1975, Vietnam Utara dan Vietnam kembali terlibat dalam peperangan. Vietnam Utara berhasil memenangkan peperangan itu dan merebut Ibu Kota Vietnam Selatan, Saigon. Saigon pun diganti namanya menjadi Kota Ho Chi Minh. Diketahui, Ho Chi Minh sendiri telah meninggal pada tahun 1969.

Perang Vietnam antara dua pihak yang memiliki ideologi berbeda ini menyebabkan kerugian banyak di berbagai sektor. Secara sosial, perang ini menewaskan 2 juta orang Vietnam, 3 juta orang terluka dan 12 juta orang mengungsi di tempat yang aman. Secara ekonomi, perang ini membuat ekonomi negara mengalami keterpurukan. Sementara secara fisik, perang ini membumiratakan infrastruktur-infrastruktur negara.

Pada tahun 1976, wilayah Vietnam bersatu menjadi Republik Sosialis Vietnam. Namun, sekalipun bersatu, masih saja ada konflik dan kekerasan hingga 15 tahun lamanya. Kebijakan free market yang diberlakukan pada tahun 1986 mendorong perekonomian Vietnam ke arah yang lebih baik. Selain itu, perekonomian Vietnam juga ditopang oleh masuknya modal asing dan penghasilan ekspor minyak. Lebih lanjut, pada tahun 1990-an, Vietnam telah menjalin hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Di pihak lain, perang Vietnam juga membuat Amerika Serikat mengalami inflasi pada tahun 1973. Sebab, Negeri Paman Sam itu menggelotorkan dana yang sangat besar, yakni 120 miliar USD, untuk mendukung peperangan. Terlebih, di tahun yang sama, dunia sedang mengalami krisis minyak.

Secara psikologis, anggapan Amerika merupakan negara yang tak pernah terkalahkan dalam peperangan diruntuhkan oleh Vietnam Utara. Lebih dari itu, warga Amerika yang mendukung gerakan anti perang menilai para pasukan Amerika telah membunuh warga sipil Vietnam yang tidak bersalah. Sementara itu, warga yang mendukung perang merasa kecewa karena pasukan Amerika tidak mampu mengalahkan Vietnam Utara.

Tugu Peringatan Veteran Vietnam

Amerika kemudian mendirikan Tugu Peringatan Veteran Vietnam untuk mengenang jasa-jasa para veteran dalam peperangan di Vietnam. Tugu itu diresmikan pada tahun 1982. Di sana, tertulis 58.200 ‘pejuang’ Amerika yang gugur dan hilang dalam peperangan di Vietnam.

Demikian pembahasan tentang sejarah perang Vietnam, mulai dari latar belakang hingga akhir peperangan. Semoga pembahasan sejarah perang Vietnam di atas bermanfaat untuk Anda.

You may also like

Leave a Comment